Konsep Ujian Nasional Akan Diubah
Jumat, 14 November 2014 | 10:09 WIB
Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Anies Baswedan akan mengubah konsep ujian nasional (UN) yang berlaku saat ini. UN nantinya tidak akan dipakai menjadi penentu kelulusan, melainkan sebagai alat ukur untuk pemerataan pendidikan.
"UN untuk alat ukur pemerataan pendidikan, kita bisa gunakan. Tapi apakah itu akan dipakai untuk kelulusan, soal lain," kata Anies di Jakarta, Kamis (13/11).
Anies mengatakan, seperti Kurikulum 2013, pihaknya juga akan mengevaluasi UN. Dia mengaku menemukan banyak siswa yang merasa kelelahan belajar karena harus memenuhi target kelulusan UN. Akibatnya, pendidikan menjadi sebuah penderitaan atau beban, bukan hal yang menyenangkan dan mencerahkan.
"Undang-undang juga mengarisbawahi bahwa yang krusial adalah persoalan pemerataan. Jadi UN untuk kepentingan siswa nomor itu nomor satu," kata Anies.
Anies mengatakan masih mencari solusi untuk menjadikan UN sebagai pemerataan pendidikan. Dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19/2005 tentang Standar Nasional Pendidikan (SNP), UN memiliki empat fungsi yaitu pemetaan, alat penentu kelulusan, alat seleksi ke jenjang lebih tinggi, dan pembinaan (intervensi).
"Saya cari solusi, bagaimana kita bisa memetakan dengan baik," katanya.
Selain mengubah konsep UN, Anies juga akan memperbaiki metode mengajar di sekolah. Jika metode mengajarnya baik dalam arti para guru memiliki modal atau teknik mengajar yang tepat maka materi apapun dapat diajarkan dengan baik.
"Bukan persoalan kurikulumnya, tetapi yang sering menjadi masalah itu metode mengajarnya. Yang perlu kita perbaiki itu metode mengajar," katanya.
Menurutnya, tanpa perubahan metodologi justru akan muncul banyak masalah. "Sekarang yang jadi kunci justru fokus pada metodologi," katanya.
Menurut Anies, Kemdikbud akan mengundang para ahli metodologi dan mereka diajak untuk mengembangkan proses belajar mengajar. Selain itu, para guru berpengalaman juga akan dilibatkan.
"Jangan seakan-akan semua ide itu datang dari menterinya," katanya.
Sementara itu, pakar pendidikan Arief Rachman mengatakan, UN memang memberatkan para siswa karena di dalamnya terlalu mengagungkan nilai, sedangkan prestasi tidak diperhatikan.
"Sebetulnya, kalau UN itu dimengerti mengapa kita mempunyai UN, anak-anak tidak akan merasa terlalu berat," katanya.
Arief menambahkan, UN terlalu menghargai produk atau hasil, sedangkan proses tidak dihargai. "Hal-hal seperti ini yang membuat kita jengah," ujarnya.
Terkait Kurikulum 2013, Arief mengatakan kurikulum tersebut terlalu mengajarkan tentang apa dan bagaimana, bukan mengapa kurikulum itu diberikan.
"Saya menganggap keluhan anak-anak itu masuk di akal dan saya paham," katanya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




