Dinilai Jelek oleh Pakar dari Australia, Ini Tanggapan Gita Wirjawan

Kamis, 6 Februari 2014 | 12:19 WIB
MS
B
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: B1
Gita Wirjawan
Gita Wirjawan (Antara/Septianda Perdana)

Jakarta - Peserta konvensi Partai Demokrat, Gita Wirjawan, merasa tak perlu menanggapi terlalu jauh soal pendapat para akademisi Australia yang menilai Gubernur DKI Jakarta Joko Widodo berpeluang lebih besar menang ketimbang dirinya dalam bursa pemilihan presiden mendatang.

"Kita harus jelas dengan nasionalisme kita ke depan. Yang pasti, kerjasama dengan negara manapun harus adil dan meningkatkan martabat, kesejahteraan lahir batin seluruh rakyat Indonesia," kata Gita dalam keterangannya di Jakarta, Kamis (6/2).

Sejumlah pakar Australia yang memonitor perkembangan Indonesia tidak mendukung Gita karena dirinya dianggap berpotensi menjadi ancaman bagi kepentingan perdagangan negeri kangguru itu.

Pasalnya, ada sejumlah kebijakan Gita yang dianggap tak sesuai dengan kepentingan Australia, seperti penghentian kebijakan impor sapi Australia pada tahun lalu.

ADVERTISEMENT

Namun, Gita menilai pandangan Indonesianis asal Australia tersebut tidak memahami prinsip pentingnya kerjasama ekonomi secara bilateral yang saling menguntungkan tanpa mengabaikan kepentingan nasional masing-masing negara.

Secara terpisah, Fajar Riza Ul Haq, Sekjen DPP Barindo, ormas yang diketuai Gita, menilai pandangan pakar dari Australia terhadap sosok Gita sebagai cerminan kekhawatiran pihak asing terhadap sikap politik-ekonomi Gita.

Padahal, di tingkat lokal, selama ini justru Gita yang dianggap berpotensi mengganggu kepentingan negara-negara Barat.

"Pandangan Fealy ini menarik jika melihat opini yang dikembangkan di media-media Indonesia yang justru menuduh Gita agen Neolib, tidak pro kepentingan bangsa," kata Fajar.

Bagi pihak Gita, pernyataan para ahli Australia adalah bukti kepemihakan asing terhadap figur Jokowi karena dinilai lebih "friendly".

"Tapi ini tidak akan menggoyahkan komitmen merah-putih Pak Gita, utamanya menyangkut kepentingan ekonomi nasional." Kata Fajar, yang merupakan alumni Program Pertukaran Pemimpin Muda Muslim Indonesia-Australia.

Sebelumnya, sejumlah akademisi di Australia mengomentari rencana Gita Wirjawan maju sebagai bakal capres dari Partai Demokrat (PD) dan membandingkannya dengan peluang Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, sebagai bakal capres.

Indonesianis di Australian National University, Greg Fealy, menilai Gita sebagai sosok yang kurang populer dan akan kesulitan memenangkan pilpres 2014.

Dan bagi Fealy, apabila Gita tak terpilih, itu baik buat sektor perdagangan Australia.

"Dia (Jokowi) seorang pebisnis. Dia bisa menghargai manfaat dari perusahaan bagi negara. Dia juga seorang yang pragmatis. Tapi juga seorang nasionalis dan tampaknya akan dinominasikan oleh parpol nasionalis," kata Fealy seperti disampaikannya kepada ABC Australia.

Profesor dari Monash University, Greg Barton, juga sependapat bahwa Jokowi lebih cenderung menjadi presiden Indonesia di periode berikutnya.

Menurut Greg, sejumlah nama yang muncul sebagai bakal capres di Indonesia hanya akan berujung pada situasi dimana praktik perdagangan internasional akan tak sehat karena dipicu kepentingan politik domestik yang mendorong proteksionisme.

Tetapi Greg meyakini Jokowi tak dibatasi oleh isu-isu nasionalisme.

"Dia seorang yang kompeten dan secara diam-diam menunjukkan dirinya sebagai pemimpin yang menginspirasi (sebagai gubernur DKI Jakarta). Dan jika dia dapat restu dari Megawati Soekarnoputri, dia pasti menang di Pilpres," tutur Greg.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon