Jaga Kesakralan, Trofi Piala Dunia Tak Boleh Disentuh Sembarang Orang
Senin, 6 Januari 2014 | 20:03 WIB
Jakarta - Sebagai lambang supremasi tertinggi di jagat sepak bola, trofi Piala Dunia menjadi yang paling diidamkan setiap pemain sepakbola. Entah itu sekedar menyentuh, mengangkat, atau menciumnya. Untuk bisa melakukannya seorang pesepakbola butuh perjuangan keras dan juga keberuntungan.
FIFA dan Coca-Cola sangat mengerti hal itu. Sehingga trofi Piala Dunia, meskipun dipertontonkan ke jutaan orang dengan membuat semacam tour. Namun sayang, tak semua orang bisa menyentuhnya. Hanya Presiden FIFA dan pemenang Piala Dunia yang bisa.
"Kami dan FIFA benar-benar menjaga trofi (Piala Dunia) ini. Diterapkan pengamanan tingkat tinggi yang tentu saja detilnya tidak bisa saya jelaskan di sini. Bisa saya pastikan hanya orang-orang tertentu yang boleh menyentuh trofi ini. Pastinya, untuk membuatnya tetap sakral, hanya Presiden (negara dan FIFA) dan sang juara yang bisa memegang trofi ini," jelas Annamaria Gazda, perwakilan Coca-Cola Global, dalam konferensi pers di Hotel Mulia, Jakarta Pusat, Senin (6/1).
Coca-Cola sebagai sponsor Piala Dunia 2014, sejak September tahun lalu memboyong trofi karya Silvio Gazzaniga untuk mengunjungi 85 negara. Indonesia menjadi salah satunya dengan berada di urutan ke-57.
Sepanjang perjalanan, yang nantinya menempuh jarak lebih dari 149.000 km, trofi Piala Dunia selalu ditempatkan di dalam kotak kaca. Artinya, FIFA dan Coca-Cola serius menjaga keamanan dan kesakralan trofi resmi dipakai pada Piala Dunia 1974 di Jerman Barat.
Trofi yang dibuat dari emas murni 18 karat ini pun tak bisa dimiliki oleh juara dunia. Para juara hanya memang mengangkat dan mencium trofi asli saat prosesi penyerahan. Namun setelah itu, trofi akan kembali disimpan oleh FIFA. Negara pemenang boleh memiliki trofi replika yang berlapis emas.
"Trofi yang kami bawa untuk tur ini adalah yang asli. Saya bisa pastikan trofi ini tidak pernah jatuh ataupun dicuri. Memang pernah dicuri tapi itu trofi Piala Dunia yang lain (trofi Jules Rimet dicuri pada 1966, ditemukan, lalu dicuri lagi pada 1983 - red). Sebagai bukti bahwa trofi ini adalah yang asli, di bagian bawah ada ukiran nama negara-negara pemenang sejak 1974," kata Anna.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
3 Prajurit Gugur, TNI AD Berduka!
Liburan Sambil Belajar Sains Lewat Museum Iptek TMII
Perbaiki Tanggul Irigasi Makam, Warga Palopo Temukan Granat Nanas
3
B-FILES
Harga yang Tak Terlihat, Masa Depan yang Terancam
Rio Abdurachman P
Hari Fitri Benahi Diri: Ujian Integritas di Tengah Bayang Korupsi
Muhammad Ishar Helmi
TNI Menunggu Hasil Investigasi Terkait Gugurnya 3 Prajurit di Lebanon




