Muncul Klaster Sekolah, Kemdikbudristek: Guru Sakit Tetap Mengajar karena Takut Tunjangan Dipotong
Selasa, 8 Juni 2021 | 19:59 WIB
Jakarta, Beritasatu.com - Klaster atau penularan di sekolah umumnya terjadi karena ketidakdisiplinan guru atau warga sekolah untuk menaati prosedur operasi standar pembelajaran tatap muka. Dirjen PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Menengah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemdikbudristek), Jumeri, melarang guru yang sakit atau baru bepergian dari luar kota untuk masuk ke sekolah sebelum benar-benar dipastikan kondisinya sehat.
"Kejadian (penularan) yang terjadi di sekolah karena itu, guru takut tukin (tunjangan kinerja) dipotong, sehingga memaksakan diri masuk sekolah padahal sakit," kata Jumeri dalam bincang interaktif pendidikan dengan tema "Persiapan PTM Terbatas tahun ajaran 2021/2022" yang digelar secara virtual, Selasa (8/6/2021).
Jumeri menegaskan, kepala sekolah dan kepala dinas pendidikan di daerah wajib memerintahkan kepada seluruh jajarannya yang sakit agar tidak masuk sekolah. Ini dilakukan agar mereka tidak memicu klaster Covid-19 dan membawa masalah bagi orang lain. Dia mendesak kejujuran setiap warga sekolah agar proses pembelajaran tatap muka bisa berjalan dengan lancar.
Terkait pemotongan tukin, Jumeri berjanji akan berkoordinasi dengan Badan Kepegawaian Daerah (BKD) agar tidak mempermasalahkan ketidakhadiran guru karena alasan sakit. Guru yang terpaksa tidak bisa mengikuti pembelajaran tatap muka karena memiliki komorbid juga seharusnya diberikan dispensasi untuk tetap mengajar dari rumah.
"Kami akan tindak lanjuti dan berkoordinasi dengan daerah," ujar Jumeri.
Jumeri menegaskan pembelajaran tatap muka terbatas sifatnya dinamis. Artinya, sekolah bisa dibuka dan ditutup sesuai kondisi perkembangan Covid-19. Jika terjadi klaster di sekolah, ujarnya, sekolah harus menghentikan pembelajaran tatap muka dan melakukan langkah 3T (testing, tracing, treatment).
Guru atau warga sekolah yang sakit harus segera dirujuk ke rumah sakit terdekat dan melakukan isolasi berkoordinasi dengan gugus penanganan Covid-19 setempat.
"Sekolah diliburkan sementara setelah penanganan terbaik baru boleh dibuka kembali," kata Jumeri.
Sebelumnya, klaster sekolah dilaporkan terjadi di SMAN 4 Pekalongan, Jawa Tengah karena seorang guru memaksa masuk meskipun sedang sakit. Guru tersebut mengajar meski telah mengalami anosmia atau indra penciuman tidak berfungsi sebagai salah satu gejala penyakit Covid-19.
Sebagai akibatnya, sebanyak 37 guru dan tenaga kependidikan di sekolah itu terkonfirmasi Covid-19.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




