Polemik Rute Baru Trans Pakuan Bogor

Rabu, 8 Februari 2012 | 10:23 WIB
AM
B
Penulis: Antara/ Ardi Mandiri | Editor: B1
Bus Trans Pakuan Bogor
Bus Trans Pakuan Bogor (Antara)
Rencana pengoperasi rute Jalur Tengah Trans Pakuan mendapat kecaman dari sejumlah sopir angkot.

Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT) Trans Pakuan segera melakukan sosialisasi rencana pengoperasian jalur baru bus Trans Pakuan. Rencananya, jalur baru tersebut akan melayani rute Terminal Bubulak, Jalan Juanda, hingga Cidangiang Baranangsiang.

"Dalam sosialisasi ini kita akan melibatkan Dinas Lalu Lintas Angkutan Jalan (DLLAJ) dan Organisasi pengusaha angkutan darat (Organda) Kota Bogor," kata Direktur Operasional Perusahaan Daerah Jasa Transportasi (PDJT), Tri Handoyo S, di Bogor.

Tri menyebutkan tahap awal sosialisasi akan dilakukan kepada para pengusaha dan supir angkutan kota (angkot) yang selama ini melayani penumpang di rute tersebut.

Dalam sosialisasi tersebut, kata Tri pihaknya akan memaparkan layanan yang akan dilakukan oleh Trans Pakuan.

Dikatakannya, pengoperasian jalur baru Trans Pakuan yakni Jalur Tengah yang melayani rute Terminal Bubulak-Jalan Juanda hingga Cidangiang Baranangsiang, adalah sebagai salah satu langkah untuk memenuhi rekomendasi DPRD Kota Bogor yang menginginkan agar bus yang dikelola Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) itu melintas jalur tengah yakni Jalan Juanda.

"Sesuai dengan isi rekomendasi DPRD, diharapkan rencana itu bisa terwujud tahun ini. Penerapan jalur baru ini juga untuk meningkatkan layanan angkutan umum masal kepada masyarakat. Pada prinsipnya keinginan DPRD adalah keinginan masyarakat Kota Bogor," katanya.

Sementara itu, sejumlah sopir yang beroperasi di jalur Tengah yakni Jalan Juanda, Baranangsiang mengeluhkan keberadaan Trans Pakuan akan menghilangkan mata pencaharian mereka.

"Sekarang saja kami sudah kesulitan mencari setoran. Kami harus membanting tulang untuk menutupi setoran dan kebutuhan hidup. Adanya Trans Pakuan tentu menambah beban kami saja," kata Dadang (37) sopir angkot trayek 03 jurusan Bubulak-Baranangsiang.

Menurut Dadang, keberadaan angkot di pusat kota Bogor sudah cukup banyak. Penambahan rute Trans Pakuan hanya akan menyulitkan para supir.

Dadang secara tegas menolak rencana pengoperasian Trans Pakuan di jalau tengah.

"Jika ini terealisasi, maka yang menjadi korban adalah sopir dan angkot," katanya.

Hal serupa juga disampaikan Nandar (30) supir angkot tratek 02 (Sukasari-Bubulak). Ia mengeluhkan jumlah angkot yang cukup banyak tidak dibarengi dengan jumlah penumpang.

Menurut dia, jumlah penumpang cenderung menurun karena banyak masyarakat lebih memilih mengendarai kendaraan pribadi.

"Saat ini jumlah penumpang angkot terus mengalami penurunan sangat drastis. Karena sudah banyak orang yang punya motor. Mereka lebih memilih naik kendaraan pribadi ketimbang angkot," katanya.

Penurunan penumpang tersebut lanjut Nandar berdampak pada penghasilan sopir. Untuk menutupi setoran para supir kesulitan.

"Belum lagi untuk kebutuhan hidup, mana mungkin bisa kami bersaing dengan Trans Pakuan," keluhnya.

Nandar juga mengeluhkan, Pemerintah Kota Bogor tidak memusyawarahkan pengoperasian Jalur Tengah Trans Pakuan tersebuta kepada sopir.

Karena itu, lanjut Nandar, ia dan rekan-rekannya meminta pihak Pemerintah Kota Bogor tidak terburu-buru mengoperasikan bus Trans Pakuan melalui jalur tengah. Sebelum mengajak musyawarah untuk mencari jalan keluar yang tepat bersama pihak-pihak terkait.

"Kami khawatirkan jika Trans Pakuan langsung beroperasi tanpa ada musyawarah lebih dulu akan mengundang reaksi dari para pengemudi angkot. Karena keberaan Trans Pakuan Jalur Tengah selain mengganggu kelangsungan nasib angkutan, rencana ini akan memperparah kondisi kemacetan arus lalu lintas di pusat Kota Bogor," kata Nandar.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon