Diapit Sejumlah Lempeng, Indonesia Rawan Gempa

Selasa, 22 April 2014 | 15:48 WIB
AR
YD
Penulis: Ari Supriyanti Rikin | Editor: YUD
Petugas memperlihatkan hasil catatan getaran gempa (seismograf).
Petugas memperlihatkan hasil catatan getaran gempa (seismograf). (Antara/Rudi Mulya)

Jakarta - Posisi Indonesia yang diapit dua lempeng yakni lempeng di Samudera Hindia dan Pasifik menyebabkan Indonesia rawan gempa.

Jika terjadi pergerakan lempeng, gempa bumi pun kerap terjadi. Bahkan sejak 1992 hingga 2012 telah terjadi 33 gempa bumi atau peristiwa ini terjadi sekali dalam setahun.

Deputi Bidang Geofisika Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Masturyono mengatakan lempeng di Samudera Hindia mendorong gerakan ke arah Timurlaut dan di Samudera Pasifik ke arah Baratdaya.

"Gempa yang terjadi bisa berupa gempa dangkal dan gempa dalam hingga kedalaman 600 kilometer di bawah permukaan bumi," katanya di sela-sela Sosialisasi BMKG Kepada media, di Jakarta, Selasa (22/4).

Selain itu, pulau-pulau yang terbentuk pun ada yang merupakan hasil dari penujaman lempeng Samudera Hindia.

Sementara itu untuk tsunami sejak tahun 1992- 2012 sudah terjadi 14 kali tsunami atau satu kali dalam dua tahun.

Sehingga lanjutnya daerah-daerah yang menghadap Samudera Hindia dan Pasifik rawan tsunami.

Oleh karena itu sejak November 2008 Indonesia meluncurkan Indonesia Tsunami Early Warning System (InaTEWS) atau sistem peringatan dini tsunami Indonesia. "InaTEWS harus desiminasikan peringatan tsunami dalam lima menit setelah gempabumi terjadi," ucapnya.

BMKG saat ini memiliki 163 jaringan gempa bumi untuk mendeteksi apabila gempa bumi terjadi dan 30 sirine untuk memberi peringatan dini ke masyarakat.

Jika tsunami lokal akan terjadi hanya dalam kurun waktu 30-40 menit tsunami datang, sehingga perlu waktu singkat untuk perintah evakuasi.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon