Menparekraf: Masyarakat Wajib Lestarikan Seni Menyulam
Sabtu, 2 November 2013 | 20:35 WIB
Padang - Berdasarkan catatan sejarah, keterampilan ragam hias sulam atau bordir di Indonesia sudah ada sejak abad ke-18 Masehi. Bisa dibilang, seni sulam Indonesia tetap mempunyai ciri khas sendiri karena telah berakulturasi dengan kebudayaan setempat.
Ragam corak seni sulam terbentang dari barat ke timur Indonesia. Semua wilayah, seperti Sumatera, Kalimantan, Jawa, Sulawesi, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua, terwakili lewat bahan, motif, warna, dan ragam jenis sulam, yang disesuaikan dengan budaya dan adat istiadatnya masing-masing.
Hal itu pula yang menginspirasi acara Temu Usaha & Perajin Metamorfosis Perajin Sulam dan Bordir di Indonesia, yang berlangsung di Grand Inna Padang, Jumat (1/11).
Acara yang dibuka oleh Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Mari Elka Pangestu tersebut, akan disemarakan dengan pameran foto sulam, demo sulam, fashion show oleh desainer Samuel Wattimena dan Vomal.
Selain itu, ada juga pemberian penghargaan kepada para tokoh yang telah berjasa mengembangkan sulam di daerahnya masing-masing serta pengukuhan motif sulam khas daerah.
Dalam kesempatan ini, Mari Elka Pangestu meminta masyarakat untuk melestarikan seni menyulam. Menurutnya, sulam merupakan warisan budaya yang harus terus dilestarikan oleh semua kalangan agar tidak hilang begitu saja.
"Menyulam merupakan salah satu dari sifat orang kreatif, karena membutuhkan kepiawaan, kesabaran dan ketekunan, serta imajinasi untuk memilih motif dan warna. Nilai dari sulaman, bukan dilihat dari benangnya, namun dari teknik dan pengerjaannya. Karenanya, masyarakat harus terus diedukasi agar menghargai warisan budaya ini," tambah Mari.
Dalam kesempatan yang sama, Ketua Yayasan Sulam Indonesia, Triesna Jero Wacik menyatakan, masih banyak yang perlu diperhatikan dalam pengembangan dan produksi seni sulam di Indonesia.
Hal tersebut, lanjutnya, termasuk soal desain dan kualitasnya, sehingga diperlukan adanya pengetahuan yang cukup dan baik tentang teknik, penggunaan material, desain dan inovatif.
"Selain itu, perajin juga perlu lebih banyak belajar menerapkan manajemen dan professional, serta menyelami perkembangan dan selera pasar, disamping melakukan regenerasi keahlian menyulam," kata Triesna Jero Wacik dalam siaran pers yang diterima Beritasatu.com di Jakarta, Sabtu (2/11).
YSI dan PGN, kata Triesna, berkomitmen untuk terus membina dan mengembangkan seni sulam Indonesia sebagai Adi Kriya yang bukan saja untuk dikagumi, tetapi dirasakan manfaatnya secara ekonomi.
"Hal itu terutama bagi para perajin yang sebagian besar adalah ibu-ibu rumah tangga. Untaian benang, rangkaian motif dan paduan warna, adalah sulaman keindahan kehidupan anugerah sang khalik kepada umatnya," tambah dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




