Bermula di Camacari, Otoritas Minta Bantuan Tangani Virus Zika

Senin, 1 Februari 2016 | 00:44 WIB
HA
B
Penulis: Happy Amanda Amalia | Editor: B1
Otoritas kesehatan Brasil melakukan pengasapan di Stadion Rio.
Otoritas kesehatan Brasil melakukan pengasapan di Stadion Rio. (AP)

Camacari – Camacari sedang dilanda kekacauan akibat virus Zika. Seluruh rumah sakit di kota yang terletak di wilayah Bahia, Brasil, dipenuhi oleh orang-orang yang sakit dan penasaran ingin tahu apa penyakit dideritanya. Bahkan para pasien tersebut tidak menduga akan menjadi yang pertama terkena dalam kasus virus Zika di Brasil.

Menurut data, pada April 2015, rumah sakit-rumah sakit di kota ini dibanjiri 200.00 orang yang sakit.

Pada saat itu, Carlos Bandeira, dokter di Rumah Sakit Santa Helena, menduga sindrom tersebut sangat mendesak untuk diidentifikasi, sehingga dirinya menghubungi Gubio Soares, seorang ahli virus yang dikenalnya di Federal University of Bahia.

"Pada saat itu, ada begitu banyak kasus. Permintaan untuk mengidentifikasi virus ditujukan kepada Soares, benar-benar untuk memohon bantuan," kenang Bandeira, Minggu (31/1).

Bandeira menambahkan, jika dilihat dari gejala-gejala dan penularannya yang eksplosif – ada seluruh bangunan yang penuh dengan orang sakit maka mereka mengangap penyakit itu adalah arbovirus, nama generik untuk virus yang ditularkan oleh serangga atau hewan lain, seperti demam berdarah atau chikungunya.

Bahkan dalam laboratorium di Institut Ilmu Kesehatan universitas, Soares dan rekannya Silvia Sardi memfokuskan pada 20 contoh yang diperoleh dari pasien, di Camacari.

Hasil penelitian ditegaskan bahwa itu adalah Zika – yang pertama kali diidentifikasi pada 1974 di Afrika – dan telah muncul di pulau-pulau Pasifik, pada 2007 dan 2013, namun dengan dampak terbatas.

"Saya telah membaca studi-studi menarik tentang Zika. Sejalan dengan hal itu, saya melihat gambar-gambar orang yang terinfeksi virus. Saya membahas ini dengan Silvia Sardi, kami melakukan tes dan hasilnya tak diragukan lagi. Itulah bagaimana kami mengidentifikasi pertamakalinya di Brasil," katanya.

Temuan Zika itu terjadi pada 28 April 2015. Keesokan harinya para pejabat kesehatan Brasil menyampaikan hasil temuan kepada masyarakat.

Virus Zika pertama kali muncul di awal 2015 di kota tersebut. Warga pun dibuat cemas dan bertanya-tanya pada diri mereka sendiri tentang virus ini – apakah virus Zika sejenis demam berdarah? atau reaksi alergi terhadap air yang terkontaminasi?

Namun orang-orang menyebutnya sebagai penyakit misterius, sementara itu laporan medis menyebut sebagai sindrom eczematous yang belum ditetapkan. Laporan mencatatkan adanya gejala iritasi kulit yang terkait dengan virus tersebut.

Di sisi lain, dari Brasil, virus ini telah menyebar cepat melalui Amerika. Virus tersebut diyakini sudah tiba di Negeri Samba selama pelaksanaan Piala Dunia pada pertengahan 2014. Kasus pertamanya baru dinyatakan kemudian terjadi di negara bagian Rio Grande do Norte.

Para peneliti pun masih menduga-duga, apakah virus ini bertanggungjawab atas lonjakan kasus microcephaly - bayi yang dilahirkan dengan ukuran otak dan kepala lebih kecil.

Setahun setelah wabah yang merebak di Brasil, Zika masih menjadi sebuah misteri, tanpa diketahui kapan ditemukan vaksinnya, sementara itu sekarang banyak negara yang merasakan dampaknya.

"Dua anak saya dan saya sendiri menderita sakit. Di lingkungan saya, hampir semua orang terinfeksi," ungkap Vanessa Machado dos Santos, yang bertempat tinggal sekitar 50 kilometer dari Salvador, di bagian timur laut wilayah Bahia, kepada AFP, Minggu.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon