Stimulus Kuroda Kembalikan Fokus pada Panah Ketiga Abe

Senin, 3 November 2014 | 21:03 WIB
B
B
Penulis: Bloomberg/WYU | Editor: B1
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe
Perdana Menteri Jepang, Shinzo Abe (AFP PHOTO)

Tokyo - Ekspansi stimulus tak terduga Bank Sentral Jepang (BOJ) membuat kebijakan ekonomi Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe dan keputusannya terhadap peningkatan pajak penjualan disorot kembali.

Walaupun laba perusahaan lebih tinggi, yen lebih rendah dan saham telah melonjak 57 persen sejak Abe menjalankan roda pemerintahannya 22 bulan yang lalu, ekspansi ekonomi yang berkelanjutan tetap sulit dipahami. Kenaikan harga konsumen hanya setengah jalan ke target bank sentral dan Produk Domestik Bruto (PDB) berkontraksi paling tinggi dalam lima tahun pada kuartal kedua setelah peningkatan pertama retribusi penjualan.

"Sangat mungkin bahwa langkah yang dilakukan BOJ dan GPIF untuk meningkatkan saham, indeks kunci yang dikhawatirkan Abe. Ada keraguan yang tumbuh atas Abenomics tetapi ini akan tumbuh lagi. Abenomics dimulai dengan (langkah) BOJ dan akan kembali berjalan dengan (langkah) BOJ." ujar Ahli Strategi Jepang Bank of Tokyo-Mitsubishi UF,J Takahiro Sekido, di Tokyo, Senin (3/11).

Sekido menjelaskan, stimulus tambahan bank sentral ini juga meningkatkan kemungkinan adanya lanjutan kenaikan pajak penjualan. Retribusi ini dinaikkan menjadi delapan persen dari awalnya lima persen pada April tahun ini dan direncanakan naik 10 persen pada Oktober 2015.

Abe menyamakan programnya seperti tiga anak panah, yang masing-masing bisa dipatahkan, tetapi jika disatukan menjadi sangat kuat atau tidak bisa patah.

Dua panah pertama, yakni pelonggaran moneter dari BOJ dan pengeluaran fiskal dari pemerintah, sudah berjalan, dan didukung oleh langkan Kuroda pada pekan lalu.

Panah ketiga, yakni strategi pertumbuhan yang berpusat pada reformasi struktural dan deregulasi, menghadapi perlawanan, mulai dari dalam birokrasi hingga petani yang berusaha mempertahankan hambatan perdagangan.

"Kebijakan pelonggaran BOJ menegaskan skala tantangan yang dihadapi pemerintah Abe dalam mencari cara untuk memberikan pertumbuhan riil yang kuat secara berkelanjutan dan inflasi, pada saat yang sama juga mengurangi defisit fiskal," jelas Kepala Penguasa Asia-Pasifik di Fitch Ratings, Andrew Colquhoun, dalam catatannya.

Abe berada di bawah tekanan untuk mempercepat upaya memperkuat tata kelola pemerintahannya, deregulasi pertanian, meningkatkan partisipasi perempuan dalam perjanjian tenaga kerja dan perdagangan yang aman untuk modal pertumbuhan jangka panjang. Dia juga harus memutuskan dalam beberapa bulan mendatang jika Jepang dapat melanjutkan kenaikan pajak penjualan untuk membantu mengendalikan beban utang terberat di dunia itu, bahkan saat dia mempertimbangkan berapa banyak untuk menurunkan pajak perusahaan.

"Ketika BOJ mengulur waktu, pemerintah harus melakukan dua hal: mempromosikan strategi pertumbuhan dan konsolidasi fiskal. Jika pemerintah tetap malas, puas dan hanya menikmati manfaat dari lemahnya yen dan kenaikan harga saham, maka kami akan membuang-buang waktu dan hasilnya akan mengerikan," kata Kepala Ekonom Jepang di JPMorgan Chase & Co yang juga mantan pejabat BOJ, Masaaki Kanno.

Ruang bernapas untuk Abe datang dalam bentuk pernyataan pada 31 Oktober lalu bahwa BOJ akan menaikkan target tahunan untuk memperluas basis moneter sampai 80 triliun yen (US$ 712 miliar), naik 60-70 triliun yen. Gubernur BOJ Haruhiko Kuroda juga memimpin dewan Bank Sentral untuk memutuskan menaikan laju pembelian dana yang diperdagangkan di bursa dan real estate trust Jepang hingga tiga kali lipat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon