Pelajaran Hidup yang Dipetik Sandra Bullock dari Film "Gravity"

Jumat, 4 Oktober 2013 | 13:55 WIB
NF
B
Penulis: Nadia Felicia | Editor: B1
Saat premier film
Saat premier film "Gravity". George Clooney (kedua dari kiri) dan Sandra Bullock (tengah), adalah aktor dan aktris pemeran utamanya. (AFP)

Film "Gravity" sebentar lagi akan tayang di bioskop-bioskop Indonesia. Film yang mengisahkan tentang perjuangan bertahan hidup dua astronaut di luar angkasa ini diperankan oleh dua aktor kawakan, Sandra Bullock dan George Clooney.

Terpilihnya Bullock untuk berperan di film ini cukup unik. Sebenarnya film ini ditujukan untuk Angelina Jolie. Untuk alasan tertentu, dibatalkan. Hingga kemudian peran itu dicobakan pada Marion Cotillard, Scarlett Johansson, Blake Lively, dan Natalie Portman, semuanya pun batal. Hingga akhirnya Bullock yang terpilih, demikian dikabarkan situs Foxnews.

Bullock mengaku terkejut disodorkan untuk berperan di film ini, terutama karena ia takut terbang. Dalam suatu wawancara dengan Foxnews ia bahkan mengaku bukan orang yang menyenangkan untuk diajak bepergian menggunakan pesawat terbang karena kerap mengeluh dan mencakar orang di sampingnya ketika terjadi turbulensi.

Butuh waktu cukup lama hingga akhirnya ia mengiyakan ajakan untuk berperan di film ini. Terutama karena dalam pembuatan film ini, Clooney dan Bullock akan tali penopang dalam jumlah banyak agar merasa aman dan tidak jauh dari tanah di lokasi syuting.

ADVERTISEMENT

Mereka dikaitkan dengan sekitar selusin kawat karbon berukuran tipis agar bisa menciptakan efek melayang di dalam sebuah ruangan khusus yang diterangi sekitar 4.000 bohlam LED. Pencahayaan dibuat sedemikian rupa agar bisa menciptakan pencahayaan yang sesuai keinginan agar bisa menunjukkan warna, kecepatan, dan terang guna memberi gambaran matahari dan cahaya pada bumi saat kedua astronaut ini melayang di luar angkasa.

Di film, kesannya pembuatannya mudah. Apalagi aktor yang terlibat di layar pun tidak banyak. Peralatannya pun seperti bisa dan biasa dibuat dengan mudah oleh kru Hollywood. Nyatanya, butuh empat tahun untuk pembuatan film ini. Mulai dari pencarian aktor hingga pembuatan set.

"Aspek tersulit dari film ini adalah gravitasi. Kami harus membuat para aktir melayang seakan mereka benar-benar ada di luar angkasa. Di sana, manusia tidak ada beban. Kami butuh membuat set ruang dan alat-alat yang tepat untuk mencapai hal itu. Perjalanan menciptakan alat-alat itulah yang butuh waktu lama," kata sutradara film ini, Alfonso Cuaron, dikutip dari Foxnews, Jumat (4/10).

Proses yang tak mudah untuk membuat film ini. Namun, bagi Bullock, film ini memiliki arti yang berbeda baginya, dalam hal pembelajaran hidup.

"[Perjalanan pengambilan gambar ini] membuat saya frustasi, ketakutan, menegangkan, membuat diri kecil, intinya bikin marah. Karena dalam keadaan melayang, semua kontrol yang Anda miliki hilang. Semua penyangga hilang dan memaksa Anda harus menyerah pada keadaan. Namun, saya belajar, saya tiba pada titik hidup yang membuat saya tahu bahwa tak semuanya bisa saya kontrol. Bila ada yang tidak berjalan sesuai yang saya inginkan, maka itulah yang terjadi. Meski saya tidak selalu bisa menjadi orang mengendalikan segalanya," terangnya.

Sementara dalam sebuah wawancara lain dengan majalah Variety, Bullock mengaku, keputusannya untuk terlibat dalam film "Gravity" adalah keputusan terbaiknya. Ia mengaku merasa frustasi karena harus terus melayang di sebuah ruangan sendirian, kadang dalam keadaan tanpa cahaya sedikit pun. Kadang ia harus dibanting sambil berusaha menggerakkan tubuh ke posisi tertentu agar mendapat cahaya terbaik.

"Tapi saya belajar banyak dari semua itu. Setiap harinya saya terpukau. Meski saya jauh dari titik aman, tersiksa secara fisik dan emosional karena frustasi pekerjaan, tapi saya malah menjadi pribadi yang lebih terbuka atas segala hal," jelas Bullock.

Film ini, kata Bullock, juga menyindir kebiasaan kebanyakan orang yang merasa ketergantungan dengan konektivitas. "Manusia semakin terhubung dengan teknologi. Hal itu juga yang menjauhkan kita dari koneksi langsung dengan manusia. Konektivitas teknologi membuat manusia lebih nyaman untuk tidak menjalani hubungan langsung antarmanusia yang erat. Padahal, ketika kita ditimpa musibah/masalah, kita akan terasa seperti terisolasi. Tanpa teman di tengah dunia yang begitu hidup," tutur ibu dari seorang putra bernama Louis ini.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon