Kemarau Basah Ancam Petani, Pakar UGM Soroti Dampaknya
Selasa, 15 Juli 2025 | 07:39 WIB
Yogyakarta, Beritasatu.com – Fenomena kemarau basah tengah melanda berbagai wilayah di Indonesia dan memicu kekhawatiran di sektor pertanian. Curah hujan tinggi di musim kemarau ini menyebabkan gangguan serius, terutama pada aktivitas tanam petani yang mulai merasakan dampaknya.
Bayu Dwi Apri Nugroho yang merupakan pakar agrometeorologi UGM, menyebut, fenomena ini harus disikapi dengan kewaspadaan tinggi karena berpotensi menimbulkan gagal tanam di berbagai daerah.
“Merujuk pada informasi dari BMKG, kemarau basah diperkirakan berlangsung hingga Oktober 2024,” ujar Bayu Apri pada Senin (14/7/2025).
Menurutnya, kondisi tahun ini sangat berbeda dari biasanya. Bulan Mei hingga Juni yang umumnya digunakan petani untuk menanam hortikultura seperti cabai dan bawang merah, kini justru terganggu akibat curah hujan yang tinggi. Banyak lahan pertanian yang tergenang, sehingga tak bisa ditanami.
“Meningkatnya intensitas hujan menyebabkan banjir di lahan, dan berisiko tinggi menyebabkan gagal tanam bahkan puso,” jelas Apri.
Meski demikian, ia menilai kemarau basah bisa menjadi berkah bagi wilayah-wilayah yang selama ini kekurangan air, seperti Papua dan kawasan Indonesia Timur.
“Di daerah kering dan tadah hujan, peningkatan curah hujan bisa menguntungkan. Ketersediaan air meningkat, sehingga petani tetap bisa menanam,” tambahnya.
Untuk menghadapi situasi ini, Apri menekankan pentingnya strategi antisipatif. Ia mengimbau ada prediksi cuaca hingga tingkat desa agar masyarakat, khususnya petani, dapat mengambil keputusan tepat.
“Prediksi awal terjadinya La Niña bisa membantu perencanaan dan pengelolaan sektor pertanian, sumber daya air, kehutanan, dan lainnya agar kerugian bisa diminimalkan,” ungkapnya.
Apri juga menyoroti perlunya edukasi cuaca ekstrem melalui penyuluh pertanian. Ia mendorong pemerintah menyediakan asuransi pertanian untuk melindungi petani dari risiko gagal panen.
Selain itu, kesiapan infrastruktur pertanian seperti pompa air, jaringan irigasi, serta penggunaan benih tahan genangan seperti Inpara 1–10, Inpari 29, Inpari 30, dan Ciherang juga sangat penting untuk mendukung adaptasi terhadap kondisi cuaca yang tidak menentu.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




