Tampung Eks-Gafatar, Pramuka Siap Jalankan Revolusi Mental

Jumat, 29 Januari 2016 | 19:58 WIB
YW
B
Penulis: Yosi Winosa | Editor: B1
Sejumlah warga Eks. Gafatar turun dari KRI Teluk Gilimanuk dan dikawal petugas kepolisian saat tiba di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, 25 Januari 2016.
Sejumlah warga Eks. Gafatar turun dari KRI Teluk Gilimanuk dan dikawal petugas kepolisian saat tiba di pelabuhan Tanjung Mas, Semarang, 25 Januari 2016. (Suara Pembaruan/Stefy Thenu)

Jakarta - Ketua Kwartir Nasional Gerakan Pramuka Adhyaksa Dault mengungkapkan, Pramuka siap menjalankan revolusi mental untuk menangkal paham-paham radikal seperti Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dan memberikan pendekatan secara psikologis untuk menangani eks-Gafatar yang saat ini diungsikan di Taman Wiladatika Cibubur.

"Pramuka ini penting untuk anak-anak generasi muda, karena ada dasadarma pramuka. Ini yang kita himbau kepada pemerintah, bahwa jika bicara revolusi mental, pramuka paling siap. Pertanyaannya apakah pemerintah siap bantu kita?" kata dia di Jakarta, Kamis (28/1).

Adhyaksa juga menuturkan, Pramuka harus dipahami secara utuh, sebab pada dasarnya Pramuka mampu menangkal paham-paham tertentu karena memiliki 10 dasar yang disebut Dasa Dharma. Isi dalam Dasa Dharma tersebut mencakup taqwa, cinta, patriot, patuh, rela, rajin, hemat, disiplin, bertanggung jawab, dan suci.

Sementara itu, Adhyaksa menjelaskan, eks-Gafatar harus diperlakukan secara baik dan mendapatkan perhatian lebih secara psikologis untuk memberikan pemahaman bahwasannya mereka adalah bagian dari bangsa Indonesia.

"Gafatar perlu perhatian khusus, takutnya seperti gunung es. Mereka (eks-Gafatar) itu bagian dari bangsa kita yang harus diluruskan, jangan dijauhkan," ujar Mantan Menteri Pemuda dan Olahraga era Kepemimpinan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

Mantan Ketua Umum Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) tersebut juga mengatakan bahwa motivasi eks Gafatar adalah ingin mencari kehidupan yang lebih baik atas dasar adanya kesenjangan, baik secara sosial maupun ekonomi.

Lebih mencengangkan lagi, Adhyaksa mengungkapkan bahwa Gafatar sudah seperti mendirikan sebuah negara, di mana di dalamnya ada bupati hingga menteri. Sementara jumlah anggota secara keseluruhan mencapai 13 ribu. "Ini mesti disadarkan, mereka tidak punya apa-apa lagi. Pengungsi ini sebenarnya yang khusus, dipaksakan karena mereka tidak mau keluar," ujar dia.

Namun demikian, Adhyaksa menyesalkan tindakan yang diambil oleh masyarakat sekitar yang secara anarkis mengusir eks Gafatar dengan membakar pemukiman. Pembakaran yang dilakukan masyarakat tersebut dianggap sebagai luapan kemarahan masyarakat sekitar yang mendapatkan informasi dari media terkait adanya gerakan menyimpang dari Gafatar.

"Cara penanganan mereka yang saya sesalkan, kenapa mereka dibakar, tidak manusiawi seperti itu. Menurut saya, kenapa harus dibakar disuruh keluar, mereka bisa masuk lagi melalui transmigrasi misalnya," kata dia.

Adhyaksa menuturkan saat mendapatkan kesempatan untuk berbicara langsung dengan salah seorang eks-Gafatar ya mengungkapkan bahwa kesenjangan menjadi salah satu alasan bagi orang tersebut untuk bergabung.

"Ada ibu-ibu, saya tanya kenapa tertarik (gabung Gafatar), katanya karena tidak ada ketenangan, liat televisi banyak terjadi keributan dan bunuh-bunuhan, ramai kegaduhan politik dan hukum, kami lari saja, ternyata benar di sana kami dapat ketenangan," kata dia.

Dengan adanya Gafatar tersebut, Adhyaksa mengungkapkan kekhawatiran akan terjadinya lost generation, di mana banyak sekali generasi muda yang mengikuti paham tersebut. Namun demikian, pendekatan dalam menangani kasus tersebut harus dilakukan secara hati-hati, karena Gafatar bukanlah sebuah paham yang mengedepankan isu agama.

"Majelis ulama juga harus hati-hati mengeluarkan fatwa, karena mereka ini bukan penganut aliran sesat, tetapi mereka ini adalah ormas, bukan organisasi keagamaan," kata dia.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon