Kontrasepsi Jangka Panjang Lebih Efektif Cegah Kehamilan

Sabtu, 22 November 2014 | 11:23 WIB
H
B
Penulis: Herman | Editor: B1

Jakarta - Data yang disampaikan Departemen Perdagangan AS melalui Biro Sensusnya menyebutkan, Indonesia merupakan penyumbang jumlah penduduk terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan Brasil. Dengan laju pertumbuhan penduduk sebesar 1,49 persen per tahun, saat ini jumlah penduduk Indonesia diperkirakan mencapai 253,60 juta jiwa.

Ketua Ikatan Bidan Indonesia (IBI) Emi Nurjasmi mengatakan, upaya untuk menekan angka kelahiran di Indonesia memang belum menunjukkan hasil yang menggembirakan. Apalagi dalam lima tahun terakhir pelaksanaan program Keluarga Berencana (KB), Contraceptive Prevalence Rate (CPR) hanya meningkat 0,5 persen. Artinya dalam setahun, cakupan KB hanya meningkat 0,1 persen saja.

"Ada banyak faktor yang membuat cakupan KB tidak terlalu meningkat, seperti minimnya pengetahuan masyarakat tentang metode KB yang tepat dan masih adanya anggapan kalau banyak anak itu banyak rezeki," kata Emi Nurjasmi kepada Beritasatu.com, Sabtu (22/11).

Lantaran minimnya pengetahuan yang dimiliki, banyak masyarakat yang enggan menggunakan Metode Kontrasepsi Jangka Panjang (MKJP) melalui IUD (spiral) atau implan. Mereka lebih memilih penggunaan pil KB atau suntik, karena dianggap lebih praktis.

"Penggunaan pil KB atau suntik memang efektif mencegah kehamilan. Namun yang dikhawatirkan adalah sustainability-nya, karena tingkat drop out atau berhentinya cukup tinggi. Banyak yang lupa minum pil KB atau terlambat suntik KB, sehingga memungkinkan terjadinya kehamilan," terang dia.

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Fasli Jalal mengatakan, penggunaan MKJP melalui IUD (spiral) atau implan memang perlu digalakkan terus-menerus karena lebih efektif menurunkan laju pertumbuhan penduduk. Sebab tingginya jumlah penduduk sangat berdampak pada banyak hal, seperti masalah sosial, ketersediaan pangan, energi, lapangan pekerjaan, dan sebagainya.

"Cakupan KB memang hanya meningkat 0,1 persen saja per tahun. Itu kecil sekali. Tapi walaupun tidak bertambah secara signifikan, bila penggunaan MKJP-nya meningkat, itu akan membuat laju pertumbuhan penduduk turun. Jadi, bukan hanya cakupannya saja yang penting, melainkan juga peningkatan penggunakan MKJP," kata Fasli Jalal.

Bila benar-benar tidak ingin punya anak lagi atau karena ada masalah kesehatan, lanjutnya, metode kontrasepsi sterilisasi dengan cara vasektomi atau tubektomi juga dapat dilakukan. Namun metode ini perlu didiskusikan lebih mendalam bersama dokter ahli, karena sifatnya permanen. Kalau pun ingin hamil lagi, tindakan medis yang harus dilakukan tidaklah sederhana, yaitu dengan cara rekanalisasi atau penyambungan ulang.

"Metode vasektomi untuk laki-laki dan tubektomi untuk perempuan sebetulnya sudah lama jadi program pemerintah. Walaupun persentasenya belum begitu besar, tapi jumlahnya semakin meningkat dan membuat kami optimistis," terang Fasli.

Meski dianggap paling efektif, namun pemerintah, menurutnya tidak bisa memberlakukan kebijakan kontrasepsi vasektomi dan tubektomi bagi warganya untuk menekan laju pertumbuhan penduduk.

"Kontrasepsi itu sifatnya sukarela, kami tidak bisa memaksa. Yang bisa dilakukan adalah memberikan fasilitas KB dan pemahaman kepada masyarakat tentang pentingnya KB untuk menciptakan keluarga bahagia dan sejahtera," tambah Fasli Jalal.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon