ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Seruan Masyayikh: Munas dan Konbes NU Harus Jaga Tradisi Pesantren

Sabtu, 20 Juni 2026 | 20:33 WIB
MM
SM
Penulis: Moh. Muajijin | Editor: SMR
Silaturahmi masyayikh dan kiai sepuh NU di Ponpes Ploso, Kediri, Sabtu, 20 Juni 2026.
Silaturahmi masyayikh dan kiai sepuh NU di Ponpes Ploso, Kediri, Sabtu, 20 Juni 2026. (Beritasatu.com/Muajijin)

Kediri, Beritasatu.com – Sejumlah masyayikh, alim ulama, kiai sepuh, pengasuh pondok pesantren, serta mantan Wakil Presiden KH Ma’ruf Amin menghadiri silaturahim di kediaman KH Abdurahman Al Kautsar, salah satu pengasuh Pondok Pesantren (Ponpes) Ploso, Kediri, Jawa Timur, Sabtu (20/6/2026). Pertemuan tersebut berlangsung menjelang pembukaan Musyawarah Nasional (Munas) dan Konferensi Besar (Konbes) Nahdlatul Ulama 2026 di Pondok Pesantren Ploso.

Para masyayikh dan kiai sepuh menyampaikan pernyataan seruan bersama dalam forum Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso, setelah mencermati berbagai perkembangan menjelang penyelenggaraan Munas dan Konbes NU.

Pengasuh Pondok Pesantren Ploso Kediri KH Abdurahman Al-Kautsar menyampaikan bahwa para masyayikh memberikan arahan untuk menjaga khittah, muruah, persatuan, serta keberlangsungan peran Nahdlatul Ulama sebagai jam’iyah diniyah ijtima’iyah yang lahir dan tumbuh dari pesantren.

ADVERTISEMENT

“Para masyayikh berharap dan memohon agar Musyawarah Nasional Alim Ulama dan Konferensi Besar Nahdlatul Ulama diselenggarakan dengan penuh kebijaksanaan, kehati-hatian, dan tanggung jawab, serta tidak membahas maupun menetapkan materi-materi yang berpotensi mengurangi, menggeser, atau menjauhkan hubungan historis, kultural, dan spiritual antara Nahdlatul Ulama dengan para masyayikh dan pondok pesantren,” kata KH Abdurahman Al-Kautsar.

Para masyayikh juga meminta agar pengaturan syarat dan mekanisme pemilihan anggota Ahlul Halli Wal Aqdi (AHWA) tetap menjaga karakter forum keulamaan yang bertumpu pada kedalaman ilmu, keteladanan akhlak, keluasan pengabdian, serta pengakuan keulamaan di lingkungan Nahdlatul Ulama.

Usulan penambahan syarat calon anggota AHWA yang mewajibkan pengurus syuriyah dan berbasis representasi kewilayahan diminta untuk dibatalkan. Usulan perubahan larangan rangkap jabatan politik juga diminta dibatalkan.

“Para masyayikh memandang bahwa pesantren merupakan rumah besar Nahdlatul Ulama, pusat transmisi ilmu, akhlak, tradisi, dan kepemimpinan keulamaan yang menjadi fondasi utama jam’iyah. Oleh karena itu, para masyayikh berharap agar Muktamar Nahdlatul Ulama Tahun 2026 diselenggarakan di lingkungan pondok pesantren sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah, tradisi, serta mata rantai keilmuan yang selama ini menjadi sumber kekuatan Nahdlatul Ulama dalam mengabdi kepada agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan,” tambah Gus Kautsar.

Para masyayikh juga menyerukan kepada seluruh peserta, penyelenggara, pimpinan, serta seluruh unsur Nahdlatul Ulama yang terlibat dalam Munas dan Konbes agar menjaga ketertiban, akhlak, adab musyawarah, serta mengedepankan persatuan dan kesatuan jam’iyah.

“Para masyayikh meyakini bahwa penghormatan kepada ulama, penguatan peran pesantren, dan terjaganya persatuan merupakan modal utama bagi Nahdlatul Ulama untuk terus menjalankan khidmahnya bagi agama, bangsa, negara, dan kemanusiaan,” ujar Gus Kautsar.

Daftar para masyayikh yang hadir dalam Forum Ramah Tamah Masyayikh Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Al-Falah Ploso.

1. KH Nurul Huda Jazuli (PP Ploso/Mustasyar PBNU)

2. KH Anwar Manshur (PP Lirboyo/Mustasyar PBNU)

3. KH A. Kafabihi Mahrus (PP Lirboyo/Rais Syuriyah PBNU)

4. KH Ma’ruf Amin (PP An Nawawi Tanara Banten/Mustasyar PBNU)

5. KH Said Aqil Siroj (PP Al-Tsaqafah Jakarta/Mustasyar PBNU)

6. KH Muhammad Khalil As’ad (PP Wali Songo Situbondo)

7. KH Abdullah Ubab Maimoen (PP Al Anwar Sarang/Mustasyar PBNU)

8. KH Ali Akbar Marbun (PP Al-Kautsar Medan/Syuriah PBNU)

9. KH Ubaidillah Shodaqoh (PP Al-Itqan Tlogosari/Rais Syuriyah PWNU Jateng)

10. KH Ali Kholil (Rais Syuriyah PWNU Kaltim)

11. Prof Dr KH Asep Saifuddin Chalim (PP Amanatul Ummah/Ketum Perguni PBNU)

12. KH Ah Syatibi Hambali (PP Qotrotul Falah/Rais Syuriah PWNU Banten)

13. KH Mas’ud Masduqi (Rais Syuriyah PWNU DIY).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Munas dan Konbes NU 2026

Prabowo Dijadwalkan Hadiri Munas dan Konbes NU 2026

NASIONAL
Jelang Munas-Konbes NU di Kediri, Nama Menag Nasaruddin Umar Mencuat

Jelang Munas-Konbes NU di Kediri, Nama Menag Nasaruddin Umar Mencuat

NASIONAL

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon