ARB Siap Kompromi Demi Golkar
Kamis, 21 Mei 2015 | 16:47 WIB
Cilegon - Ketua Umum Partai Golkar versi Musyawarah Nasional (munas) Bali Aburizal Bakrie (ARB) menyatakan, tidak akan membiarkan partainya tidak ikut pilkada serentak yang akan digelar Desember 2015 hanya karena konflik. ARB bahkan menyatakan, siap berkompromi untuk menemukan titik temu demi kepentingan Partai Golkar.
"Saya akan realistis, karena waktunya tidak cukup jika melakukan perlawanan hukum saja. Meskipun sedikit mengalah, saya tidak akan membiarkan Golkar tidak ikut pemilu. Jadi, kader Golkar tidak usah khawatir, tunggu waktunya kita bisa menyelesaikan masalah ini," ujar ARB dalam sambutannya pada pembukaan Munas Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) di Hotel Grand Mangkuputra, Cilegon, Banten, Kamis (21/5) siang.
Acara tersebut dihadiri pula Ketua Umum Depinas SOKSI Dr Ade Komarudin, Ketua Dewan Perimbangan Golkar Dr Ir Akbar Tandjung, sesepuh Golkar dan SOKSI Oetojo Usman, Thomas Suyatno, dan pendiri SOKSI Prof Drs Suhardiman SE serta Wali Kota Cilegon Dr H Tb Iman yang juga Ketua Depidar SOKSI Banten.
Aburizal lebih lanjut mengatakan, saat ini tengah ada upaya untuk yang dijembatani Wakil Presiden Jusuf Kalla untuk mempertemukan kedua kubu Golkar (kubu Golkar versi Munas Bali yang dipimpin Aburizal Bakrie dan versi Munas Ancol pimpinan Agung Laksono). Menurutnya, islah adalah jalan atau solusi terbaik untuk menyelamatkan Golkar.
Dikatakan, putusan PTUN sudah jelas dan otomatis menunjuk bahwa jalan penyelesaian konflik Golkar adalah islah. Putusan PTUN menegaskan bahwa kepengurusan Golkar yang sah adalah hasil Munas Pekanbaru, Riau yang Ketuanya Aburizal Bakrie dan di dalamnya juga ada nama Agung Laksono sebagai Wakil Ketua Umum serta Prio Budi Santoso sebagai Ketua DPP.
Di sisi lain ARB merasa heran, mengapa pemerintah meresmikan sebuah munas partai yang pesertanya tidak jelas. "Tapi, inilah kenyataan yang mau tidak mau harus diselesaikan secara bijak, dan Golkar tidak akan kita biarkan hanya menjadi penonton dalam pilkada," ujar ARB yang juga Ketua Dewan Pembina SOKSI.
Sebuah sumber menyebutkan bahwa pernyataan ARB tersebut, sedikit menyejukkan dan menurunkan tensi konflik kedua kubu Golkar. Sebab, selama ini kubu ARB sepertinya enggan melibatkan Wapres Jusuf Kalla, karena ada kesan JK ada di balik konflik itu.
Padahal lanjut sumber itu, JK yang juga mantan Ketua Umum Golkar pun merasa dilematis. Sebagai orang Golkar dan mantan ketua umum, JK pun menerima ketika Agung Laksono bertandang ke JK, sebaliknya kubu ARB enggan merapat.
Kalau saja kubu ARB juga merapat, mungkin saja masalahnya tidak separah ini, jadi dengan kesediaan JK mempertemukan kedua belah pihak ini, diharapkan dapat menyelesaikan masalah dan Golkar bisa islah serta bisa ikut pilkada.
SOKSI Mempersatukan
Sementara itu, Ketua Depinas SOKSI Ade Komarudin dalam sambutan pembukaan organisasi ini mengatakan, SOKSI sebagai pendiri Golkar sangat berkepentingan agar Golkar tetap satu. Karena itu, dia berharap SOKSI akan menjadi bagian dari upaya islah tersebut.
Ade juga menyatakan bahwa putusan PTUN sudah maksimal dan itulah jalan menuju islah. Sebab, kalau semuanya masih bersikukuh melanjutkan proses huku, prosesnya masih panjang dan pasti yang rugi adalah Golkar sendiri.
Hal senada diutarakan anggota DPR Fraksi Golkar dari daerah pemilihan Sulawesi Selatan, Markus Nari menyatakan, upaya islah adalah jalan terbaik menuju Golkar bersatu. Kesediaan berkompromi dari Aburizal Bakrie adalah langkah bijak dan diharapkan dapat mencairkan kebekuan komunikasi politik internal Golkar.
Ade juga mengingatkan, kalau pun saat ini Golkar merasa dizalimi oleh sebuah kekuatan, Golkar tidak perlu khawatir, karena kebenaran akan menang di akhirnya. Belajarlah dari pengalaman sejarah kata Ade, tokoh-tokoh yang tadinya dizalimi, seperti Soekarno oleh kolonial Belanda, akhirnya bisa tampil jadi Presiden pertama Indonesia.
Tentang kezaliman, ARB juga mengingatkan, bahwa apa yang dialami Golkar belum seberapa dengan yang dialami tokoh sekaliber Nelson Mandela yang sempat dipenjara rezim apartheit selama 28 tahun dan kemudian akhirnya Mandela tampil sebagai Presiden dan merangkul semua pihak termasuk rezim yang dulu memenjarakannya.
Di sisi lain, Ade Komarudin juga mengkhawatirkan 61 kader terbaik SOKSI yang akan ikut dalam pilkada nanti. Mereka akan ikut sebagai calon gubernur/wakil gubernur, bupati/wakil bupati, dan wali kota/wakil wali kota. Kalau sampai Golkar tidak bisa ikut Pilkada, sangat disayangkan kata Ade, karena mereka sangat potensial dan kemampuannya tak diragukan.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




