Ekspansi APF Terhambat Proses Restrukturisasi

Kamis, 14 Maret 2013 | 18:36 WIB
B
FB
Penulis: BeritaSatu | Editor: FMB
Sejumlah  pekerja menjahit pakaian jadi di pabrik tekstil dan pakaian jadi Caladi 59 Cigadung, Bandung,  Jawa Barat
Sejumlah pekerja menjahit pakaian jadi di pabrik tekstil dan pakaian jadi Caladi 59 Cigadung, Bandung, Jawa Barat (Jakarta Globe/Jakarta Globe)

Jakarta - Lambatnya penyelesaian restrukturisasi utang berjaminan PT Asia Pacific Fibers Tbk (APF) dan anak usaha grup Texmaco menghambat ekspansi yang akan dilakukan emiten produsen serat sintetis tersebut. Seperti diketahui, APF masih menunggu persetujuan oleh PT Perusahaan Pengelola Aset (PPA) untuk melakukan restrukturisasi utang.

Presiden Direktur APF Vasudevan Ravi Shankar mengungkapkan, permintaan akan polyester meningkat sebanyak 7% antara lain seiring kenaikan pendapatan domestik bruto (PDB) dan jumlah populasi. Namun, pihaknya mengaku belum bisa mengambil peluang dari kenaikan itu. Pasalnya, APF telah memaksimalkan kapasitas pabriknya hingga mendekati kapasitas penuh. Untuk itu, sebagai pemasok penting bahan baku di bidang tekstil dan produk tekstil Indonesia, perlu segera ditemukan jalan keluar atas masalah yang membelenggu ini.

"Tanpa restrukturisasi kami tidak bisa ekspansi. Padahal penduduk kita banyak, jadi industri ini sangat strategis. Cepat selesainya proses restrukturisasi juga supaya perusahaan bisa independen, dapat pendanaan dari perbankan, balance sheet dapat diperbaiki, pemegang saham dapat dividen, dan kami dapat kesempatan untuk tambah kapasitas," ungkapnya dalam media visit ke BeritaSatu Media Holdings di Jakarta, Kamis (14/3).

Secara data, Indonesia baru bisa memberikan kontribusi terhadap kapasitas produksi yang dibutuhkan dunia sebesar 3% atau 2,43 juta dari keseluruhan total 82,98 juta. Sementara sisanya oleh Asia khususnya Cina dengan persentase 77,7% atau sebanyak 64,49 juta.

Di mana, APF baru memiliki kapasitas 340 ribu atau 0,53% di Asia dan 13,9% di domestik.

Selain meminta agar pemerintah dalam hal ini Kementerian Keuangan untuk mempercepat proses ini, pihaknya juga meminta agar pemerintah mendukung perkembangan industri tekstil Indonesia dengan memberikan insentif ke pengusaha. Sebab, tekstil merupakan salah satu penyumbang devisa dan GDP terbesar, sekaligus eksportir terbesar kedua setelah kelapa sawit.

"Tekstil perlu terus berkembang karena kontribusi ke GDP dan memberikan kesempatan lapangan kerja terbesar sampai 1,6 juta pekerja," tukas Ravi.

Terkait restrukturisasi, Ravi menjelaskan dari total US$ 1 miliar utang terjamin perseroan yang rencananya dikonversi menjadi saham, 68% di antaranya atau senilai US$ 684 juta dimiliki kreditur asing, sementara PPA memiliki 27% atau senilai USD 270 juta. PPA masih belum menyetujui proposal restrukturisasi utang perseroan. Sedangkan, kreditur asing APF telah menyetujui restrukturisasi utang terjamin.

Adapun, jika proses restrukturisasi selesai, maka perseroan dapat mencairkan letter of credit (L/C) untuk pendanaan modal kerja senilai US$ 100 juta dari investor Hong Kong, melalui Deutsche Bank AG. Perseroan juga berencana melakukan ekspansi produksi filamen senilai US$ 100 juta. Saat ini, perseroan dengan kode emiten POLY itu sedang mengajukan proposal restrukturisasi utang kepada PPA untuk mengkonversi utang terjamin sebesar US$ 270 juta dengan kepemilikan saham sebesar 18% saham APF.

Adanya persetujuan tersebut juga penting karena APF sambung Ravi menjaminkan aset berupa pabrik di Semarang atas utang dari PPA.

"Dengan beroperasionalnya pabrik baru di Semarang maka kapasitas produksinya akan bertambah sebanyak 40 ribu ton per hari dari 148 ribu

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon