DPR: Jangan Lecehkan Kemampuan Anak Bangsa

Senin, 30 November 2015 | 13:06 WIB
MS
WM
Penulis: Markus Junianto Sihaloho | Editor: WM
Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin (tengah) dan anggota Komisi I Nurul Arifin (kiri) menyampaikan keterangan pers terkait kehadirannya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta.
Wakil Ketua Komisi I TB Hasanuddin (tengah) dan anggota Komisi I Nurul Arifin (kiri) menyampaikan keterangan pers terkait kehadirannya di Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Jakarta. (Antara/Puspa Perwitasari)

Jakarta - Terkait rencana Pemerintah yang hendak membeli pesawat helikopter kepresidenan dari Italia bermerk Agusta, Anggota Komisi I DPR  Tubagus Hasanuddin kembali mengingatkan bahwa lebih baik pembelian itu dibatalkan. Karena produk sejenis sudah bisa dibuat oleh PT Dirgantara Indonesia (DI) yang berharga lebih murah.

"Jangan lecehkan kemampuan anak bangsa," tegas Hasanuddin, Senin (30/11).

Sebagai perbandingan, pesawat heli Super Puma buatan PT DI yang kini berubah nama dan tampilan menjadi EC-725 Cougar yang dimiliki TNI AU, sudah digunakan oleh berbagai negara. Seperti Lebanon, Chad, Afganistan, Mali, Libya dan beberapa negara lain sebagai pesawat tempur.

Sedangkan AW 101 buatan Italia itu hanya digunakan di Afghanistan sebagai pesawat transportasi.

Untuk pesawat VVIV EC725 Family buatan PT.DI juga sudah digunakan oleh 32 Kepala Negara, di antaranya Algeria, Malawi, Angola, Mexico, Azerbaijan, Maroko, Brazil, Nepal, Kamerun, Oman, Chile, Panama, China, Singapura, Ekuador, Korea Selatan, Perancis, Spanyol, Gabon, Turki, Georgia, Turkmenistan, Jerman, Arab Saudi, Venezuela, Jepang, Vietnam, Zaire, Kuwait, Zimbabwe, dan sebagainya.

"Sedangkan AW 101 hanya digunakan oleh Kepala Negara dari Turkmenistan, Arab Saudi, Algearia, dan Nigeria," kata politisi PDI-P itu.

Dalam catatan PT DI, sejak tahun 1978, PT DI dibangun untuk menguasai teknologi kedirgantaraan sebagai penunjang kemandirian bangsa di sektor engineering dan manufaktur.

Di era 80-an, PT DI, yang saat itu masih bernama IPTN, bersama CASA melakukan rekayasa engineering pembuatan sayap pesawatnya NASA Airfoil menjadi PTDI Airfoil type NACA653-218. Produk itu sampai dengan hari ini dipakai oleh CN-295 dan telah disertifikasi oleh badan sertifikasi nasional dan Internasional.

Di era 2000, PT DI telah dipercaya dan menjadi pemasok tunggal Rekayasa Manufaktur, Wing Leading-Edges AIRBUS A-380 dan A320, dengan produksi per bulan sekitar 40 set pertipe. "Program pesawat tersebut untuk SpiritAero System-UK yang mana sebagai Tier-1 Supplier AIRBUS Commersial Group," imbuhnya.

Di era saat ini, PT DI bersama LAPAN melakukan Rekayasa Engineering dan Manufaktur pesawat perintis bermuatan 19 penumpang. N-219 secara menyeluruh, dan termasuk rekayasa engineering sayap pesawat terbang dengan memodifikasi NASA Airfoil menjadi PT.DI Airfoil tipe LS(1)-0417MOD.

Karena itulah, Hasanuddin kembali mengingatkan agar para pejabat negara yang meremehkan produk PT DI daan terkesan mendorong pengadaan heli kepresidenan dari Italia tak asal bicara. Ditegaskannya, teknologi yang dimiliki PT DI sudah pantas dan bersaing dengan produk negara lain yang disanjung-sanjung pejabat Indonesia sendiri

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon