William Wongso: Kuliner Indonesia Harus Memiliki Peran di Istana Negara

Selasa, 24 Juni 2014 | 01:54 WIB
KT
B
Penulis: Kharina Triananda | Editor: B1
Pemilik LeNotre Culinary Institute, Alain LeNotre bersama Chef William Wongso seusai acara Demo Masak Kuliner Indonesia.
Pemilik LeNotre Culinary Institute, Alain LeNotre bersama Chef William Wongso seusai acara Demo Masak Kuliner Indonesia. (Istimewa)

Jakarta - Harapan seorang pakar kuliner, William Wongso, semoga pemerintahan yang baru nanti mau lebih memperkenalkan kuliner Indonesia ke para tamu kenegaraan. Karena menurutnya, solusi yang paling efektif untuk memperkenalkan kuliner kita ke dunia adalah dimulai dari istana negara.

"Di pemerintahan yang baru kuliner kita harus punya peran di istana negara. Kalau hal itu berlaku, maka masyarakat akan lebih mudah untuk mengikuti," imbuhnya pada acara Lenggak Lenggok Kuliner Betawi oleh AKI (Akademi Kuliner Indonesia) di Jakarta, Senin (23/6).

Dilanjutkannya, bahwa menunya harus benar-benar dipilih dan penyajiannya juga tidak boleh sembarangan.

Hal tersebut dipercaya William bisa memicu pelaku kuliner yang lain untu melakukan hal yang baik, tidak hanya sekedar memasak.

"Sajian kenegaraan di istana negara belum ada yang baku. Paling pengalaman pertama kita mengangkat kuliner Indonesia pada sajian kenegaraan ya saat APEC kemarin. Biasanya di istana negara tamu dari Argentina disuguhinya malah steak yang tidak begitu spesial buat mereka," terang William.

Ia juga mengeluhkan respon para pejabat negara terhadap filosofi tumpeng yang terkesan dianggap remeh. Dikatakannya, sudah dari 10 tahun lalu ia dan Prof. Murdijati Gardjito (ahli kuliner Jawa) mensosialisasikan mengenai memotong tumpeng yang benar. Namun, tetap tidak di adaptasikan.

"Yang paling atas diibaratkan Tuhan, di bagian bawah manusia atau rakyat. Dan lauk pauk yang mengelilinya adalah simbol kemakmuran. Kira-kira begitulah. Nah, kalau bagian atas dipotong, bagaimana hubungan masyarakat dengan Tuhan?" katanya.

Dilanjutkannya, yang benar adalah mengambil nasi tumpeng dari bagian bawah dulu. Semakin turun kerucut yang di bagian atas, maka semakin baik. Karena berarti hubungan masyarakat dengan Tuhan semakin dekat.

"Padahal bila pemotongan tumpeng yang baik itu diterapkan di istana negara, masyarakat Indonesia juga akan mengikuti," imbuh William.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon