SBY kecam Wikileaks
Rabu, 23 Maret 2011 | 12:15 WIB
Wikileaks dinilai telah merepotkan pemerintahan beberapa negara.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menuding Wikileaks telah membuat kesulitan serius kepada pemerintahan di berbagai belahan dunia.
"Sekelompok kecil orang dalam WikiLeaks dengan agenda anti-establishment, sebagai contohnya, telah menyebabkan kesulitan serius kepada pemerintah di berbagai belahan dunia dengan implikasi politik dan keamanan," kata SBY, ketika berpidato pada pembukaan Jakarta International Defense Dialogue di Jakarta Convention Center, Jakarta hari ini.
"Sekelompok kecil orang dalam WikiLeaks dengan agenda anti-establishment, sebagai contohnya, telah menyebabkan kesulitan serius kepada pemerintah di berbagai belahan dunia dengan implikasi politik dan keamanan," kata SBY, ketika berpidato pada pembukaan Jakarta International Defense Dialogue di Jakarta Convention Center, Jakarta hari ini.
Penilaian SBY tentang Wikileaks itu, merupakan pernyataan paling keras menyusul pemberitaan The Age dan Sydney Morning Herald yang menyudutkan SBY dan keluarganya, 11 Maret lalu.
Berdasarkan bocoran dokumen dari Wikileaks, dua koran Australia itu antara lain menulis, SBY telah menyalahgunakan kekuasaan, karena antara lain memerintahkan Hendarman Supandji [ketika menjabat jaksa agung muda pidana khusus] untuk menghentikan kasus dugaan korupsi yang melibatkan Taufik Kiemas, suami Megawati.
Berita The Age dan Sydney Morning Herald kemudian tenggelam oleh munculnya, isu bom buku.
SBY juga disebut-sebut memiliki hubungan dengan pengusaha Tomy Winata melalui T.B. Silalahi [pensiunan jenderal yang pernah menjadi penasihat politik senior Presiden SBY]. Ada juga tentang Kristiani Herawati [istri SBY] dan keluarga dekatnya yang ditulis ingin memperkaya diri melalui koneksi politik mereka. Juga tentang Jusuf Kalla yang dilaporkan telah membayar jutaan dolar Amerika agar bisa mengendalikan Partai Golkar.
SBY menyatakan, Wikileaks sebagai aktor non-pemerintah berperan lebih besar bersama dengan media, lembaga swadaya masyarakat, masyarakat sipil, dan juga perusahaan untuk mengubah tatanan dunia dan memaksa dunia untuk mengubah cara pandang.
Tidak lupa SBY mengingatkan, bahwa situasi geopolitik dunia akan tetap cair dengan ramalan keadaan masa depan yang belum bisa ditentukan.
"Rupa yang tepat untuk tatanan dunia yang baru masih kabur dan masih tetap tanpa nama," ujarnya dalam pidato berbahasa Inggris yang dipandu oleh dua layar teleprompter.
Tidak lupa SBY mengingatkan, bahwa situasi geopolitik dunia akan tetap cair dengan ramalan keadaan masa depan yang belum bisa ditentukan.
"Rupa yang tepat untuk tatanan dunia yang baru masih kabur dan masih tetap tanpa nama," ujarnya dalam pidato berbahasa Inggris yang dipandu oleh dua layar teleprompter.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA TERKAIT
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
INFOGRAFIK
ADVERTISEMENT
ADVERTISEMENT
ARTIKEL TERPOPULER
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




