YPPH Bangun Lebih Banyak Sekolah di Perbatasan

Jumat, 12 Februari 2016 | 14:57 WIB
DG
FB
Penulis: Dewi Gustiana | Editor: FMB

Tangerang - Yayasan Pendidikan Pelita Harapan (YPPH) akan membangun lebih banyak sekolah sekolah umum, mulai taman kanak-kanak hingga sekolah menengah atas di daerah perbatasan. Pembangunan sekolah-sekolah ini sangat penting karena menjaga integritas bangsa dengan meningkatkan sumber daya manusia di daerah perbatasan.

Hal tersebut disampaikan Rektor Universitas Pelita Harapan (UPH) Jonathan L Parapak yang mewakili YPPH seusai penandatanganan kerja sama dengan Ketua Sinode Gereja Masehi Injili Sangihe Talaud (GMIST), pendeta Welmi Bogar Salindeho dan Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe, Hironimus Rompas Makagansa di kampus UPH, Karawaci, Tangerang, Banten, Kamis (11/2). YPPH melakukan penandatanganan kerja sama tersebut agar Sekolah Lentera Harapan (SLH) dapat beroperasi mulai Juli 2016.

"Kami ingin menjadi berkat bagi bangsa melalui pendidikan dan kesehatan. Pembagunan sekolah menjadi bagian penting bagaimana kita sebagai institusi pendidikan bisa berkontribusi di daerah terpencil," ujar Jonathan Parapak.

Tahun ini YPPH membangun 10 sekolah lagi di perbatasan, antara lain di perbatasan Papua dengan Papua Nugini, di Pulau Rote berbatasan dengan Australia, di Bangka Belitung berbatasan dengan Singapura, serta di Labuan Bajo. Tahun depan juga dibangun di Singkawang, Tarakan, dan beberapa tempat di daerah perbatasan lainnya. Total sekolah yang sudah dibangun YPPH sebanyak 85 sekolah. Sekolah yang dibangun di Kabupaten Sangihe, Sulawesi Utara, diberi nama Sekolah Lentera Harapan.

Sekolah yang dibangun, kata Jonathan Parapak, adalah sekolah umum, karena masyarakat masih membutuhkan banyak ahli di berbagai bidang, sehingga bisa setara dengan daerah lain. Namun, dia mengimbau pemerintah daerah untuk bersama memperbanyak sekolah kejuruan.

Menurutnya, masyarakat perbatasan sangat antusias menyambut kehadiran sekolah-sekolah di daerah mereka. Apalagi dalam waktu bersamaan diadakan juga seleksi guru dan perawat untuk dididik di kampus UPH dengan gratis. Mereka nanti akan mengabdi kembali di daerah asal atau sesuai panggilan masing-masing. Semua sekolah yang dibangun mendapat subsidi dari YPPH.

"Kita menyediakan beasiswa bagi siswa yang tidak mampu, Ini kerja bukan untuk mencari uang, tetapi untuk pelayanan bersama dan berharap bisa menjadi contoh banyak orang," ujarnya.

Sementara itu Hulman Pasaribu, ketua Yayasan Pendidikan Kristen GMIST mengatakan di daerahnya infrastruktur pendidikan cukup memadai, tetapi sumber daya manusia (SDM) sangat terbatas. Peningkatan kualitas SDM sangat penting mengingat daerahnya berbatasan dengan Filipina.

"Jangan sampai kita diperdaya negara tetangga dalam masalah perikanan. Kapal bisa saja bendera Indonesia, nelayannya Indonesia, tetapi yang punya ternyata asing. Kita jangan sampai diperdaya karena SDM kita tidak mampu," ujarnya.

Dia juga menyebut kualitas pendidikan di daerah perbatasan sangat tertinggal. Jangankan secara nasional, di tingkat provinsi saja jauh tertinggal. Padahal anak-anak di perbatasan cukup cerdas karena sejak kecil mereka mendapat asupan nutrisi yang bagus.

Sekitar 95 persen wilayah Kepulauan Sangihe adalah laut, sisanya 5 persen berupa daratan yang terdiri dari 105 pulau. Dari jumlah tersebut, hanya 26 pulau yang dihuni. Pulau terbesar adalah Tahuna yang berpenduduk sekitar 18.000 jiwa.

"Potensi ada tinggal kita memperkuat sumber daya manusianya saja," ujar Hulman

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon