ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Bahlil Nostalgia Masa Kecil Tanpa Listrik, Hidup dengan Lampu Pelita

Sabtu, 20 Juni 2026 | 17:37 WIB
MY
SM
Penulis: Muharom Adi Yuliarta | Editor: SMR
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia foto bersama warga saat meninjau program listrik desa di Dusun Krembeng, Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Jumat, 19 Juni 2026.
Menteri ESDM Bahlil Lahadalia foto bersama warga saat meninjau program listrik desa di Dusun Krembeng, Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Jumat, 19 Juni 2026. (Beritasatu.com/Muharom Adi Yuliarta)

Purworejo, Beritasatu.com – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mendadak bernostalgia saat meninjau program listrik desa (lisdes) dan bantuan pasang baru listrik (BPBL) gratis di Dusun Krembeng, Desa Hardimulyo, Kecamatan Kaligesing, Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Jumat (19/6/2026). Bahlil mengenang kehidupan masa kecilnya tanpa akses listrik di kampung halamannya di Papua. 

Bahlil mengatakan listrik merupakan kebutuhan dasar yang berkaitan langsung dengan kualitas pendidikan, layanan kesehatan, dan peningkatan taraf hidup masyarakat. Pengalaman masa kecilnya menjadi alasan pemerintah mempercepat pemerataan akses energi di seluruh wilayah Indonesia.

"Saya juga lahir tidak ada listrik. Saya SD kelas 6 baru ada listrik. Belajarnya pakai lampu pelita," kata Bahlil.

ADVERTISEMENT

Menteri ESDM itu mengaku lahir dan besar di lingkungan yang belum tersentuh jaringan listrik. Aktivitas sehari-hari, termasuk belajar, dilakukan dengan fasilitas yang sangat terbatas.

Bahlil mencontohkan kondisi yang pernah dialaminya saat kecil. Aktivitas belajar pada malam hari hanya mengandalkan cahaya lampu pelita berbahan minyak yang diletakkan dalam kaleng sederhana dengan sumbu.

"Kalau orang melahirkan dan tidak dibawa ke rumah sakit, penerangannya hanya lampu pelita atau petromaks. Risikonya besar sekali," ujarnya.

Pengalaman tersebut, kata Bahlil, menguatkan komitmennya untuk memperluas akses listrik sejak mendapat amanah memimpin Kementerian ESDM. Menurut dia, penyediaan listrik bagi masyarakat merupakan salah satu bentuk nyata kehadiran negara.

Ia menegaskan akses listrik tidak boleh hanya dinikmati masyarakat perkotaan. Warga di desa, dusun, pegunungan, hingga wilayah kepulauan harus memperoleh hak yang sama.

Data pemerintah menunjukkan masih terdapat sekitar 5.700 desa dan 4.400 dusun di Indonesia yang belum menikmati layanan listrik secara optimal.

Kondisi itu, menurut Bahlil, tidak hanya terjadi di kawasan Indonesia timur. Sejumlah wilayah di Pulau Jawa yang dianggap telah berkembang juga masih memiliki permukiman yang belum terjangkau listrik secara memadai.

"Ini sebagai potret bahwa listrik itu tidak hanya milik orang kota. Di daerah Jawa yang dekat dengan Jakarta pun masih ada kondisi seperti ini," katanya.

Melalui program lisdes, pemerintah terus mempercepat pembangunan jaringan listrik hingga ke wilayah yang selama ini sulit dijangkau. Sepanjang 2025, program tersebut telah menjangkau sekitar 1.361 desa dan dusun dengan dukungan anggaran sebesar Rp 3,6 triliun.

Pemerintah meningkatkan alokasi anggaran program lisdes menjadi Rp 10,3 triliun pada 2026 untuk memperluas jangkauan layanan.

Bahlil menyadari pembangunan jaringan listrik di daerah terpencil tidak selalu menguntungkan secara bisnis. Investasi untuk melayani puluhan kepala keluarga di suatu dusun bahkan dapat mencapai ratusan juta rupiah.

Namun, menurut dia, negara tidak boleh semata-mata menggunakan pendekatan ekonomi dalam memberikan pelayanan dasar kepada masyarakat.

"Pemerintah membangun tidak boleh berhitung bisnis. Tugas negara adalah melayani rakyat," tegasnya.

Di hadapan masyarakat, Bahlil menyampaikan pesan bahwa keterbatasan bukan penghalang untuk meraih cita-cita. Anak-anak yang tumbuh di desa dan daerah terpencil, menurut dia, memiliki peluang yang sama untuk menjadi pemimpin bangsa apabila memperoleh akses pendidikan dan kesempatan yang memadai.

"Saya tidak pernah membayangkan bisa menjadi menteri ESDM. Saya anak kampung di Papua yang dulu hidup tanpa listrik," ujarnya.

Bahlil berharap generasi muda yang tinggal di wilayah pelosok dapat memperoleh kesempatan lebih baik dibanding generasinya dahulu. Pemerataan listrik, kata dia, menjadi fondasi penting untuk membuka akses pendidikan, teknologi, dan informasi.

"Saya tidak ingin apa yang saya rasakan dahulu sebagai anak yang lahir di kampung tanpa listrik masih dirasakan oleh generasi berikutnya. Kita tidak pernah tahu anak-anak yang lahir di kampung tanpa listrik itu nanti akan menjadi apa. Bisa saja suatu saat mereka menjadi presiden atau menteri seperti saya," pungkasnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Bahlil Sebut Konversi LPG ke CNG Masih Dikaji

Bahlil Sebut Konversi LPG ke CNG Masih Dikaji

EKONOMI
Bahlil Targetkan Desa Tanpa Listrik Tuntas Bertahap hingga 2027

Bahlil Targetkan Desa Tanpa Listrik Tuntas Bertahap hingga 2027

NASIONAL
Harga Pertamax Bisa Turun, Ini Syarat dari Bahlil

Harga Pertamax Bisa Turun, Ini Syarat dari Bahlil

EKONOMI
Bantah Listrik Padam karena Batu Bara, Bahlil Ultimatum PLN

Bantah Listrik Padam karena Batu Bara, Bahlil Ultimatum PLN

EKONOMI
Bahlil Siapkan Rp 10,3 T untuk Terangi Seluruh Dusun di Indonesia

Bahlil Siapkan Rp 10,3 T untuk Terangi Seluruh Dusun di Indonesia

EKONOMI
Bahlil Tinjau Program Listrik Gratis untuk Desa yang Masih Gelap

Bahlil Tinjau Program Listrik Gratis untuk Desa yang Masih Gelap

EKONOMI

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon