5 Tren Utama Lanskap Teknologi Informasi di Asia Pasifik

Sabtu, 27 Februari 2016 | 18:26 WIB
FH
FH
Penulis: Feriawan Hidayat | Editor: FER
Global Chief Technology Officer Hitachi Data Systems (HDS) Asia Pasifik, Hu Yoshida, tengah memaparkan tentang tren digitalisasi di kawasan Asia Pasifik
Global Chief Technology Officer Hitachi Data Systems (HDS) Asia Pasifik, Hu Yoshida, tengah memaparkan tentang tren digitalisasi di kawasan Asia Pasifik (Istimewa)

Jakarta - Hitachi Data Systems Corporation (HDS), merilis prediksi bisnis dan teknologi untuk kawasan Asia Pasifik tahun 2016. Global Chief Technology Officer Hitachi Data Systems (HDS) Asia Pasifik, Hu Yoshida, banyak perusahaan akan mengalami transformasi digital di tahun depan, dalam rangka meningkatkan serangkaian fungsi teknologi dan non teknologi.

"Transformasi digital menjadi isu organisasi. CIO bukan hanya posisi yang memperjuangkan perubahan digital, namun seluruh pemimpin divisi dari seluruh fungsi bisnis juga turut memperjuangkan perubahan ke ranah digital," jelas Hu Yoshida.

Menurut Hu Yoshida, bakal ada lima tren utama yang akan membentuk lanskap Teknologi Informasi (TI) dan bisnis di Asia Pasifik pada tahun 2016, yaitu transformasi digital, kota pintar, cross modal TI, multicloud, dan terbatasnya keterampilan.

"Praktek kerja akan sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Perusahaan perlu mencari cara memanfaatkan fenomena ini," jelas Hu Yoshida.

Perusahaan Tradisional Berubah Menjadi Digital Native

Menurut Yoahida, para CIO percaya bahwa aliran pendapatan perusahaan akan lebih banyak yang bersumber dari jalur digital. Menurut laporan Gartner CIO Agenda Insights, tahun lalu hanya ada 16 persen CIO yang berharap untuk mendapatkan aliran pendapatan bisnis melalui jalur digital. Namun, tahun ini angka ini meningkat lebih dari dua kali lipat, menjadi 37 persen.

"Fakta ini menunjukkan bahwa inisiatif digital bukan hanya datang dari CIO, namun dari seluruh fungsi bisnis yang juga turut menciptakan platform digital dan mempekerjakan digital native," kaya Yoshida.

Kota Pintar (Smart City)

Kota pintar (smart city) telah menjadi topik hangat beberapa waktu terakhir ini di Asia Pasifik, dimana banyak negara di Asia Pasifik juga menggulirkan inisiatif mereka untuk menjawab tantangan keamanan publik hingga isu transportasi.

Perusahaan pintar akan menjadi katalis untuk membantu realisasi kota pintar, seiring dengan dibukanya peluang dari Pemerintah dalam bentuk berbagai macam inisiatif, seperti Digital India, Smart Nation Singapore, dan Digital China. Menurut Navigant Research, peluang bisnis bagi perusahaan di sektor terkait sangat besar, dengan investasi tahunan kota pintar di bidang teknologi yang dapat mencapai empat kali lipat hingga US$ 11,3 miliar pada tahun 2023.

Penyatuan Model Operasional

Saat ini, ada dua model yang dapat diadopsi organisasi TI untuk menjawab kebutuhan perusahaan digital. Untuk model pertama, aplikasi sistem pencatatan tradisional seperti sistem CRM dan e-Commerce. Sistem ini dibangun di atas prediksi, akurasi, dan ketersediaan, sesuai dengan data sensitif yang dimiliki.

Sedangkan model kedua, sistem insight bersifat lebih ekploratif, seperti analitik big data. Sistem ini memberikan perspektif mengenai apa yang terjadi di dalam bisnis, sehingga pengguna dapat menguji beberapa hipotesa dengan menggunakan beberapa lapisan data. Sistem ini lebih tangkas dan cepat, sehingga organisasi punya kemampuan untuk menguji ide dengan cepat dan biaya terjangkau.

Multicloud Memberi Peluang Bisnis Trans-Regional

Menurut Hu Yoshida, Trans-Pacific Partnership (TPP) berupaya untuk menghadirkan manfaat signifikan di bidang perdagangan ekonomi di wilayah Asia Pasifik. Untuk merealisasikan potensi utuh kesepakatan kemitraan ini, maka investasi di bidang infrastruktur teknologi yang dapat menghubungkan perekonomian akan menjadi hal yang sangat penting.

"Beberapa perusahaan telah meningkatkan kapasitas data center untuk dapat terus memfasilitasi komputasi awan. Perusahaan tersebut juga berinvestasi untuk meningkatkan konektivitas lintas batas dengan kecepatan tinggi. Rute langsung antara daerah utama seperti Asia Tenggara, Australia dan Amerika Serikat juga sedang dibangun," jelas dia.

Perluasan peluang pasar ini, kaya Yoshida, akan berdampak pada bagaimana perusahaan menggunakan cloud dan memperluas opsi yang ada saat ini.

"Dengan 70 persen organisasi yang ada saat ini menggunakan hybrid cloud, dan menerapkan ketentuan TPP untuk melindungi data offshore sekaligus menghindari kewajiban elektronik, maka hal ini akan menciptakan multicloud lintas batas sehingga perusahaan dapat terus berekspansi," jelas Hu Yoshida.

Perburuan Bakat

Menurt Yoshida, ada beberapa faktor yang akan mempengaruhi pasar tenaga kerja teknologi di tahun 2016, sehingga banyak organisasi akan menilik bagaimana mereka akan mengisi kekurangan tenaga kerja untuk tetap dapat berinovasi dan bersaing.

Upaya untuk menjawab terbatasnya tenaga TI, kaya Yoshida, bukan hanya sekedar menghasilkan lebih banyak lulusan. Perusahaan perlu dapat menciptakan daya tarik bagi tenaga muda berbakat sekaligus mencari cara untuk meningkatkan produktivitas mereka sebagai karyawan tetapnya, sehingga perusahaan akan mampu menjembatani keterbatasan tenaga TI dalam jangka panjang.

"Praktek kerja 'Generasi Z' sangat berbeda dengan generasi sebelumnya. Generasi ini diperkirakan akan memiliki rata-rata 17 pekerjaan di dalam hidupnya, sehingga mereka akan membangun berbagai jenis keterampilan yang dapat digunakan di berbagai macam industri selama karir mereka. Perusahaan perlu mencari cara memanfaatkan fenomena ini. Generasi Z lebih termotivasi dengan kontribusi mereka terhadap masyarakat, dibandingkan dengan logo perusahaan mereka," jelas Hu Yoshida.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon