ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Dari Bengkel Desa, Bambu Banjarnegara Tembus Pasar Eropa

Minggu, 14 Desember 2025 | 16:29 WIB
PA
JS
Penulis: Pujud Andriastanto | Editor: JJS
Perajin Bambu di Banjarnegara, dari bengkel desa kini menembus pasar Eropa.
Perajin Bambu di Banjarnegara, dari bengkel desa kini menembus pasar Eropa. (Beritasatu.com/Pujud Andriastanto)

Banjarnegara, Beritasatu.com - Di sebuah sudut Desa Derik, Kecamatan Susukan, Kabupaten Banjarnegara, bunyi ketukan bambu yang beradu dengan mata pahat menjadi irama harian. Dari bengkel sederhana beratap seng itulah, lahir karya-karya bambu yang kini telah melintasi samudra, menuju pasar Eropa.

Di balik karya tersebut berdiri Ade Masgun, seorang perajin bambu yang mungkin tak pernah membayangkan bahwa bambu di pekarangan desa bisa mengantarkannya ke panggung internasional.

Usaha Ade Masgun bermula pada 2019, saat memutuskan mengolah bambu yang selama ini hanya dipandang sebagai bahan bangunan tradisional. Dengan ketekunan, bambu ia sulap menjadi berbagai furniture fungsional dan estetis.

ADVERTISEMENT

“Di sini kami memproduksi gazebo, aneka furniture seperti meja-kursi, lemari, sampai tempat cermin. Semua murni dari bambu,” ujar Ade Masgun kepada wartawan, Minggu (14/12/2025).

Dari tangan-tangan terampil di bengkel kecil itu, bambu berubah menjadi produk bernilai ekonomi yang terus berkembang.

Baginya, kreativitas tidak berhenti pada produk utama. Ia memiliki prinsip sederhana yaitu tidak ada bambu yang layak dibuang.

“Saya tidak ingin ada sisa bambu yang terbuang. Dari potongan bambu, saya buat lagi jadi gelas atau tempat pensil. Semua bisa dimanfaatkan,” tuturnya.

Prinsip zero waste ini tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga memperluas ragam produk yang bisa dipasarkan.

Keuletan dan konsistensi perlahan membuka pintu yang lebih besar. Furniture bambu buatan Ade Masgun mulai menarik minat pembeli luar negeri. Produk-produknya bahkan telah sampai ke Belanda dan Prancis, meski masih melalui perusahaan perantara.

“Beberapa furniture sudah sampai ke Belanda dan Prancis. Memang masih undername, tetapi ini jadi langkah awal yang bagus,” jelasnya.

Sementara itu, produk seperti gazebo dan kerajinan tangan masih dipasarkan di dalam negeri.

Perbedaan pasar membuat nilai jual produk ikut melesat. Set meja-kursi bambu yang di Banjarnegara dijual sekitar Rp 800.000 hingga Rp 1 juta, bisa bernilai hingga Rp 3 juta ketika dikirim ke luar negeri.

“Untuk lokal antara Rp 800.000 sampai Rp 1 juta. Namun, kalau ekspor bisa Rp 3 juta per set. Kalau dikerjakan sendiri biasanya butuh waktu seminggu,” ungkapnya.

Meningkatnya permintaan membuat Ade Masgun tidak bisa bekerja sendiri. Ia mulai menggandeng perajin lain di desanya. Bengkel bambu sederhana itu pun berubah menjadi roda kecil penggerak ekonomi lokal. Setiap pesanan berarti lapangan kerja tambahan dan penghasilan bagi warga sekitar.

Banjarnegara sejatinya dianugerahi kekayaan bambu dengan beragam jenis, seperti bambu wulung dan bambu tali, bahan berkualitas tinggi yang selama ini belum dimanfaatkan maksimal.

Ia berharap, semakin banyak anak muda dan pelaku kreatif berani melihat bambu sebagai peluang, bukan sekadar tanaman pinggir kebun.

Dari bengkel sederhana di pelosok desa, karya Ade Masgun membuktikan bahwa bambu Banjarnegara bukan sekadar bahan tradisional.

Ia adalah komoditas kreatif bernilai global yang mampu berlayar hingga Eropa, sekaligus mengharumkan nama desa tempatnya tumbuh.

“Bambu di Banjarnegara ini melimpah, jenisnya juga banyak. Tinggal kemauan kita untuk mengolahnya. Harapan saya, teman-teman pelaku kreatif di Banjarnegara terus berkarya dan berani menembus pasar lebih luas,” tutupnya.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon