PDI-P : Harga Minyak Dunia Naik, Rakyat Dikorbankan
Kamis, 23 Februari 2012 | 21:31 WIB
Jika kenaikan harga minyak dunia rata-rata 10 persen maka pendapatan migas menjadi Rp 3,5 Triliun.
Kenaikan harga minyak dunia pasti memiliki konsekuensi terhadap penerimaan dan pengeluaran negara. Untuk itu, tidak setiap momentum kenaikan BBM menjadi alasan membenarkan sikap pemerintah mendongkrak harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebab selama ini menikmati subsidi adalah rakyat dengan uang yang berasal dari rakyat juga.
Demikian ungkap Arif Budimanta anggota DPR RI dari Fraksi PDI- Perjuangan kepada Beritasatu.com hari ini.
Arif menjelaskan, BBM merupakan komoditas bernilai politis sangat tinggi karena dapat menurunkan atau menaikkan citra pemerintah di mata rakyat. Menurutnya, secara matematis meningkatnya besaran subsidi energi khususnya BBM karena harga minyak dunia naik seharusnya bisa ditanggulangi oleh pemerintah yang masih memiliki Sisa Hasil Penggunaan Anggaran tahun lalu Rp 32,2 triliun.
“Pemerintah harus fair menjelaskan kenaikan harga minyak dunia tidak hanya mengakibatkan naiknya belanja pemerintah khususnya beban subsidi tetapi juga meningkatkan pendapatan migas,” ungkap pria dari Medan Sumatera Utara mengutip laporan Tim Konsorsium Peneliti Perguruan iInggi (UI-UGM-ITB) jika kenaikan harga minyak dunia rata-rata 10 persen maka meningkatkan pendapatan migas Rp 3,5 Triliun.
Politikus ulung kelahiran 15 Maret 1968 ini menambahkan untuk mengatasi kemungkinan defisit, pemerintah dapat melakukan penghematan belanja barang seperti seminar, perjalanan dinas, sosialisasi dan sebagainya. Jika hal ini dilakukan hingga 25 persen, maka sekitar Rp 35 triliun bisa direalokasikan untuk anggaran pendidikan.
“Jangan sampai ketidakmampuan pemerintah mengelola sumber daya nasional dan keuangan negara, kemudian rakyat dikorbankan,” ajak Arif.
Kenaikan harga minyak dunia pasti memiliki konsekuensi terhadap penerimaan dan pengeluaran negara. Untuk itu, tidak setiap momentum kenaikan BBM menjadi alasan membenarkan sikap pemerintah mendongkrak harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebab selama ini menikmati subsidi adalah rakyat dengan uang yang berasal dari rakyat juga.
Demikian ungkap Arif Budimanta anggota DPR RI dari Fraksi PDI- Perjuangan kepada Beritasatu.com hari ini.
Arif menjelaskan, BBM merupakan komoditas bernilai politis sangat tinggi karena dapat menurunkan atau menaikkan citra pemerintah di mata rakyat. Menurutnya, secara matematis meningkatnya besaran subsidi energi khususnya BBM karena harga minyak dunia naik seharusnya bisa ditanggulangi oleh pemerintah yang masih memiliki Sisa Hasil Penggunaan Anggaran tahun lalu Rp 32,2 triliun.
“Pemerintah harus fair menjelaskan kenaikan harga minyak dunia tidak hanya mengakibatkan naiknya belanja pemerintah khususnya beban subsidi tetapi juga meningkatkan pendapatan migas,” ungkap pria dari Medan Sumatera Utara mengutip laporan Tim Konsorsium Peneliti Perguruan iInggi (UI-UGM-ITB) jika kenaikan harga minyak dunia rata-rata 10 persen maka meningkatkan pendapatan migas Rp 3,5 Triliun.
Politikus ulung kelahiran 15 Maret 1968 ini menambahkan untuk mengatasi kemungkinan defisit, pemerintah dapat melakukan penghematan belanja barang seperti seminar, perjalanan dinas, sosialisasi dan sebagainya. Jika hal ini dilakukan hingga 25 persen, maka sekitar Rp 35 triliun bisa direalokasikan untuk anggaran pendidikan.
“Jangan sampai ketidakmampuan pemerintah mengelola sumber daya nasional dan keuangan negara, kemudian rakyat dikorbankan,” ajak Arif.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
Bagikan
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
HUKUM & HANKAM
ARTIKEL TERPOPULER
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
SUMATERA UTARA
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




