Yohannes Nangoi
Jangan Mudah Terkejut dan Gampang Takjub
Selasa, 6 Oktober 2015 | 13:31 WIB
Jalani saja hidup ini seperti air mengalir. Jika terjadi sesuatu, jangan mudah terkejut. Jangan pula gampang merasa takjub. Yang penting adalah bagaimana mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Begitulah Yohannes Nangoi berfilosofi. Filosofi itu tak hanya diterapkan dalam kehidupan pribadinya, tapi juga dalam menjalankan roda perusahaan.
"Dalam berbisnis, tak perlu repot-repot. Semua mengalir saja seperti air. Naik-turunnya bisnis merupakan hal yang lumrah. Kalau penjualan naik terus, jangan takjub. Kalau turun, juga jangan panik. Ojo kagetan, ojo gumunan," kata Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia itu di Jakarta, baru-baru ini.
Yohannes Nangoi adalah satu dari sedikit orang yang paling paham karakter bisnis Isuzu Astra Motor. Selama 15 tahun lebih mengemudikan Isuzu Astra Motor Indonesia, Yohannes tak hanya berhasil membawa pabrikan otomotif itu mampu melalui berbagai rintangan, tapi juga menjadikannya tetap eksis dan tahan banting.
"Target saya sekarang adalah menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor kendaraan komersial negara berkembang," ujar eksekutif kelahiran Semarang, 13 November 1957 itu.
Apa obsesi Yonannes selanjutnya? Mengapa ia lebih suka membaca buku-buku tentang tragedi perusahaan ketimbang kisah-kisah sukses? Benarkah karyawan Isuzu Astra Motor hingga kini belum bangga terhadap perusahaannya? Berikut wawancara dengannya.
Bisa cerita perjalanan karier Anda sebelum di Isuzu?
Saya lulus SMA di Semarang, kemudian kuliah di Bandung, mengambil fakultas teknik sipil. Jadi, semula saya harusnya berhubungan dengan bangunan atau konstruksi. Ketika selesai kuliah, saya malah masuk ke industri teknologi informasi (TI) yang saat itu baru berkembang. Tepatnya pada 1982, saya bergabung di International Business Machines Corporation (IBM).
Saya menemukan dunia pemasaran (marketing) yang sangat menantang. Saat itu, IBM merupakan marketing organization yang cukup disegani dan tidak ada kegiatan manufaktur di Indonesia. Hampir 10 tahun saya meniti karier di sana.
Tapi lama-kelamaan, saya melihat tantangannya agak berkurang. Soalnya, kami hanya melakukan kegiatan marketing yang setiap tahunnya terus menaikkan target penjualan, tapi di sisi lainnya kurang berkembang. Misalnya dalam pembuatan iklan, harus mengikuti standar dari Amerika. Mau bikin produk baru juga tidak mungkin, karena tidak ada kegiatan produksi di sini.
Kemudian saya mendapatkan tantangan baru di Astra. Pada 1990, saya mulai bekerja di Isuzu. Di sini saya melihat lebih banyak tantangannya karena bukan sekadar marketing, tapi perusahaan yang penuh dan lengkap karena ada pengembangan produk, manufacturing, marketing, dan sales. Jiwa saya cocok di sini. Saya masuk ke Isuzu sebagai senior general manager dan setahun kemudian menjadi direktur.
Setelah bekerja di Isuzu?
Dengan bangga saya katakan Isuzu berkembang seperti yang saya inginkan, misalnya dalam pembuatan iklan. Waktu itu kan membuat iklan juga harus punya kreativitas. Di sana saya menemukan dunia saya, yakni marketing dan lain-lainnya. Jadi, lebih komplit.
Yang paling menantang selama berkarier di Isuzu?
Pada 1998 terjadi krisis, dunia otomotif pun berubah karena kompetitor mulai berkonsentrasi pada kendaraan lebih kecil. Kekuatan Isuzu unfortunately memang pada commercial vehicle. Isuzu besar di dunia karena truk, bukan karena Panther. Panther kan hanya diproduksi lokal di Indonesia.
Tetapi saya coba datang ke prinsipal Jepang beberapa kali, mencoba diskusi bagaimana caranya membuat kendaraan yang lebih kecil dan cocok untuk Indonesia. Tetapi kelihatannya pihak Jepang menyerah karena knowledge-nya tidak di sana, mereka keahliannya di truk.
Kemudian saya lihat Isuzu harus banting setir karena prinsipal mainnya di truk, sedangkan di Indonesia konsentrasinya pada sport utility vehicle (SUV), seperti Panther. Artinya kan tidak sejalan. Kalau tidak sejalan, nanti berkembangnya susah. Dari sana, saya bilang bahwa Isuzu akan banting setir. Kami tetap berjualan Panther, tapi truk harus diperkuat mati-matian, karena Isuzu nomor satu di situ.
Setelah memutuskan fokus pada kendaraan komersial, kultur juga harus diubah, begitu pula infrastruktur. Misalnya kalau showroom Panther biasanya di dalam kota, sedangkan truk tidak mungkin karena pasarnya kebanyakan berada di wilayah pinggiran. Jadi, dari awal, infrastruktur harus diubah, cara berpikir manusianya pun harus diubah.
Ibaratnya ketika menjual Panther dengan maksimum tujuh penumpang, berarti tidak mungkin diisi 10 penumpang. Tapi kalau truk, penggunanya berbeda. Menjual truk untuk angkutan pasir dan rokok keretek, akan berbeda kebutuhannya. Satunya berat dan kotor, yang satu lagi kering dan bersih. Jalur tempuhnya juga mungkin berbeda.
Di sini kami harus mendidik SDM-nya supaya mengerti bagaimana kebutuhan kendaraan komersial. Perbedaan berikutnya, bila rusak, Panther akan masuk bengkel. Memang konsumen tidak senang. Tapi dia mau menunggu hingga selesai, misalnya dalam lima jam. Kalau truk tidak bisa begitu. Jadi, lebih susah menyervis kendaraan komersial. Sebab, kalau menunggu terlalu lama, kendaraannya tidak bisa dipakai untuk mencari uang.
Kedua, yang punya sedan tidak mungkin ke gunung atau hutan. Tapi truk justru banyak dipakai di hutan. Kalau truk rusak di tengah hutan bagaimana? Maka jaringan harus lebih kuat. Di sinilah saya mengubah semuanya. Servis mobil mewah menurut saya lebih gampang. Misalnya orang punya Rolls Royce, pasti dia punya lima mobil yang lain. Kalau rusak, dia bisa pakai yang lain.
Servis benar-benar harus dikuasai, penjualan sparepart di 353 kota harus dilayani. Produk yang masuk dari Jepang juga terlalu idealis, truk di Indonesia maksimum gross vehicle weight (GVW) 25 ton, maksudnya berat kendaraan 10 ton dan berat muatan 15 ton. Di lapangan, kenyataannya beratnya 50 ton. Berat kendaraan tetap 10 ton, tapi berat muatannya 40 ton, itu yang terjadi. Kalau dibuat sesuai standar Jepang, hancurlah kaki-kakinya. Maka kami harus mengubah semuanya, harus disesuaikan dengan kondisi Indonesia.
Saya malah senang dengan tantangannya. Dulu, di IBM tantangan cuma satu, jualan-jualan saja. Kalau yang ini lebih luas. Sesudah produknya jadi, barulah dibikin iklannya supaya cocok, lalu sales-nya dimonitor, after sales-nya juga dimonitor. Rangkaiannya lebih lengkap.
Saya bahagia dalam hidup ini diberi kesempatan membesarkan Isuzu. Dari belum punya kantor sendiri, kemudian membangun kantor ini. Kami benar-benar gotong-royong untuk membangun perusahaan. Setelah perusahaan makin besar, kami bikin pabrik baru. Itu juga luar biasa, tidak terbayangkan sebelumnya kami bisa berinvestasi Rp 1,3 triliun untuk membangun pabrik baru.
Target Isuzu selanjutnya?
Sekarang target saya adalah menjadikan Indonesia sebagai basis ekspor kendaraan komersial negara berkembang. Kenapa negara berkembang, karena negara maju dan berkembang kebutuhan kendaraan komersialnya sangat berbeda. Negara maju sudah jelas, truknya bermuatan sekian dan akan diisi tepat. Kalau di negara berkembang seperti Indonesia, jalannya rusak, banjir, solarnya jelek, mereka lebih mengutamakan muatan dan beroperasi 24 jam sehari. Jadi, kendaraannya harus benar-benar tahan banting.
Selain itu angan-angan saya, Isuzu Indonesia akan menjadi kebanggaan negara ini sebagai basis ekspor truk ke mancanegara, terutama negara-negara berkembang. Saat ini belum terjadi, kami baru mengekspor beberapa Panther ke Filipina. Truknya belum siap, mungkin dua tahun lagi kami baru siap.
Berarti produk-produk Isuzu saat ini akan dipertahankan?
Ya. Setiap merek memiliki ciri khas sendiri-sendiri. Isuzu juga berbeda dengan kompetitor karena punya ciri khas masing-masing. Kelebihan ini yang mau ditonjolkan, sehingga produk kami mampu bersaing di pasar domestik dan internasional.
Strategi Anda menghadapi situasi sulit saat ini?
Kalau saya simpel. Dalam berbisnis, semua mengalir saja seperti air. Naik dan turunnya bisnis merupakan hal yang lumrah. Kalau penjualan sedang naik terus, jangan kaget. Kalau turun, juga jangan panik. Saya perhatikan, dalam lima tahun pasti akan turun sedikit, baru nanti naik lagi.
Misalnya saat krisis moneter 1998, industri otomotif nasional hancur. Penjualan nasional hanya sekitar 200.000 unit. Pada 1990-an, total pasar mobil domestik tidak sampai 500.000 unit. Tahun lalu, penjualan mobil di pasar domestik mencapai 1,2 juta unit. Tahun ini jelek-jeleknya 1 juta unit. Semua ribut karena investasinya sudah telanjur besar. Produksi kita sudah besar, sehingga kalau tidak ada yang diproduksi akan kosong melompong. Ini yang harus dibenahi.
Menghadapi semua itu, saya berpegang pada adat Jawa, yaitu ojo kagetan, ojo gumunan (jangan mudah kaget, jangan mudah takjub). Dalam filosofi Jawa, ojo kagetan antara lain mengandung makna bahwa kejadian di dunia telah tercatat dalam skenario Tuhan, sehingga manusia harus berserah diri, tidak besar kepala dalam menyikapi keberhasilan, dan tidak putus asa dalam menghadapi kegagalan.
Adapun ojo gumunan bermakna bahwa segala peristiwa hidup harus disikapi dengan bijak, arif, namun tetap waspada, tidak larut pada hal-hal yang terlihat indah, tidak tamak dan serakah, namun tidak gampang kecewa. Orang yang gampang takjub akan mudah terpengaruh, gampang diperdaya. Ketika kenyataan tak sesuai harapan, ia akan kecewa, bahkan membenci sesuatu yang awalnya dikagumi.
Jadi, jalani aja. Saya selalu bilang saat market turun, itu merupakan kesempatan bagi kami untuk bebenah. Jadi, saya siapkan jaringan yang lebih baik sehingga saat mulai naik, kami sudah siap. Saya perhatikan peak-nya pada Juli dan Agustus, penjualan turun. Tetapi saya lihat September belanja pemerintah mulai mengalir. Pemakaian semen dilaporkan naik, berarti pembangunan mulai jalan. Kalau pembangunan jalan berarti butuh angkutan. Pada September, kami lihat penjualan truk mulai merangkak naik, maka kami siapkan dari sekarang.
Indonesia adalah negara besar dengan 250 juta penduduk. Alat angkut merupakan hal yang vital. Tidak ada negara yang tidak menggunakan truk. Negara kecil seperti Singapura saja menggunakan truk, apalagi negara besar sperti Amerika Serikat. Bisnis Isuzu tidak akan mati di Indonesia dan akan tetap punya ruang.
Memangnya truk bisa digantikan pesawat terbang? Semua membutuhkan truk. Naik dan turun bisnis itu normal. Kalau sedang turun, jangan tidur, mari benahi dan siapkan semua.
Gaya kepemimpinan yang Anda terapkan?
Selain ojo kagetan, ojo gumunan, dalam memimpin saya berpegang pada falsafah rumah tangga. Kalau sepasang suami istri keuangannya bagus, anak sekolahnya lancar, ekonomi bagus, maka tidak akan ada masalah. Tapi begitu suami kehilangan pekerjaan, anak kena masalah di sekolah, uang tidak ada, biasanya berantem.
