ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Tawaran Tiongkok di Pasifik Berpotensi Kacaukan Kawasan

Jumat, 27 Mei 2022 | 14:11 WIB
UW
UW
Penulis: Unggul Wirawan | Editor: WIR
Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare (kiri) dan Perdana Menteri China Li Keqiang menghadiri upacara penandatanganan di Aula Besar Rakyat di Beijing pada 9 Oktober 2019. 
Perdana Menteri Kepulauan Solomon Manasseh Sogavare (kiri) dan Perdana Menteri China Li Keqiang menghadiri upacara penandatanganan di Aula Besar Rakyat di Beijing pada 9 Oktober 2019.  (AFP/Thomas Peter)

Washington, Beritasatu.com- Tawaran Tiongkok kepada negara-negara di Pasifik berpotensi mengacaukan kawasan. Amerika Serikat (AS) menuding Beijing mungkin menggunakan kesepakatan yang diusulkan untuk mengambil keuntungan.

Seperti dilaporkan AP, Kamis (26/5/2022), juru bicara Departemen Luar Negeri AS Ned Price menyatakan keprihatinan tawaran kerja sama Tiongkok pada negara-negara di Pasifik.

Price mengatakan Beijing mungkin menggunakan kesepakatan yang diusulkan untuk mengambil keuntungan dari pulau-pulau itu.

Baca Juga: Polisi Tiongkok Bantu Tingkatkan Kemampuan Kepulauan Solomon

ADVERTISEMENT

"Kami khawatir bahwa kesepakatan yang dilaporkan ini dapat dinegosiasikan dalam proses yang terburu-buru dan tidak transparan," kata Price kepada wartawan.

Price memperingatkan bahwa Tiongkok memiliki pola penawaran bayangan, kesepakatan yang tidak jelas dengan sedikit transparansi atau konsultasi regional di bidang yang terkait dengan penangkapan ikan, terkait dengan pengelolaan sumber daya, pengembangan, bantuan pembangunan, dan baru-baru ini bahkan praktik keamanan.

Tiongkok ingin 10 negara Pasifik kecil untuk mendukung perjanjian menyeluruh yang mencakup segala hal mulai dari keamanan hingga perikanan. Perjanjian itu diperingatkan sebagai upaya "pengubah permainan" oleh Beijing untuk merebut kendali atas wilayah tersebut.

Baca Juga: AS Peringatkan Dampak Kehadiran Militer Tiongkok di Kepulauan Solomon

Draf perjanjian yang diperoleh The Associated Press menunjukkan bahwa Tiongkok ingin melatih petugas polisi Pasifik, bekerja sama dalam "keamanan tradisional dan non-tradisional" dan memperluas kerja sama penegakan hukum.

Tiongkok juga menyebutkan kemungkinan membentuk kawasan perdagangan bebas dengan negara-negara Pasifik. Langkah Tiongkok itu dilakukan saat Menteri Luar Negeri Wang Yi dan delegasi yang terdiri dari 20 orang memulai kunjungan ke wilayah tersebut minggu ini.

Wang mengunjungi tujuh negara yang diharapkan akan mendukung "Visi Pembangunan Bersama" yakni Kepulauan Solomon, Kiribati, Samoa, Fiji, Tonga, Vanuatu dan Papua Nugini.

Baca Juga: Buntut Kesepakatan Tiongkok-Solomon, Kebijakan LN Australia Dituding Gagal

Wang juga mengadakan pertemuan virtual dengan tiga penandatangan potensial lainnya yakni Kepulauan Cook, Niue, dan Negara Federasi Mikronesia. Dia berharap negara-negara akan mendukung perjanjian pra-tertulis sebagai bagian dari komunike bersama setelah pertemuan 30 Mei di Fiji yang dia adakan dengan para menteri luar negeri dari masing-masing dari 10 negara.

Presiden Mikronesia, David Panuelo, telah mengatakan kepada para pemimpin negara-negara Pasifik lainnya bahwa negaranya tidak akan mendukung rencana tersebut, memperingatkan bahwa hal itu akan meningkatkan ketegangan geopolitik dan mengancam stabilitas regional, menurut surat dari Panuelo yang diperoleh AP.

Di antara kekhawatiran lain, kata Panuelo, perjanjian itu membuka pintu bagi Tiongkok untuk memiliki dan mengendalikan infrastruktur perikanan dan komunikasi di kawasan itu. Dia mengatakan Tiongkok dapat mencegat email dan mendengarkan panggilan telepon.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon