Pasar Modal Fluktuatif, MAMI Pertahankan Porsi Reksa Dana

Jumat, 8 Mei 2015 | 18:53 WIB
MF
FB
Penulis: Muhammad Rausyan Fikry | Editor: FMB
CEO dan President Director Manulife Indonesia Chris Bendl (tiga kiri) bersama (kiri ke kanan) Executive Vice President & Chief Financial Officer  Manulife Indonesia Colin Startup, President Director of Manulife Aset Manajemen Indonesia Legowo Kusumonegoro, Vice President Director & Chief Agency Officer Manulife Indonesia Nelly Husnayati, Executive Vice President & Chief Operating Officer  Manulife Indonesia Sutikno Sjarif, Executive Vice President & Chief Employee Benefit  Manulife Indonesia Nur Hasan Kurniawan dan Executive Vice President & Head of Partnership Business  Manulife Indonesia Hans De Waal
CEO dan President Director Manulife Indonesia Chris Bendl (tiga kiri) bersama (kiri ke kanan) Executive Vice President & Chief Financial Officer Manulife Indonesia Colin Startup, President Director of Manulife Aset Manajemen Indonesia Legowo Kusumonegoro, Vice President Director & Chief Agency Officer Manulife Indonesia Nelly Husnayati, Executive Vice President & Chief Operating Officer Manulife Indonesia Sutikno Sjarif, Executive Vice President & Chief Employee Benefit Manulife Indonesia Nur Hasan Kurniawan dan Executive Vice President & Head of Partnership Business Manulife Indonesia Hans De Waal (Majalah Investor/Uthan A Rachim)

Jakarta – PT Manulife Aset Manajemen Indonesia (MAMI) tetap mempertahankan alokasi aset dalam portofolio produk reksa dana sahamnya meskipun pasar saham tengah berfluktuasi. Perseroan tidak mengubah persentase alokasi aset di tengah fluktuasi pasar saham.

Presiden Direktur Manulife Aset Manajemen Indonesia Legowo Kusumonegoro mengatakan, strategi perseroan dalam menghadapi volatilitas pasar adalah dengan pemilihan sektor dan stok. Perseroan hanya memindahkan sebagian alokasi aset produk saham ke instrumen pasar uang jika ada redemption.

"Karena kita akan membutuhkan kas," tuturnya di Bogor, Jumat (8/5).

Dia melanjutkan, strategi tersebut dilakukan perseroan karena pada dasarnya perseroan menjalankan mandat dari investor. Menurut Legowo, investor reksa dana saham tentu menginginkan mayoritas asetnya dalam bentuk saham, meskipun dalam kondisi volatilitas yang tinggi.

Investor yang memilih reksa dana saham tentu sudah memahami segala keuntungan dan risikonya. Perseroan tetap menempatkan produk reksa dana sahamnya fully invested.

"Namun, dalam volatilitas yang sedang tinggi kita masuk saham-saham yang lebih defensif. Saham yang likuiditasnya lebih tinggi dan saham-saham big cap," ucap Legowo. Hal sebaliknya terjadi, jika strategi perseroan sedang agresif, maka akan masuk ke saham-saham second liner yang middle dan small cap.

Sementara itu, strategi serupa dilakkan pada produk pasar fixed income (pendapatan tetap). Perseroan tidak memindahkan alokasi asetnya kepada yang lebih aman.

"Kita tidak memindahkan alokasi aset di SUN (surat utang negara) ke obligasi korporasi, karena itu likuiditasnya rendah," tutur dia. Menurut Legowo, risiko produk pendapatan tetap tidak hanya terdapat pada fluktuasi harga, tetapi juga risiko likuiditas.

Strategi MAMI untuk produk pendapatan tetap adalah memilih durasi. Saat ini perseroan memiliki tiga kelas durasi untuk pendapatan tetap, yaitu 2 tahun, 5 – 7 tahun, dan di atas 10 tahun.

Menyederhanakan Produk
Sementara itu, dalam acara corporate social responsibility (CSR) perseroan di SMAN I Ciawi, Bogor, Legowo mengungkapkan bahwa manajer Investasi harus mampu menyederhanakan produk-produk investasi yang ditawarkan kepada masyarakat. Hal tersebut diperlukan agar masyarakat paham dan percaya kepada produk investasi manajer investasi.

Legowo mengatakan, masyarakat Indonesia saat ini masih banyak yang awam terhadap investasi. Oleh sebab itu manajer investasi perlu memasarkan produk investasi sesuai terminologi masyarakat.

"Perlu penyederhanaan dalam bahasa yang disampaikan dan menawarkan produk yang volatilitasnya rendah," tutur Legowo.

Menurut dia, masyarakat Indonesia sudah lama terbuai dengan produk bank seperti tabungan dan deposito. Sebagian besar masyarakat saat ini belum siap dan terbiasa dengan volatilitas.

Oleh sebab itu, produk investasi harus masuk dengan karakter yang hampir sama dengan produk bank. Legowo mengatakan, produk yang lebih cocok untuk masyarakat yang dalam tahap awal berinvestasi adalah reksasana pasar uang.

"Volatilitasnya rendah, returnnya mampu bersaing dengan deposito dan dapat diambil kapan saja seperti tabungan," ungkapnya. Legowo menambahkan, produk saham belum cocok untuk sebagian besar masyarakat karena volatilitasnya tinggi. 

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon