Umat Buddha Ikuti Detik-detik Waisak di Borobudur

Kamis, 15 Mei 2014 | 08:06 WIB
B
WP
Penulis: BeritaSatu | Editor: WBP
Sejumlah Bhiksu membawa kendi berisi air suci pada prosesi penyemayaman air suci dan api abadi Tri Suci Waisak tahun 2558 B.E/ 2014 di Candi Mendut, Mungkid, Magelang, Jateng, Selasa (13/5) petang. Air suci dari Umbul Jumprit Temanggung dan api abadi dari Mrapen Grobogan bersma-sama disemayamkan di dalam Candi Mendut untuk dibawa ke candi Borobudur pada puncak peringatan Tri Suci Waisak pada Kamis (15/5).
Sejumlah Bhiksu membawa kendi berisi air suci pada prosesi penyemayaman air suci dan api abadi Tri Suci Waisak tahun 2558 B.E/ 2014 di Candi Mendut, Mungkid, Magelang, Jateng, Selasa (13/5) petang. Air suci dari Umbul Jumprit Temanggung dan api abadi dari Mrapen Grobogan bersma-sama disemayamkan di dalam Candi Mendut untuk dibawa ke candi Borobudur pada puncak peringatan Tri Suci Waisak pada Kamis (15/5). (Antara/Anis Efizudin)

Magelang - Ribuan Umat Buddha mengikuti detik-detik Waisak 2558 BE/2014 di pelataran sisi barat Candi Borobudur, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, Kamis dini hari (15/5).

Detik-detik Waisak yang berlangsung pukul 02.15.37 WIB diawali dengan semadi di depan altar utama di sebelah barat Candi Borobudur.

Adapun detik-detik Waisak ditandai dengan pemukulan beduk dan genta, dan dilanjutkan pembacaan doa oleh masing-masing majelis agama Buddha secara bergantian.

Biksu Tadisa Paramita Mahasthaviira dalam renungan detik-detik Waisak mengatakan, Sang Buddha mengajarkan kesederhanaan, kehidupan bersih yang mengekang kehidupan jahat.

Ia mengatakan, Sang Buddha selalu mengajarkan cinta kasih, simpati, dan kesemimbangan batin.

"Cinta kasih adalah rasa persaudaraan, persahabatan yang mendorong berbuat kebaikan. Cinta kasih adalah keiinginan untuk membahagiakan makhluk lain dan menyingkirkan kebencian. Cinta kasih yang diajarkan Sang Buddha adalah cinta kasih yang universal," ungkap dia.

Ia mengatakan, belas kasih harus menggema dan menyebar ke segenap penjuru untuk menetralisir akumulasi kegelisahan umat manusia.

Usai berdoa di depan altar, para biksu melakukan pradaksina, yakni berjalan mengelilingi Candi Borobudur searah jarum jam sebanyak tiga kali.

Rangkaian perayaan Tri Suci Waisak dan detik-detik Waisak di Candi Borobudur ditutup dengan pelepasan 1.000 lampion.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon