Biaya "Deep Tunnel" Lebih Murah dari Kerugian Akibat Banjir

Minggu, 24 Maret 2013 | 03:49 WIB
FS
B
Penulis: Fana F Suparman | Editor: B1
Ilustrasi rencana deep tunnel Jakarta.
Ilustrasi rencana deep tunnel Jakarta. (Istimewa)

Jakarta - Pembangunan deep tunnel yang memakan biaya sekitar Rp17 triliun, dinilai sebagian pihak terlalu mahal dan tidak memiliki dampak yang signifikan dalam penanggulangan banjir di Jakarta.

Namun, hal itu dibantah oleh Ketua Umum Indonesia Water Institute, Firdaus Ali, dalam seminar "Mengurai Kompleksitas Permasalahan Banjir Jakarta, Beberapa Solusi Prioritas: Giant Sea Wall dan Deep Tunnel", yang digelar di Auditorium Lemtek Universitas Indonesia (UI), Salemba, Sabtu (23/3).

Menurut Firdaus, biaya yang dikeluarkan untuk membangun deep tunnel sebenarnya jauh lebih murah dibanding kerugian yang timbul setiap bencana banjir melanda Jakarta. Menurutnya, banjir Jakarta yang terjadi pada 2002, 2007 dan 2012, tercatat telah menimbulkan kerugian hingga Rp38,7 triliun.

"Itu sudah bisa membangun deep tunnel," kata pengamat air perkotaan dari UI ini.

Firdaus pun mengatakan, kritik sebagian pihak yang menyebut bahwa operasional pompa untuk menyalurkan air dari deep tunnel ini akan memakan biaya cukup tinggi, merupakan pemikiran yang keliru. Menurutnya, biaya operasional pompa itu tidak sebesar kerugian yang ditimbulkan setiap kali terjadi banjir. Apalagi, tanpa deep tunnel pun, di beberapa titik Jakarta harus mengoperasionalkan pompa.

"Taruhlah setelah membangun deep tunnel, diperlakukan pompa air yang mengeluarkan biaya Rp10 miliar, walaupun saya rasa tidak sebesar itu, tapi lihatlah kerugian yang ditimbulkan banjir. Banjir kemarin saja, dalam seminggu sudah merugikan ekonomi senilai Rp70 miliar. Ditambah lagi beberapa pompa mati karena terendam air," paparnya.

Selain sebagai pengendali banjir, penggagas multi purpose deep tunnel (MPDT) ini menjelaskan, deep tunnel yang akan dibangun sepanjang 26 km di bawah jalur kereta api dari Pasar Minggu-MT Haryono-Manggarai-Tanah Abang-Roxy-Pluit ini, memiliki setidaknya empat manfaat lain. Sesuai namanya, terowongan multi fungsi ini dapat dilalui kendaraan yang bisa membagi beban arus lalu lintas di Jakarta.

Selanjutnya, kata dosen Teknik Lingkungan ini pula, krisis air baku yang menjadi salah satu problem utama di Jakarta, akan dapat terbantu dengan deep tunnel ini. Soalnya, air yang masuk tidak langsung disalurkan begitu saja ke laut, namun diproses dan dikelola kembali untuk dapat menjadi air baku.

"Selain itu, deep tunnel juga (dipergunakan) untuk utilitas kota yang saat ini saling tumpang tindih," tambahnya, sembari menyatakan yakin deep tunnel yang digagasnya dapat rampung dalam tempo 4-5 tahun, atau paling lama sekitar 8 tahun.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon