ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT

RS Swasta Siap Dukung Pemerintah Menangani Pasien Covid-19

Sabtu, 9 Januari 2021 | 14:49 WIB
DA
B
Penulis: Dina Fitri Anisa | Editor: B1
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) saat meninjau fasilitas Rumah Sakit (RS) Darurat Lapangan Ijen Boulevard khusus Covid-19 di Politeknik Kesehatan Malang Jalan Simpang Ijen Kota Malang, Rabu (16/12/2020).
Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa (kedua kanan) saat meninjau fasilitas Rumah Sakit (RS) Darurat Lapangan Ijen Boulevard khusus Covid-19 di Politeknik Kesehatan Malang Jalan Simpang Ijen Kota Malang, Rabu (16/12/2020). (Beritasatu Photo/Didik Fibrianto)

Jakarta, Beritasatu.com – Upaya mengantisipasi peningkatan kasus positif Covid-19 di Indonesia, pemerintah memiliki wacana penambahan kapasitas 30% tempat tidur di rumah sakit untuk pasien positif, baik itu di tingkat pemerintah, rumah sakit umum daerah, dan rumah sakit swasta.

Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) pun menyambut baik wacana yang diutarakan oleh pemerintah. Namun, dalam upaya merealisasikan rencana tersebut, RS swasta membutuhkan dukungan dari pemerintah. Mulai dari kemudahan perizinan SDM, serta alat kesehatan seperti, ventilator ataupun obat-obatan. ARSSI berharap RS swasta diberikan kemudahan dalam mengakses.

"Kita butuh waktu untuk mempersiapkan 30%, terutama SDM. Tidak lupa, untuk membantu cashflow, mungkin klaim-klaimnya juga bisa dilakukan secara lancar," terang Sekretaris Jenderal Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI), Ichsan Hanafi saat dihubungi Suara Pembaruan, Jumat (8/1/2021) malam.

Ichsan merinci, saat ini terdapat 330 RS swasta di seluruh Indonesia yang telah ditunjuk oleh pemerintah daerah untuk menangani pasien Covid-19. Sedangkan di DKI Jakarta, sudah terdapat 61 dari 130 RS swasta yang telah menjadi RS rujukan Covid-19.

ADVERTISEMENT

Pun demikian, ARSSI pun juga turut mendorong pemerintah untuk membuka seluas-luasnya kesempatan kepada RS swasta yang bukan rujukan untuk menerima pasien Covid-19. Menurutnya, hal tersebut dapat memperluas pelayanan untuk masyarakat lebih luas lagi.

"Kalau untuk rumah sakit rujukan, kami pasti membantu untuk memberikan kapasitas 30%. Namun di era pandemi saat ini, saya yakin RS swasta yang belum menjadi rujukan juga bisa melakukan hal tersebut. Tidak mungkin membiarkan pasien menumpuk di IGD karena sulit mencari rujukan," terangnya.

Sedangkan untuk kisaran biaya kasar untuk mengubah ruang isolasi atau memberikan pemisah dengan ruang rawat biasa, Ichsan belum bisa menakar. Mengingat, setiap rumah sakit memiliki kondisi yang berbeda-beda.

"Jika kondisi existing-nya lebih mudah diubah, maka biaya yang dikeluarkan lebih efisien. Memang kalau dalam kondisi sekarang, kita menuju ideal itu sangat sulit. Karena berkejaran dengan pasien Covid-19 yang terus meningkat," tukasnya.



 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon