Indonesia Usulkan Arsip KAA Sebagai “Memory of The World”
Rabu, 27 November 2013 | 08:16 WIB
Jakarta - Indonesia melalui Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI) akan mengusulkan arsip Konferensi Asia Afrika (KAA) sebagai Memory of The World (MoW). Ini adalah kali pertama Indonesia dengan inisiatif sendiri mengusulkannya, yang akan menambah deretan karya bangsa yang masuk warisan dunia.
Deputi Bidang Konservasi Arsip ANRI Mustari Irawan menjelaskan, dalam konteks kearsipan, ini kali pertama Indonesia mengusulkan sendiri karya bangsa masuk sebagai ingatan kolektif secara internasional. Sebelumnya sudah diusulkan arsip VOC sebagai MoW pada tahun 2004 oleh Belanda.
Diusulkannya KAA sebagai MoW, kata Mustari, karena dari sisi keunikan arsip ini tidak mudah ditemukan di sembarangan negara. KAA tergolong langka karena hanya satu kali diadakan, yaitu di Kota Bandung pada 18-24 April 1955.
Secara kegunaan, KAA juga memberi dampak internasional, yaitu ikut serta membantu terciptanya ketertiban dan perdamaian dunia. Karena itu, peristiwa ini harus terekam dan diekspos ke dunia.
"Dunia harus mengetahui bahwa Indonesia punya peran besar pada konferensi tersebut. Ini memberikan kebanggaan, karena pada masa lalu Indonesia yang baru merdeka 10 tahun mampu mengadakan satu peristiwa yang melibatkan banyak negara, membangun solidaritas dan persaudarana di antara negara Asia Afrika," kata Mustari pada acara talk show bertemakan ANRI usung arsip KAA dan Gerakan Non Blok (GNB) sebagai MoW, di Jakarta, Selasa (26/11).
Agar KAA bisa terdaftar di MoW, ANRI antara lain gencar melakukan sosialisasi baik melalui media massa maupun sosial media untuk mempromosikan tentang arsip tersebut.
Sejarawan dari Universitas Indonesia Prof Susanto Zuhdi mengatakan, masuknya KAA dalam ingatan kolektif secara internasional memperkuat karakter Indonesia sebagai bangsa yang berjuang. Sebab, Indonesia adalah satu dari hanya tiga negara yang kemerdekaannya direbut, selain Aljazair dan Vietnam.
KAA ini juga menjadi sejarah bahwa Indonesia ikut menyumbang perdamaian dan ketertiban dunia. Sayangnya, kata dia, sejarah bangsa ini tidak banyak diketahui rakyat Indonesia terutama generasi muda. Hal ini dikarenakan minimnya pengetahuan anak sekolah tentang sejarah.
Memang, kata dia, pemerintah telah memberikan peluang lebih besar bagi mata pelajaran sejarah dalam kurikulum 2013, yaitu 2 jam untuk pelajaran sejarah wajib, dan 3 jam untuk peminatan sejarah. Tetapi, kata dia, selama proses belajar mengajar mata pelajaran sejarah itu masih tradisional atau konvensional, tidak akan masuk dan membekas dalam ingatan siswa.
"Saya khawatir ini tidak diingat lagi, karena ingatan itu kalau membekas, bagaimana membekas kalau mata pelajaran hanya dihafal beberapa bulan dalam setahun," katanya.
Agar membekas di ingatan generasi muda, Susanto mengusulkan agar pelajaran sejarah lebih kreatif dan inovatif. Siswa harus lebih banyak dilibatkan dalam forum diskusi dan dialog tentang sejarah. Sebab, kata dia, sejarah bukan sekadar kisah tetapi sebuah nilai, yaitu nilai persatuan, perdamaian, dan toleransi.
Bahkan, kata dia, KAA harus masuk dalam kurikulum sebagai mata pelajaran sejarah. Pelajaran ini secara detail menerangkan latar belakang diadakannya KAA, apa saja isu dan persoalannya. Misalnya, KAA diadakan karena persoalannya dunia saat itu berada dalam konstalasi atau pertikaian. Jika tidak dihentikan, perang dunia ke- III bisa terjadi pascaperang dunia ke-II.
"Dalam kekhawatiran itu, Indonesia muncul di dalam idenya untuk menyelenggarakan KAA, itu sangat luar biasa, itu smart power dari para diplomat kita dulunya. Ini sumbangan besar Indonesia untuk perdamaian dunia, bukan hal kecil," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




