Normalisasi Ciliwung Gusur 993 Rumah di Kampung Melayu
Selasa, 20 Agustus 2013 | 11:12 WIB
Jakarta - Rencana normalisasi sungai Ciliwung dipastikan akan berimbas pada rumah-rumah yang saat ini berdiri di bantaran sungai. Sejauh ini tercatat sedikitnya 993 rumah yang berada di delapan RW di Kelurahan Kampung Melayu, Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur akan dibebaskan karena terdampak proyek yang ditujukan untuk mengatasi banjir di Ibukota tersebut.
Kepala Seksi Pemerintahan dan Ketentraman Ketertiban Kelurahan Kampung Melayu, Suparyo, mengatakan, seluruh RW di kelurahannya akan terkena program revitalisasi tersebut. Meskipun di beberapa RW, hanya ada satu atau dua RT yang terdampak.
"Dari data awal yang kami kumpulkan bersama RT dan RW beberapa waktu lalu, totalnya ada sekitar 993 rumah dengan jumlah sekitar 1.800 kepala keluarga (KK) yang akan terkena," katanya.
Dikatakan Suparyo, diperkirakan, jumlah tersebut bertambah. Pihak Badan Pertanahan Nasional (BPN) nantinya yang akan memastikan jumlah rumah yang terdampak setelah proses pengukuran dan pematokan rampung dikerjakan. Saat ini, kata Suparyo, tinggal RW 01, 02, dan 03 yang proses pengukuran dan pematokannya belum selesai dikerjakan.
"RW 04 sampai RW 08 tinggal pengukuran dan pematokan door to door oleh BPN. Setelah itu baru kelihatan berapa rumah yang terkena normalisasi," katanya.
Suparyo menjelaskan, normalisasi akan membuat sungai Ciliwung memiliki lebar 35 meter dan di bantaran kanan kirinya dibuatkan trase kering dengan lebar 7,5 meter untuk jalan inspeksi, taman serta saluran air. Sehingga secara total, sungai Ciliwung memiliki lebar 50 meter.
"Saat ini lebar yang ada hanya sekitar 10 meter," ungkapnya.
Untuk menjalankan program ini, Suparyo menjelaskan, pihaknya telah mensosialisasikan pembebasan lahan sejak akhir Juni 2013 lalu bersama Tim P2T (Panitia Pengadaan Tanah) Jakarta Timur, BPN, Dinas Pekerjaan Umum, Dinas Perumahan. Sejauh ini, kata Suparyo, sebagian besar warga menerima bahkan antusias terhadap program normalisasi.
"Tanggapan mereka umumnya cukup antusias, mungkin karena bosan terkena banjir. Apalagi setelah banjir waktu malam takbiran kemarin, banyak diantara warga yang sekarang malah nantang kapan rumah saya diukur," tuturnya.
Ditemui terpisah, Wakil Ketua Tim P2T Jakarta Timur, Andriansyah, menjelaskan bahwa saat ini proses Revitalisasi Ciliwung dalam tahap pengukuran dan pematokan tanah. Untuk Jakarta Timur, normalisasi diprioritaskan pada dua kelurahan yakni Kelurahan Kampung Melayu dan Kelurahan Kebon Manggis.
"Nantinya (setelah pengukuran dan pematokan) akan diinventarisir terkait angka fix jumlah rumah yang terkena normalisasi," katanya.
Andriasyah mengatakan, hasil dari inventarisir akan digunakan pihaknya sebagai patokan kompensasi tanah dan rumah yang terdampak normalisasi. Untuk lahan dan rumah yang memiliki dokumen kepemilikan yang sah, tahapan selanjutnya adalah negosiasi harga.
"Jika setelah diverifikasi, dokumen kepemilikan dan surat-suratnya sah, maka akan bisa diteruskan dengan negosiasi harga tanah serta penggantian nilai bangunan," katanya.
Sementara bagi tanah yang statusnya diketahui merupakan tanah garap, Andriansyah menyerahkan hal itu kepada Gubernur DKI Jakarta.
"Kalau soal itu tergantung kebijakan dari Gubernur nantinya. Tapi pengalaman saat pembebasan lahan untuk Kanal Banjir Timur (KBT) dahulu, warga yang lahannya merupakan lahan garapan diberikan penggantian sebesar 25 persen dari nilai yang sudah sepakati antara Tim P2T dan warga," jelasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




