Pemerintah Diharapkan Bisa Berinvenstasi untuk Mengolah Sampah dari Hulu ke Hilir
Senin, 3 November 2014 | 15:36 WIB
Jakarta - Hingga saat ini masalah sampah masih menjadi perhatian banyak pihak, karena kegiatan daur ulang masih belum sebanding dengan volume sampah yang semakin banyak, terutama di di daerah perkotaan. Sampah dari Jakarta misalnya, setiap harinya diperkirakan terkirim 130 ton ke tempat pembuangan akhir (TPA).
"Selama dua hari, sampah dari Jakarta sudah setinggi Candi Borobudur. Jadi setiap tahunnya sama saja warga Jakarta mengirim 135 Candi Borobudur ke TPA di Bantar Gebang," ungkap M Bijaksana Junerosano, Direktur dari Organisasi Waste4Change pada jumpa pers Program Zero Waste oleh The Body Shop Indonesia di Jakarta, Senin (3/11).
Junerosano mengharapkan pemerintah, sebagai elemen paling atas yang bisa mengurangi masalah sampah bisa berinvestasi untuk melakukan manajemen sampah, mulai dari hulu ke hilir.
Undang-undang yang mengatur tentang sampah sebenarnya sudah ada sejak 2008, menyusul Peraturan Pemerintah pada 2012. Namun sangat disayangkan, implementasinya masih sangat kurang optimal.
"Edukasi pemilahan sampah juga belum maksimal di masyarakat. Atau warga sudah memilah sampah rumah tangga mereka, namun pihak kebersihannya malah mencampur saja," katanya.
Menurutnya, syarat paling dasar dari UU dan PP tentang sampah itu adalah kewajiban setiap orang memilah sampah mereka dengan baik dan wajib membayar iuran sampah. Selain itu, perusahaan atau pihak swasta juga memiliki tanggung jawab atas sampah-sampah dari produknya.
"Selain sampah organik (bisa membusuk) dan anorganik (tidak membusuk), sebenarnya ada juga sampah B3, yakni sampah Bahan Beracun dan Berbahaya. Contohnya, seperti baterai bekas, lampu bekas, kaleng hairspray dan sebagainya. Sebaiknya sampah itu juga dipisahkan," pungkas Junerosano.
Namun saat ini pihak yang bisa mendaur ulang sampah B3 harus yang sudah tersertifikasi. Menurutnya, Waste4Change sendiri belum bisa untuk recycle ataupun upcycle (mengolah kembali) sampah B3 tersebut. "Kita hanya bisa melakukan handling saja, seperti memilah, memindahkan dan men-storage," imbuhnya.
Lebih lanjut lagi, kalau tidak segera ditangani akan semakin banyak penyakit yang berkembang akibat lingkungan yang kotor.
"Tidak hanya dialami manusia, di Surabaya sendiri pernah dilakukan penelitian yang mengungkapkan bahwa banyak ikan-ikan di sungai yang berkelamin ganda, karena banyak makan sampah atau limbah yang ada di sungai. Mereka mengalami mutasi gen," terangnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




