Strategi Industri Farmasi Hadapi Lonjakan Harga Bahan Baku Obat
Sabtu, 20 Juni 2026 | 20:15 WIB
Semarang, Beritasatu.com - PT Phapros Tbk menyiapkan berbagai langkah strategis untuk meredam dampak kenaikan harga bahan baku obat yang dipicu gejolak geopolitik global dan penguatan dolar Amerika Serikat terhadap rupiah.
Direktur Keuangan, Manajemen Risiko, dan SDM PT Phapros Ferdinand Troedu mengatakan, tekanan terhadap biaya produksi mulai dirasakan perusahaan karena sebagian besar bahan baku yang digunakan masih berasal dari impor.
“Untuk Phapros, kami melihat dampaknya sudah ada dan memang terjadi, di mana sebagian bahan baku kami mayoritas masih impor,” kata Ferdinand dikutip dari Antara, Sabtu (20/6/2026).
Menurutnya, kenaikan harga terjadi baik pada bahan baku impor langsung maupun tidak langsung. Untuk menjaga stabilitas biaya produksi, perusahaan menempuh sejumlah langkah, termasuk melakukan renegosiasi dengan pemasok.
“Untuk mengatasi itu, kami menempuh berbagai cara, salah satunya yang langsung adalah renegosiasi atau reprofiling supplier bahan baku,” ujarnya.
Ferdinand menjelaskan renegosiasi dilakukan melalui kontrak jangka panjang maupun peningkatan volume pembelian guna memperoleh harga yang lebih kompetitif. Selain itu, perusahaan juga mencari pemasok alternatif untuk memperluas pilihan dan memperkuat posisi tawar.
“Yang kedua adalah kami juga mencari alternatif sumber pemasok yang lain. Jadi, kami mencari pilihan alternatif supaya ada tawar menawar. Ketiga, kami melakukan efisiensi dalam hal produksi,” katanya.
Ia menegaskan efisiensi yang dilakukan bukan berarti mengurangi kapasitas produksi, melainkan menekan berbagai biaya melalui proses operasional yang lebih efektif dan produktif.
Sementara itu, Direktur Produksi PT Phapros Ida Rahmi Kurniasih mengatakan, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memberikan ruang bagi industri farmasi untuk menyesuaikan harga di tengah tekanan biaya akibat kondisi global.
“Kementerian Kesehatan menyampaikan kenaikan harga obat 10%-20% masih bisa diterima. Artinya, itu level acceptance pemerintah menyikapi situasi konflik geopolitik maupun kenaikan dolar. Jadi, kami sangat mendukung itu,” katanya.
Selain itu, Phapros juga memperkuat penggunaan komponen dalam negeri guna mengurangi ketergantungan terhadap bahan baku impor. Salah satu langkah yang telah dilakukan adalah mengganti penggunaan garam natrium klorida (NaCl) impor dengan produk lokal.
“Kalau mau bikin Oralit, garam NaCl-nya dahulu impor. Sekarang pemerintah menguatkan TKDN dan mendukung produsen bahan baku dalam negeri. Untuk Phapros, semua produk yang menggunakan NaCl sudah ganti ke lokal,” ujar Ida.
Saat ini Phapros merupakan bagian dari ekosistem industri farmasi nasional dengan 56,7% saham dimiliki oleh Kimia Farma sebagai pemegang saham mayoritas. Sebagai anggota Kimia Farma Group, Phapros juga berada dalam holding BUMN farmasi yang dipimpin oleh Bio Farma.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
TNI AL Perkuat Armada Laut dengan Kapal Nirawak Buatan RI
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Pemadaman Listrik di Surabaya Sempat Ganggu Stasiun dan Fasilitas Umum




