Revitalisasi Terminal Rawamangun Dikeluhkan Sopir Angkot
Senin, 25 Mei 2015 | 19:43 WIB
Jakarta - Revitalisasi Terminal Rawamangun, Jakarta Timur yang dibangun dengan konsep kolonial dikeluhkan sejumlah sopir angkutan kota (angkot). Pasalnya bangunan baru terminal tersebut justru membuat sempit jalur masuk angkot dan bus AKAP hingga membuat rusak badan angkot.
Seorang sopir angkot T 25 jurusan Cakung-Pondok Kopi, Ahmad (35) mengatakan, jalur bus yang menikung dan sempit membuat lecet badan angkot. "Terminal dibangun malah merugikan karena jalannya sempit. Tikungannya juga tajam, jadi kalau mau belok susah, angkot jadi kegesek tembok dan lecet," keluhnya, Senin (25/5).
Namun sejak sebulan terakhir, pihak terminal telah memperbaiki dengan melebarkan jalan tikungan menuju terminal. Menanggapi hal ini, Ahmad mengaku lebih memilih melintasi jalur bus AKAP yang lebih lebar.
"Jalannya memang sudah dilebarkan tapi kalau belok tetap harus serong banget. Sementara ini angkot banyak yang lewat jalur bus AKAP dulu yang lebih lebar," imbuhnya.
Kepala Sub Bagian Tata Usaha Unit Pengelola (Kasubag TU UP) Terminal Rawamangun, Dinas Perhubungan DKI Jakarta Didi Supardi mengungkapkan, jalur masuk Terminal Rawamangun ini memang dibuat menikung tajam lantaran adanya kantor Suku Dinas (Sudin) Perhubungan Jakarta Timur.
"Lajur yang sekarang itu bukan yang sebenarnya. Itu dibuat menikung untuk menghindari bangunan sudin perhubungan yang belum dihapus (bongkar). Kalau dibuat lurus ya tidak akan menghambat bus masuk," kata Didi saat ditemui di ruangannya.
Rencananya, kantor Sudin Perhubungan ini memang akan dibongkar dan dipindahkan ke lantai dua area Terminal Rawamangun. Pihaknya mengaku telah berkirim surat ke Badan Pengelola Keuangan Aset Daerah (BPKAD) terkait pembongkaran ini. Namun ia sendiri belum tahu kapan bangunan tersebut akan dibongkar. Untuk mengantisipasi belokan yang terlalu tajam ini, pihaknya sementara memperlebar jalan tikungan ini.
"Untuk sementara jalannya sudah dilebarkan setengah meter. Kalau bus seperti AKAP memang tidak bisa masuk takutnya nyangkut, yang boleh masuk cuma angkot dan bus yang badannya kecil," ucap Didi.
Untuk itu, ia menerapkan kebijakan bus AKAP besar parkir di luar terminal. Agar tidak menimbulkan macet, Didi membuat waktu parkir bergantian dengan sistem dorong tendang. "Kalau sudah ada satu bus berhenti kita dorong jalan, jadi tidak macet dan bergantian dengan bus lainnya," pungkasnya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Jumlah Guru RI Terus Naik tetapi Fluktuatif!
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Incar Pajak Marketplace, Purbaya Ingin Pedagang Offline-Online Setara