Jadi, saya selalu bilang, jangan sampai kita ribut karena hal-hal yang tidak signifikan, maksudnya jangan saling menyalahkan. Kita harus bersama-sama membenahinya. Ketika kondisinya susah seperti sekarang, baru kelihatan karakter masing-masing, mana yang mau menang sendiri, mana yang suka menyalahkan orang lain.
Tetapi utamanya teamwork nomor satu. Misalnya marketing dengan finance selalu berantem. Marketing maunya diskon sebesar-besarnya, finance maunya diskon sekecil mungkin. Ini harus bergerak bersama. Ibarat menyetir mobil, gas dan rem kan berbeda. Tapi kalau hanya ada salah satu, tidak akan jalan. Teamwork harus solid, jangan saling menyalahkan.
Pintu saya selalu terbuka. Kalau ada masalah, ayo duduk bareng dan bicarakan. Itu semua saya terapkan di Isuzu. Dengan bangga, saya katakan hubungan manajemen dengan pegawai berjalan mulus. Kami punya program dengan ikatan karyawan untuk duduk bersama dan berdiskusi.
Harapan Anda soal ekspor truk?
Paling lama dua tahun lagi kami siap ekspor. Jika kami mengekspor truk, negara akan diuntungkan. Pertama, devisa bertambah. Kedua, penyerapan tenaga kerja lebih baik. Ketiga, pengembangan SDM lebih baik karena bukan hanya berperan sebagai konsumen, tetapi juga mengembangkan kendaraan, sehingga ada transfer pengetahuan dan teknologi.
Ada rencana mengembangan lagi kendaraan penumpang?
Tidak, kendaraan penumpang Isuzu masih tetap diwakili Panther dan Mu-X. Isuzu jadi juara di pasar truk sangat memungkinkan, tetapi bukan di kendaraan penumpang. Bukan berarti kami berhenti, tapi konsentrasi kami tetap ke truk.
Prinsip dan filosofi hidup Anda?
Saya banyak menggunakan falsafah Jawa. Misalnya musuh satu lebih banyak daripada teman 1.000. Jadi, saya jalin relasi sebanyak mungkin, baik di pemerintahan maupun di asosiasi. Hubungan baik sangat penting. Jadi, hindarilah kata-kata yang terlalu menyakitkan hati. Jangan cari musuh.
Kedua, hargailah semua orang. Artinya, kalau kita janji, tepatilah apa pun posisinya. Disiplin merupakan hal paling utama. Tanpa kedisiplinan, semua tidak akan bisa jalan. Tak kalah penting, seperti air mengalir, kita nikmati saja prosesnya.
Ada obsesi lain yang belum tercapai?
Ada, saya ingin orang yang bekerja di Isuzu Astra Motor bangga memakai jaket Isuzu. Banyak perusahaan yang pegawainya bangga menjadi karyawan di perusahaannya. Karyawan Isuzu belum bangga karena masih kalah dari perusahaan lain. Saya ingin orang menjadikan Isuzu sebagai pilihan tempat bekerja dengan reputasi baik. Saya ingin pegawai Isuzu dengan bangga menyatakan "saya pegawai Isuzu".
Kedua, saya ingin pelanggan melihat Isuzu adalah mitra berbisnis, bukan hanya penjual dan pembeli. Otomatis stakeholder juga merasa happy karena perusahaannya sehat. Kami sudah dikenal sebagai perusahaan yang menerapkan good governance, tapi soal kebanggaan karyawan harus mulai dibangun.
Dari mana saja Anda memperoleh inspirasi?
Inspirasi saya peroleh dari membaca buku. Saya mengambil dari sana. Banyak orang membicarakan kesuksesan orang. Misalnya Bill Gates. Tapi saya pikir, memangnya kalau saya contoh Bill Gates, saya bisa menjadi Bill Gates? Tentu tidak.
Saya lebih senang membaca tentang jatuhnya perusahaan, misalnya perusahaan jatuh karena memberikan jaminan pribadi. Saya belajar agar tidak melakukan hal yang sama. Saya belajar dari kejatuhan orang lain dan kejatuhan perusahaan lain. Apa saja kesalahan yang harus dihindari. Ketimbang belajar dari orang sukses, itu malah sulit bagi saya.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Skuad Timnas AS pada Piala Dunia 2026 Akan Diumumkan 26 Mei




