ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

Viral Siswa Jadi SD Korban Bully Akibat Berbeda Keyakinan, DPR: Segera Telusuri!

Kamis, 6 Juli 2023 | 11:21 WIB
JS
SL
Penulis: Jayanty Nada Shofa | Editor: LES
Ilustrasi bullying pada anak.
Ilustrasi bullying pada anak.

Jakarta, Beritasatu.com - Wakil Ketua Komisi X DPR Hetifah Sjaifudian meminta agar dinas pendidikan setempat untuk segera menelusuri kebenaran laporan terkait adanya kasus bullying (perundungan) di sekolah akibat perbedaan keyakinan. Menurutnya, diskriminasi terhadap mereka yang berbeda keyakinan tidak dapat dibenarkan.

Sebagaimana diberitakan sebelumnya, seorang siswa SD penganut penghayat kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa menjadi korban bullying oleh murid lain, guru, hingga kepala sekolah di SDN Jomin Barat 2 Cikampek, Karawang.

"Harus segera ditelusuri kebenaran laporannya dan diklarifikasi duduk perkaranya oleh dinas pendidikan setempat. Apabila terbukti benar harus ditindak dengan tegas oleh dinas pendidikan setempat," ucap Hetifah kepada B Universe menanggapi berita tersebut lewat WhatsApp, Kamis (6/7/2023).

"Karena diskriminasi terhadap penghayat kepercayaan dan mereka yang berbeda keyakinan apalagi jika disertai dengan kekerasan tidak dapat dibenarkan. Bahkan bullying dengan alasan apapun di satuan pendidikan tidak bisa ditolerir," ucap Hetifah.

ADVERTISEMENT

Diketahui, kasus bullying ini diungkapkan oleh pegiat media sosial Ade Armando.

"Saya ingin berbagi cerita yang saya rasa akan membuat kita semua sedih. Ini berlangsung di sebuah sekolah dasar negeri, SDN Jomin Barat 2 Cikampek. Di sekolah itu ada seorang anak yang di-bully. Adalah seorang anak yang datang dari keluarga penganut kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa," kata Ade Armando dalam video yang diunggah akun Twitter pribadinya, @adearmando61 yang dikutip, Kamis (6/7/2023).

Ade menjelaskan bullying ini dialami siswa kelas 2 SD berinisial BB itu bahkan dilakukan oleh guru dan kepala sekolah. Guru dan kepala SDN Jomin Barat 2 Cikampek juga mewajibkan BB mengenakan jilbab. Meski telah mengenakan jilbab, BB tetap di-bully oleh teman-teman dan gurunya.

"Dan dia sudah mengenakan jilbab dia tetap di-bully karena kepercayaannya. Dia dicakar, dia diledek, dicaci maki, bahkan dipukul," ungkap Ade.

BB dipukul hingga berdarah pada bagian hidung. Orang tua BB yang tidak terima mendatangi sekolah untuk memprotes perlakuan yang dialami anaknya. Namun, pihak sekolah menganggap enteng bullying yang dialami BB.

"Orang tuanya tentu saja tidak terima. Orang tuanya datang ke sekolah dan memprotes. Guru dan kepala sekolah sekadar bilang, 'ah, itu biasa. Kelakuan anak-anak'. Orang tuanya akhirnya datang ke dinas pendidikan," ucap Ade.

Pihak dinas pendidikan telah mendatangi sekolah tersebut. Namun, tindakan bullying masih tetap terjadi sehingga orang tua BB terpaksa memindahkan sekolah anaknya ke sekolah lain.

"Kita berharap ini tidak lagi terjadi. Pemerintah harus secara tegas menindak guru dan kepala sekolah yang diskriminatif," tegasnya.



Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon