18 Kepala Distrik Studi Banding ke Singapura, Bupati Belum Tahu

Selasa, 9 Desember 2014 | 06:34 WIB
B
YD
Penulis: BeritaSatu | Editor: YUD
(beritasatu.com)

Timika - Bupati Mimika, Papua, Eltinus Omaleng mengaku tidak mengetahui bahwa 18 kepala distrik (camat) dan sejumlah lurah di wilayahnya saat ini sedang menikmati kegiatan perjalanan dinas berkedok studi banding ke Batam sampai negara tetangga, Singapura.

"Oh ya, saya tidak tahu. Sampai sekarang saya belum dapat laporan dari staf," kata Bupati Eltinus Omaleng di Timika, Selasa (9/12).

Bupati Omaleng mengatakan selama beberapa hari terakhir dirinya sibuk melakukan kegiatan turun ke kampung-kampung (turkam) di wilayah Distrik Tembagapura mulai dari Aroanop, Tsinga dan Banti sepulang dari kegiatan studi banding ke Tiongkok 21-29 November 2014 untuk menjajaki peluang investasi di bidang pemurnian limbah tailing Freeport dengan asosiasi pengusaha Tiongkok.

Di sela-sela kegiatan turkamnya ke kampung-kampung pedalaman, Bupati Omaleng juga menyempatkan diri untuk melakukan inspeksi mendadak (sidak) ke lokasi pengambilan material galian C di sekitar Kota Timika yang dinilai merusak lingkungan, melihat realisasi pembangunan jalan-jalan dan jembatan di sekitar Kota Timika dan berbagai aktivitas yang merugikan masyarakat seperti perjudian, penimbunan BBM, penjualan miras dan lainnya.

Bupati Omaleng berjanji untuk mencari tahu kebenaran soal perjalanan dinas puluhan pejabat kadistrik dan lurah tersebut. Jika diketahui bahwa kegiatan perjalanan dinas para kadistrik dan lurah tersebut bermasalah maka hal itu akan ditindaklanjuti secara serius.

"Saya kira ini sudah tidak benar. Mereka pakai anggaran darimana? Nanti saya cek soal ini," ujarnya.

Bupati Omaleng menegaskan bahwa masyarakat Mimika tidak perlu mempersoalkan kegiatan perjalanan dinas dirinya dengan membawa sejumlah pimpinan SKPD ke Tiongkok baru-baru ini.

"Kalau kegiatan kami ke Tiongkok itu menggunakan anggaran Dinas Pertambangan dan Energi karena berkaitan dengan masalah pertambangan. Tapi kalau semua kepala distrik dan lurah jalan-jalan sampai ke Singapura, saya benar-benar tidak tahu," katanya.

Makin maraknya kegiatan perjalanan dinas para pejabat di Pemkab Mimika mendapat sorotan tajam dari Ketua Komisi A DPRD Mimika, Athanasius Allo Rafra beberapa waktu lalu.

Allo Rafra mempertanyakan kegiatan hasil studi banding sejumlah pejabat ke Belanda beberapa waktu lalu yang menelan anggaran daerah cukup besar.

"Beberapa waktu lalu saudara Kepala Dispenda bersama staf dan Bappeda Mimika melakukan studi banding ke Belanda. Kita tidak tahu untuk kepentingan apa mereka ke sana. Sejauh mana tindak lanjut dari kegiatan studi banding itu untuk kepentingan daerah ke depan," tanya politisi PDI-Perjuangan itu.

Ia menilai kegiatan studi banding para pejabat ke luar negeri selama ini tidak memberikan manfaat apa-apa untuk kepentingan daerah, padahal sudah menghabiskan anggaran yang sangat besar.

Sebagai contoh, katanya, pada sekitar awal tahun 2000-an Pemkab Mimika juga menggelar studi banding ke Darwin, Australia dengan membawa puluhan pejabat dan tokoh masyarakat Amungme dan Kamoro.

Rencana membangun kerja sama 'sister city' antara Darwin dan Timika, membuka perhubungan langsung baik udara maupun laut dari Timika ke Darwin dan mengajak investor Darwin untuk datang membuka usaha di Timika sampai hari ini tidak pernah terealisasi satupun atau hanya sekadar 'pepesan kosong'.

Mantan Caretaker Bupati Mimika periode 2007-2008 itu berharap pemerintahan Bupati Eltinus Omaleng saat ini seharusnya memperketat kegiatan studi banding dan perjalanan dinas para pejabat terutama ke luar negeri.

"Kami juga pertanyakan keberangkatan rombongan ziarah rohani ke Jerusalem yang berjumlah puluhan orang dibagi dua gelombang. Sebagian besar dari mereka itu orang-orangnya pejabat tertentu. Masa' untuk kegiatan itu saja pemerintah daerah harus menganggarkan Rp5 miliar," kritik Allo Rafra.

Menurut dia, kegiatan studi banding ke luar negeri bisa saja dilakukan jika hal itu akan memberikan dampak yang positif untuk percepatan pembangunan daerah yang pada gilirannya nanti dapat mengangkat derajat hidup masyarakat setempat.

Namun, menurut Allo Rafra, daripada uang miliaran rupiah dipakai untuk kegiatan studi banding pejabat ke luar negeri, lebih baik dimanfaatkan untuk membangun rakyat asli Mimika di kampung-kampung pedalaman yang kondisi hidupnya masih sangat memprihatinkan di segala bidang yang selama berpuluh-puluh tahun kurang mendapat perhatian dari pemerintah daerah setempat.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon