Ini Pasangan Pertama yang Pemotretan "Pre-Wedding" di Balai Kota

Senin, 14 September 2015 | 20:33 WIB
DP
B
Penulis: Deti Mega Purnamasari | Editor: B1
Jadi Pasangan Pertama yang Foto Pre-Wedding di Balai Kota
Jadi Pasangan Pertama yang Foto Pre-Wedding di Balai Kota (Suara Pembaruan/Deti Mega)

Jakarta - Herawan (26) dan calon istrinya menjadi pasangan pertama yang melakukan pemotretan pre-wedding di Balai Kota Jakarta sejak kantor Gubernur DKI Jakarta ini dibuka untuk umum Sabtu (12/9). Pasangan muda dari Pulogadung, Jakarta Timur ini memanfaatkan sebagian sudut gedung Balai Kota yang bangunannya berarsitektur Belanda dan penuh dengan sejarah.

"Kami sengaja [melakukan pemotretan] pre-wedding di sini, jarang juga (yang melakukannya di sini). Jadi ini kesempatan, apalagi gratis," ujar Herawan di sela pemotretan untuk pernikahannya di Balai Kota, Jakarta, Minggu (13/9).

Selama ini belum pernah ada warga yang melakukan pemotretan pre-wedding di Balai Kota. Maka tidak menutup kemungkinan jika Herawan dan pasangannya ini menjadi yang pertama melakukannya.

"Sebagai pengalaman juga. Ini baru pertama ke Balai Kota. Di sini kan tempat gubernur berkantor," katanya.

Beberapa titik menarik di Balai Kota seperti area luar, yakni pendopo, air mancur, dan selasar samping digunakannnya sebagai lokasi pemotretan. Selain itu, di bagian dalam gedung, yakni di Balairung dan Balai Agung juga tidak terlewatkan.

Banyaknya pengunjung lain yang datang ke Balai Kota tidak menggoyahkan niatan mereka untuk melakukan pemotretan. Meski dilakukan di kantor pemerintahan, tetapi Herawan mengaku tema pemotretannya ini adalah kasual.

Pengalaman pertama datang dan masuk ke dalam Balai Kota juga dirasakan oleh pasangan suami istri Mutabah (42) dan Yuni (37) beserta tiga orang anaknya. Jika biasanya mereka hanya bisa lewat di depan Balai Kota, kini mereka bisa mengetahui ruangan dalam Balai Kota seperti apa, bahkan hingga ruang rapat yang biasa digunakan Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama serta ruang tamu.

"Tahu dari tv dan koran katanya Balai Kota dibuka kalau weekend. Bagus juga. Masa orang Jakarta cuma lihat dari luar dan enggak boleh masuk. Kami antusias. Lebih menghargai artinya," ujar Mutaba.

Menurut warga Kebon Jeruk, Jakarta Barat ini, warga Jakarta juga sedianya merupakan bagian dari Balai Kota itu sendiri. Ia pun mengapresiasi langkah Basuki Tjahaja Purnama yang berani membuka Balai Kota untuk umum untuk pertama kalinya.

"Baru ini doang yang buka untuk umum. Dulu boro-boro. Ke kelurahan saja susahnya setengah mati. Sekarang sudah enak. Pelayanan buat warga enggak setengah-setengah," katanya.

Semakin siang, warga yang datang ke Balai Kota semakin padat. Bahkan jumlah pengunjung yang datang ke sana lebih banyak dari hari pertama dibuka. Menjelang sore, antrean di pintu masuk yang berada di pendopo pun semakin memanjang hingga ke dekat air mancur.

Berkat banyaknya antusiasme masyarakat itu, panitia pun akhirnya mengelompokkan pengunjung yang datang untuk masuk. Hal tersebut dimaksudkan supaya ada ruang saat di dalam ruangan sehingga pengunjung tidak menumpuk. Dengan demikian mereka bisa melihat-lihat apa yang ada di dalam ruangan tanpa harus berdesak-desakan.

"Memang kami kelompokkan, karena kalau terlalu ramai orang tidak bisa menikmati koleksi. Kalau di kelompokkan kan tenang," ujar Revalino Tobing, Ketua HPI.

Setiap kelompok pengunjung juga didampingi oleh satu orang tour guide dari Himpunan Pramuwisata Indonesia (HPI) di bawah Dinas Pariwisata dan Kebudayaan DKI Jakarta. Ada tiga orang yang bertugas mendampingi dan menjelaskan ruangan-ruangan Balai Kota yang dibuka. Mereka menjelaskan dengan detail kepada para pengunjung.

Revalino mengatakan, dari awal masuk hingga keluar, waktu yang dibutuhkan pengunjung sekitar 15 menit. Dengan demikian, mereka pun bisa bergantian dengan pengunjung lainnya. Usai keluar, pengunjung juga bisa langsung berwisata kuliner. Para pedagang menjajakan dagangannya di selasar.

Mereka yang ingin menikmati pertunjukkan musik juga melihatnya langsung di depan Gedung Blok G Balai Kota. Mereka duduk di tangga Gedung Blok G sambil menonton pertunjukkan musik di koridor kecil di depan gedung tersebut.

Selain itu, di halaman Gedung Blok G juga disediakan bangku taman untuk duduk-duduk para pengunjung. Termasuk juga ada mobil training unit kejuruan teknik pendingin dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi DKI Jakarta untuk pelatihan gratis bagi warga yang tertarik di dunia perbengkelan, serta mobil perpustakaan keliling.

Pengunjung yang datang juga tampak menyadari dengan keberadaan dirinya. Hal tersebut tampak dari tidak adanya sampah yang berserakan sekalipun di selasar, tempat kuliner didagangkan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon