Langkah Penanganan Keadaan Darurat terhadap Orang Hilang Kesadaran

Kamis, 13 Maret 2014 | 14:56 WIB
MF
B
Penulis: Muhammad Fajar | Editor: B1
Heru Budiawan, petugas dari ER Indonesia yang sedang melakukan simulasi pertolongan pada pasien tidak sadarkan diri, Kamis (13/3) di Auditorium RSU Bunda, Jakarta.
Heru Budiawan, petugas dari ER Indonesia yang sedang melakukan simulasi pertolongan pada pasien tidak sadarkan diri, Kamis (13/3) di Auditorium RSU Bunda, Jakarta. (BeritaSatu.com/Muhammad Fajar)

Jakarta - Keadaan darurat terkait kesehatan atau jiwa bisa datang kapan saja tanpa diduga. Langkah pertama dalam menanggapi keadaan darurat adalah tetap tenang dan berpikir taktis. Pengetahuan mengenai penanganan keadaan darurat perlu diketahui untuk menjaga diri maupun orang-orang yang ada di sekitar.

Berbagi informasi, Rumah Sakit Umum Bunda memaparkan langkah-langkah penanganan keadaan darurat terkait penemuan orang yang dalam keadaan tidak sadar dan setengah sadar di Auditorium RSU Bunda, Jakarta, Kamis (13/3). Berikut ini langkah-langkah yang disarankan:

Langkah dasar yang disarankan ketika menemui keadaan darurat medis adalah menghubungi pertolongan medis resmi, yaitu Rumah Sakit. Namun, dalam kasus penemuan orang yang terlihat tida sadar dalam situasi yang tidak dimengerti, langkah awal adalah bertanya secara verbal kepada orang tersebut. Hal ini dilakukan dalam tujuan menguji kesadaran pasien.

Saat pertanyaan dijawab, berarti pasien tersebut dalam kondisi sadar. Mulailah melakukan komunikasi ringan terhadap yang bersangkutan. Hal tersebut berguna juga untuk mendapatkan informasi mengenai keadaan pasien.

Jika dalam situasi tersebut pasien tidak menjawab, berikanlah rangsangan fisik terhadap pasien seperti memberikan rangsangan rasa nyeri seperti mencubit.

Saat pasien belum sadar juga, lakukan panggilan bantuan (call for help), yakni berteriak sekeras mungkin untuk meminta pertolongan. Panggilan bantuan juga berarti mencoba menghubungi pelayanan medis tedekat via pesawat telepon.

Untuk mendeteksi tingkat kondisi pasien, lakukanlah metode lihat, dengar, dan rasakan. Pertama, dekatkan pipi dan telinga pada wajah pasien. Lihat ciri-ciri pernafasan pasien dengan melihat gerakan dada pasien, gerakan dada menunjukkan kestabilan nafas pasien.

Setelah melihat, rasakan bagian-bagian yang memberi tanda kestabilan detak jantung, misalnya tanda detak jantung lewat nadi di leher. Rasakan pula embusan nafas pasien dengan posisi pipi didekatkan dengan wajah pasien.

Langkah selanjutnya, dengarkan suara apa yang terdengar dari daerah pernafasan pasien. Kasus yang sering terjadi adalah terdengar suara dengkuran. Suara dengkuran mengindikasikan penghambatan nafas oleh cairan mulut.

Dalam kondisi seperti itu, yang harus dilakukan adalah mengubah posisi pasien yang telentang ke rebahan miring. Posisi tidur miring dengan memeluk guling juga bisa dilakukan. Posisi miring ini guna mengondisikan mulut ada di posisi rendah, agar cairan yang menghambat di dalam bergerak ke arah luar mulut.

Namun, bila pasien yang ditemukan dalam keadaan berdarah atau terluka, hal pertama yang harus dilakukan adalah memindahkan pasien ke tempat kondusif untuk melakukan treatment setelah memastikan tidak ada tulang pada tubuhnya yang patah untuk dilakukan pemindahan.

Pastikan kepala pasien tidak berada dalam posisi menunduk, guna melancarkan aliran nafas pada pasien.

Menurut dr Laksmi Dewi spesialis bedah dari RSU Bunda, jangan membiasakan memberi minum dengan alasan menghilangkan syok, karena bisa meningkatkan risiko masalah pernapasan.

Untuk menghentikan darah sementara, gunakan benda bersih yang bisa ditemukan di sekitar untuk mengikat bagian luka pada pasien. Langkah selanjutnya adalah memulai perbincangan ringan dengan pasien. Pasien dengan indikasi cedera otak ringan biasanya akan mengoceh saat diajak bicara. Pertahankan kesadaran pasien hingga datang bantuan medis.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon