Politikus Nasdem: Radikalis dan Teroris Adalah Generasi Yang Mundur
Kamis, 30 Juli 2015 | 20:06 WIB
Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI dari Fraksi Nasdem, Akbar Faisal mengatakan bahwa radikalisme dan terorisme merupakan generasi yang mundur. Karenanya, seseorang yang memiliki paham ekstrim ataupun radikalisme itu adalah orang-orang yang mundur.
"Artinya mereka itu salah mengartikan apa yang dimaksud radikal. Sebenarnya radikal itu penting asalkan untuk hal-hal yang positif, bukan radikal untuk mencelakai atau merusak sebuah tatanan sebuah negara," ujar Akbar Faisal, Kamis (30/7).
Menurutnya, aksi terorisme biasanya disebabkan oleh tiga faktor. Yakni faktor domestik, faktor internasional dan juga faktor kultural.
Faktor domestik yakni masalah kemiskinan, ketidakadilan dan kecewa kepada Pemerintah menjadi pemicu orang-orang yang bergabung ke kelompok teroris atau ISIS.
"Faktor internasional dikarenakan ketidakadilan global, politik luar negeri yang arogan serta imperialisme modern negara super power," jelasnya.
Faktor kultural yakni masalah pemahaman sempit tentang kitab suci, terutama Al Quran yang ditafsirkan secara bebas. Faktor yang terakhir ini yang selama ini sering terjadi dalam tindakan terorisme, yakni mengatasnamakan agama. "Ini yang selama ini keliru," tukasnya.
Terkait dengan ISIS, Deputi I Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Agus Surya Bakti menjelaskan bahwa kelompok itu adalah jaringan kekuatan kelompok milisi nasional yang ada di Irak dan Suriah. Belakangan mereka telah menjadi terorisme transnasional baru.
Pada awalnya kekuatan milisi nasional tidak puas pemerintahan paska-Saddam Hussein yang dikuasai kelompok Syiah. Mereka lalu berafiliasi dengan Al-Qaeda.
Dalam gerakannya, ISIS berpengaruh ke tokoh-tokoh radikal di Asia Tengah seperti di Kyrgistan, Tajikistan dan Turkmenistan. Bahkan tokoh Taliban di Pakistan juga sudah bergabung dengan kelompk itu. Selain itu, provokasi dilakukan oleh Ash Shabaab ke Eropa dan Amerika.
"Bahkan pengaruh IS ke Indonesia melalui tokoh dan kelompok radikal teroris lama," ungkap Agus.
Diakui Agus, ada fonomena yang terjadi di lingkungan perguruan tinggi terkait beberapa mahasiswa hilang secara misterius
dan dikabarkan bergabung ke ISIS. Hal itu membuktikan kuatnya propaganda, pengaruh dan niat yang sengaja dari kelompok-kelompok terorisme dan ISIS untuk mempengaruhi generasi muda.
"Mereka meninggalkan kuliahnya untuk melakukan demonstrasi. Lalu mereka bergabung dengan kelompok radikal untuk selanjutnya memahami ajaran agama yang bukan bermanfaat bagi dirinya. Ini yang selama ini keliru," kata Agus.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




