Gara-gara Fonterra, Perekonomian Selandia Baru Tertekan
Minggu, 11 Agustus 2013 | 23:30 WIB
Sydney– Seluruh industri ekspor Selandia Baru menderita akibat ketakutan kontaminasi yang mendorong China untuk menghentikan impor susu bubuknya yang dibuat oleh Fonterra Cooperative Group Ltd, demikian kata Perdana Menteri John Key.
Kerugian dari insiden tersebut akan sulit untuk dihitung karena ini mempengaruhi seluruh ekspor Selandia Baru di seluruh dunia, bukan hanya penjualan susu ke China, ujar Key dalam sebuah wawancara dengan Televisi New Zealand, Minggu (11/8).
Dalam wawancara terpisah, Chief Executive Officer (CEO) Fonterra, Theo Spierings memperkirakan kerugian pada" puluhan juta" dolar Selandia Baru.
"Fonterra merupakan bintang iklan untuk ekspor Selandia Baru, apakah kita seperti itu atau tidak," kata Key,
menurut transkrip dari wawancara tersebut. " Ini benar-benar mengenai apa yang merusak reputasi Selandia Baru, baik untuk Fonterra dan produk susu, tetapi juga untuk produk kami yang lebih luas yang kami jual ke pasar China dan pasar-pasar lain di luar negeri."
Mata uang Selandia Baru pun jatuh ke level terendah satu bulan setelah Fonterra, eksportir susu terbesar di dunia dan perusahaan terbesar di negara itu, mengatakan pada 3 Agustus bahwa pipa kotor di sebuah pabrik pengolahan mungkin telah mencemari protein serum susu (whey) yang digunakan dalam susu bubuk dengan bakteri penyebab botulisme.
China pun menghentikan impor beberapa produk Fonterra dan kantor berita resmi Xinhua mengatakan para pembeli kehilangan kepercayaan akan citra bersih Selandia Baru.
Menteri Luar Negeri Murray McCully akan mengunjungi China dalam waktu sekitar seminggu dan diikuti oleh Menteri Perdagangan Tim Groser dalam "beberapa minggu atau bulan mendatang," kata Kelly Boxall, juru bicara Key, melalui telepon pada Minggu.
Key akan menunggu untuk mengunjungi Beijing hingga penyelidikan atas insiden tersebut selesai karena "dia ingin bisa melihat mata mereka dan memberian mereka jawaban," ujarnya.
Fonterra juga menarik 40 metrik ton susu bubuk yang dikirim ke Sri Lanka, demikian disampaikan Spierings dalam wawancara di Televisi Selandia Baru.
Produk susu Selandia Baru merupakan penghasil devisa asing terbesar di Selandia Baru, jumlah penjualannya 28 persen di
luar negeri dalam suatu perekonomian di mana ekspor menghasilkan sekitar sepertiga dari hasil produksi. Fonterra sendiri menyumbang sekitar sepertiga dari perdagangan dunia dalam produk susu dan membukukan pendapatan sebesar NZ $ 19,8 miliar (US$15,9 miliar) dalam satu tahun sampai Juli 2012. (bloomberg/pya)
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




