Pascapelaksanaan Sail Komodo, Migrasi Penduduk ke Manggarai Barat Diperkirakan Meningkat

Sabtu, 14 September 2013 | 07:37 WIB
DM
B
Penulis: Dina Manafe | Editor: B1
Sail Komodo
Sail Komodo (Suara Pembaruan/Yoseph Kelen)

Manggarai - Pascapelaksanaan Sail Komodo diperkirakan laju pertumbuhan penduduk di Manggarai Barat meningkat akibat migrasi atau perpindahan penduduk dari luar daerah tersebut.

Bupati Manggarai Barat Agustinus Ch Dula mengatakan, menjadi objek wisata dunia membawa dampak positif sekaligus dampak buruk yang perlu diantisipasi pemerintah daerah (pemda) setempat. Dari 23.000 penduduk saat ini hampir setengahnya adalah pendatang, dan jumlahnya cenderung meningkat setiap tahun.

Dengan adanya ajang Sail Komodo yang menjadikan Manggarai Barat sebagai kawasan ekonomi baru akan menarik lebih banyak orang untuk mencari nafkah di daerah hasil pemekaran wilayah di tahun 2008 itu, sehingga diperkirakan jumlahnya terus bertambah. Sejak puluhan tahun silam hingga saat ini para pendatang didominasi dari Pulau Jawa dan Sulawesi, dan ada pula yang berwarga negara asing.

"Ada yang datang dengan keluarga dan menetap di sini, ada pula yang datang sendiri hanya sedangkan keluarganya tinggal di kampung halaman. Sebagian sudah membaur menjadi penduduk asli, dan sebagian hanya untuk mencari nafkah dengan berdagang atau nelayan," kata Agustinus, di sela-sela kegiatan kampanye program KB yang digelar Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) dalam rangkaian acara Sail Komodo, di Manggarai Barat, NTT, Jumat (13/9).

Ia menjelaskan, penduduk Manggarai Barat pada tahun 2008 baru sekitar 10.000, tetapi sekarang jumlahnya mencapai 23.000. Selain karena tingkat kelahiran yang masih tinggi, migrasi juga menyumbang pertambahan penduduk ini. Agustinus mengatakan, di samping menguntungkan bagi pengembangan objek wisata dan peningkatan ekonomi masyarakat, migrasi secara besar-besaran juga berpotensi terjadinya kerentanan masyarakat terhadap permasalahan sosial lainnya, misalnya modernisasi, kepadatan penduduk, dan bahkan kriminalitas.

"Di satu sisi bangga dengan pariwisata, tetapi di sisi lain harus mengakui dan menghadapi risiko di antaranya perilaku modernisasi. Tetapi kami optimistis punya budaya sendiri, yang diharapkan bisa membentengi generasi muda khususnya dari risiko-risiko tersebut," kata Agustinus.

Ia mengatakan, budaya lokal yang sudah ditanamkan sejak dini kepada anak-anak di Pulau Flores dan khususnya Manggarai Barat. Diharapkan bisa membentengi generasi muda dari budaya luar yang negatif, seperti seks bebas, narkoba, dan HIV/AIDS. Salah satunya dengan meningkatkan kesadaran dan kecintaan mereka terhadap kearifan lokal, seperti melibatkan mereka secara aktif dalam ajang pagelaran budaya, di antaranya tari-tarian tradisional yang di dalamnya mengandung pesan menghargai orangtua, menghargai tamu, dan menghargai diri sendiri.

Khusus untuk mencegah penularan HIV/AIDS, pemerintah daerah Manggarai Barat menyediakan anggaran setiap tahunnya untuk sosialisasi terutama di tempat-tempat hiburan, hotel, dan bahkan sekolah. Di samping itu, ada rapat koordinasi rutin antara tiga provinsi yaitu NTT, NTB, dan Bali tentang HIV/AIDS.

Agustinus berpandangan, untuk mengendalikan penularan HIV/AIDS terutama dari faktor risiko heteroseksual perlu adanya lokalisasi. Namun, di Pulau Flores, hal ini masih bertentangan dengan budaya dan agama di daerah setempat yang didominasi umat Katolik tersebut. Lokalisasi dimaksud agar layanan kesehatan kepada kelompok berisiko bisa mengenai sasaran. Namun, gereja dan kebiasaan masyarakat setempat belum menerima lantaran dianggap melegalkan seks.

Di balik sisi buruknya, migrasi penduduk membawa dampak positif, di antaranya menularkan minat kewirausahaan kepada penduduk asli sehinggameningkatkan pendapatan rumah tangga. Juga mengisi keterbatasan kualitas sumber daya manusia yang ada di Manggarai Barat.

Untuk mendukung perekonomian masyarakat yang umumnya bermatapencaharian nelayan dan petani, pemda Manggarai Barat melakukan pemberdayaan seperti kerajinan tangan, peternakan, dan koperasi dengan membentuk kelompok Usaha Kecil Menegah (UKM).

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon