Polisi Penembak Remaja Kulit Hitam di Ferguson Mengundurkan Diri
Minggu, 30 November 2014 | 21:14 WIBFerguson – Polisi kulit putih yang menembak mati seorang remaja kulit hitam di pinggiran Ferguson, St. Louis telah mengundurkan diri, tapi hal tersebut gagal mencegah para demonstran yang marah dan menuntut keadilan serta reformasi.
Seperti dikutip dari sebuah surat yang diterbitkan oleh media setempat pada Sabtu (29/11), Darren Wilson meninggalkan kesatuannya karena khawatir pada keselamatan warga setempat dan sesama petugas polisi. Wilson menulis dalam suratnya bahwa "Ini merupakan harapan saya bahwa dengan pengunduran diri saya maka bisa menyembuhkan masyarakat ."
Keputusan Dewan Juri yang dikeluarkan pada Senin (24/11), yang memutuskan untuk tidak mendakwa Wilson sehubungan dengan peristiwa penembakan mati remaja bernama Michael Brown (18 tahun) telah memicu aksi kekerasan sporadis selama berhari-hari di Ferguson serta aksi demonstrasi di sejumlah kota-kota besar di seluruh Amerika Serikat (AS).
Kini keputusan itu membangkitkan banyak pertanyaan tentang bagaimana petugas polisi, khususnya para petugas polisi kulit putih, berinteraksi dengan warga Amerika keturunan Afrika – pertanyaan-pertanyaan itu kembali diajukan setelah peristiwa penembakan yang terjadi pada pekan lalu terhadap Tamir Rice (12 tahun) di Cleveland.
"Harapan saya adalah melanjutkan tugas saya sebagai polisi, tapi keselamatan para petugas polisi lainnya dan masyarakat-lah yang paling penting bagi saya," demikian pernyataan yang disampaian Wilson (28 tahun) dalam surat tersebut.
Puluhan demonstran pun kembali berkumpul di luar kantor polisi Ferguson meski dia telah memutuskan untuk berhenti, bersamaan dengan para demonstran yang membakar bendera Amerika Serikat dan mencemooh para polisi.
Salah satu pria bernama Kenny mengatakan "Saya sangat marah, setiap malam kami akan berada di sini."
Selain itu juga ada pertikaian singkat di luar sebuah bar antara para pendemo dan polisi anti huru hara sebelum pihak penyelenggara demonstrasi memindahkan para pendemo.
Sebelumnya pada Sabtu, kelompok inti dari sekitar 100 demonstran, sebagian besar dari negara-negara bagian AS, melakukan perjalanan bertema "Perjalanan demi Keadilan" sejauh 192 kilometer, dari Ferguson – pinggiran daerah yang paling banyak dihuni penduduk kulit hitam – menuju ibukota negara Missouri, Jefferson City.
Aksi demonstrasi, yang digalang oleh Asosiasi Nasional untuk Kemajuan Kulit Berwarna (NACCP), ini menuntut pemecatan kepala polisi Ferguson, reformasi kepolisian nasional dan mengakhiri pembuatan profil rasial.
"Kami akan berjuang hingga neraka membeku, dan kemudian kami akan berjuang di atas es," ujar Presiden NAACP Cornell William Brooks kepada wartawan di Gereja Washington Metropolitan A.M.E. Zion sebelum mereka berangkat.
"Apa yang sedang kami lakukan di sini adalah untuk mencari keadilah bagi keluarga yang berduka serta sistemik, reformasi fundamental yang terkait dengan kepolisian bagi masyarakat yang marah. Ketika Anda memiliki anak berusia 12 tahun yang tewas dengan pistol mainan di tangannya maka ada sesuatu hal yang salah secara fundamental," tambah dia.
Eugene Gillis, seorang pemain terompet yang ikut dalam protes di malam hari, mengatakan para pemrotes muda merasa terasingkan dan menolak generasi lebih tua dari aktivis yang dibentuk oleh pemimpin hak asasi sipil Martin Luther King, Jr. yang tewas terbunuh.
"Sebagian besar dari kaum muda mengatakan orang-orang ini berada di luar sini untuk berfoto dan itulah yang memperburuk masalah," kata Gillis kepada AFP.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




