ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Fenomena Rojali-Rohana, Tommy Kurniawan: Alarm Daya Beli Masyarakat

Jumat, 1 Agustus 2025 | 18:30 WIB
CF
RA
Penulis: Chairul Fikri | Editor: RP
 Tommy Kurniawan soroti maraknya fenomena rojali dan rohana di masyarakat yang dirasakan dunia usaha saat ini.
Tommy Kurniawan soroti maraknya fenomena rojali dan rohana di masyarakat yang dirasakan dunia usaha saat ini. (BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal/Mohammad Defrizal)

Jakarta, Beritasatu.com- Artis dan anggota DPR Tommy Kurniawan ikut menyoroti fenomena rojali (rombongan jarang beli) dan  rohana (rombongan hanya nanya) yang saat ini marak di masyarakat dan dunia usaha.

Tommy menilai,  kemunculan fenomena tersebut menjadi alarm alias tanda peringatan atas melemahnya daya beli masyarakat.


"Tidak bisa menutup mata, kehadiran rojali dan rohana karena ini merupakan cerminan kondisi masyarakat Indonesia. Fenomena ini menunjukkan alarm pelemahan daya beli masyarakat yang harus segera disikapi,” ucap Tommy saat ditemui di Jakarta, Kamis (31/7/2025).

ADVERTISEMENT


Menurutnya, untuk mengatasi kondisi ini, harus dilakukan penguatan terhadap sektor rumah tangga serta inovasi pelayanan ekonomi terhadap masyarakat yang tujuannya untuk meningkatkan daya beli masyarakat.

Tommy merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat pertumbuhan konsumsi rumah tangga pada kuartal I 2025 hanya sebesar 4,87%, lebih rendah dibandingkan periode yang sama pada 2024 sebesar 4,91%. Padahal, sebelum pandemi Covid-19, laju konsumsi rumah tangga mampu tumbuh hingga 5,4%.

Konsumsi rumah tangga menjadi faktor krusial, karena menjadi kontributor terbesar produk domestik bruto (PDB) nasional lebih dari 52%. Sehingga penurunan ini berdampak langsung terhadap ekonomi nasional.

"Fenomena ini menunjukkan masyarakat sudah semakin berhati-hati dalam membeli produk. Jika sebelumnya membeli produk tanpa banyak pertimbangan, saat ini masyarakat cenderung banyak pertimbangan sebelum pembelian. Selain itu mungkin juga harga yang cenderung mahal di kondisi saat ini, sehingga menjadi alasan utama masyarakat batal membeli sebuah produk," jelas Tommy.

Selain itu, ia menilai tren belanja di platform daring ikut mendorong maraknya rojali dan rohana.


"Adanya peningkatan penjualan lewat beberapa aplikasi belanja online. Jadi datang ke pusat perbelanjaan biasanya hanya melihat bentuk fisik barangnya, tetapi membeli barangnya melalui online," tukasnya.

Anggota Partai Kebangkitan Banga (PKB) tersebut mencemaskan, jika fenomena ini terus berlanjut tanpa solusi, maka cepat atau lambat maka akan menghambat pertumbuhan ekonomi nasional.

"Pusat-pusat perbelanjaan sebaiknya juga meningkatkan pelayanan dan lakukan inovasi demi inovasi. Sehingga dapat membantu mempengaruhi daya beli masyarakat," pungkas Tommy.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA TERKAIT

Psikolog Ungkap Alasan di Balik Fenomena Rojali dan Rohana

Psikolog Ungkap Alasan di Balik Fenomena Rojali dan Rohana

LIFESTYLE

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon