Kemristek Sediakan Dana Rp 1 Triliun Untuk Cetak Peneliti Baru

Selasa, 11 Februari 2014 | 16:00 WIB
H
YD
Penulis: Herman | Editor: YUD
Menristek, Gusti Muhammad Hatta dan Presiden Direktur PT. Kalbe Farma, Irawati Setiady meresmikan pelaksanaan Ristek-Kalbe Science Award (RKSA), 2014.
Menristek, Gusti Muhammad Hatta dan Presiden Direktur PT. Kalbe Farma, Irawati Setiady meresmikan pelaksanaan Ristek-Kalbe Science Award (RKSA), 2014. (Beritasatu.com/ Herman)

Jakarta - Menteri Negara Riset dan Teknologi (Menristek) Republik Indonesia, Prof. Dr. Ir. H. Gusti Muhammad Hatta mengatakan, tahun ini akan ada 38 persen peneliti di 7 LPNK (Lembaga Pemerintah non Kementerian) di bawah koordinasi Kemenristek yang akan pensiun.

Peneliti tersebut berasal dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT), Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Badan Standardisasi Nasional (BSN), Badan Informasi Geospasial (BIG), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN), Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN), dan LAPAN.

"Saya tidak tahu angka persisnya, tapi peneliti kita jumlahnya ada ribuan. Dari seluruhnya itu, 60 persen lebih peneliti berada di 7 LPNK di bawah koordinasi Kemenristek, dan ada 38 peneliti di LPNK yang akan pensiun," kata Muhammad Hatta di acara Penandatanganan Perjanjian Kerjasama penyelenggaraan "Ristek-Kalbe Science Award (RKSA)" 2014 antara PT Kalbe Farma Tbk (Kalbe) bersama Kementerian Riset dan Teknologi Republik Indonesia, di kantor BPPT, Jakarta, Selasa (11/2).

Karena itu, Menristek merasa perlu untuk segera menyiapkan calon-calon peneliti baru.

"Sejak tahun lalu hingga lima tahun berikutnya, kami telah menyiapkan anggaran hampir Rp 1 triliun untuk menyekolahkan anak-anak bangsa yang pintar ke luar negeri. Tapi kami juga tidak ingin pengalaman masa lalu terulang, di mana setelah lulus, mereka tidak kembali lagi ke Indonesia. Padahal uang untuk biaya kuliah mereka itu dari uang rakyat. Sehingga kami telah membuat beberapa program agar setelah lulus nanti mereka bisa mengabdi untuk bangsa," beber Muhammad Hatta.

Adanya program RKSA yang sudah berjalan sejak 2008 ini juga disambut baik oleh Menristek. Karena program ini ditujukan untuk memberikan apresiasi kepada peneliti Indonesia yang memiliki dedikasi dan telah bekerja keras dalam menghasilkan karya penelitian di bidang life science, sehingga bisa mendorong para peneliti di Indonesia agar lebih produktif.

"Memang di Indonesia setahu saya penghargaan kepada peneliti masih rendah. Sebelum saya menjadi Menristek, Guru Besar Riset itu tunjangan bulananya hanya 1,25 juta. Untungnya setelah itu diperjuangkan terus sehingga menjadi Rp 5 juta. Walapun belum banyak, tapi sudah cukup membuat semangat. Karena kalau bangsa kita ingin maju lagi dan mendapatkan nilai tambah, mau tidak mau kita harus menggunakan Iptek, di mana pelakunya adalah peneliti," ujar Muhammad Hatta.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon