Harga Emas Dunia Menuju Penurunan Tiga Minggu Beruntun
Sabtu, 20 Juni 2026 | 05:04 WIB
London, Beritasatu.com – Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Jumat (19/6/2026) waktu setempat dan berpotensi mencatat penurunan mingguan untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Tekanan terhadap logam mulia tersebut dipicu penguatan dolar Amerika Serikat (AS) serta ekspektasi kebijakan suku bunga tinggi Federal Reserve (The Fed) yang diperkirakan bertahan lebih lama.
Harga emas spot turun 0,9% menjadi US$ 4.169,44 per ons troy. Sebelumnya, emas sempat menyentuh level terendah sejak 11 Juni 2026 di US$ 4.119,78 per ons troy.
Selain itu, harga emas telah bergerak di bawah rata-rata pergerakan 200 hari sejak 5 Juni. Sementara itu, kontrak emas berjangka AS turun 1,4% menjadi US$ 4.186,50 per ons troy.
Pelemahan juga terjadi pada logam mulia lainnya. Harga perak turun 1,1% menjadi US$ 65,11 per ons troy, platinum melemah 1,7% ke level US$ 1.667,14 per ons troy, dan paladium terkoreksi 1,9% menjadi US$ 1.254,69 per ons troy. Ketiga logam tersebut juga menuju penurunan mingguan.
Penguatan dolar AS menjadi salah satu faktor utama yang membebani harga emas karena membuat komoditas berbasis dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain.
Analis senior Tradu.com Nikos Tzabouras menilai emas masih menghadapi risiko penurunan lebih lanjut hingga memasuki wilayah pasar bearish yang lebih dalam.
“Emas menghadapi risiko yang cukup besar untuk turun lebih dalam dan menembus level US$ 4.000 per ons troy karena masih berada dalam lingkungan pasar yang menantang,” ujar Tzabouras dikutip Reuters.
Ia menambahkan, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed dalam periode yang lebih panjang menjadi sentimen negatif bagi aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, sekaligus mendukung penguatan dolar AS.
Berdasarkan proyeksi terbaru The Fed yang dirilis pekan ini, sebanyak sembilan dari 19 pembuat kebijakan memperkirakan suku bunga acuan masih perlu dinaikkan pada tahun ini. Meski demikian, bank sentral AS tersebut tetap mempertahankan suku bunga pada kisaran 3,50%–3,75%.
Data CME FedWatch Tool menunjukkan pelaku pasar saat ini memperkirakan peluang sekitar 70% bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga pada September 2026.
Tzabouras menambahkan, arah pergerakan emas selanjutnya akan sangat dipengaruhi perkembangan negosiasi antara AS dan Iran, data inflasi AS yang akan dirilis pekan depan, serta ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter The Fed.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
AS Sebut Tak Ada Bukti Iran Kembali Tutup Selat Hormuz
B-FILES
Diplomasi Internasional demi Benefit Nasional
Khamami Zada
Negara yang Ikut Berkurban
Timothy Ivan Triyono
Prabowo Minta Masa Tunggu Haji Lebih Singkat dari Saat Ini




