Para Kandidat Presiden AS Harus Dongkrak Perolehan Suara di Super Tuesday 2

Selasa, 15 Maret 2016 | 00:33 WIB
HA
B
Penulis: Happy Amanda Amalia | Editor: B1
Kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Donald Trump membantah pidatonya menciptakan iklim kekerasan.
Kandidat presiden Amerika Serikat (AS) dari Partai Republik, Donald Trump membantah pidatonya menciptakan iklim kekerasan. (AFP Photo/Rhona Wise )

Cincinnati – Para kandidat presiden Amerika Serikat (AS) sepertinya harus segera bergerak cepat di menit-menit terakhir untuk mendongkrak perolehan suara, Senin (14/3) waktu setempat, menjelang uji pemilihan umum (pemilu) yang baru, pada 15 Maret 2016, di mana Donald Trump bersaing untuk merebut puncak teratas nominasi Republik.

Media-media di AS menyebut, Selasa (15/3), sebagai pemilihan pendahuluan atau primary Super Tuesday 2, yakni proses pemungutan suara pendahuluan untuk pemilihan presiden (pilpres) yang akan menampilkan kandidat tunggal dari persaingan antara Partai Demokrat dan Republik di negara-negara bagian besar, Florida, Ohio, Illinois, Missouri dan Carolina Utara.

Sang miliarder, Trump sedang berusaha membangun kepemimpinan yang tak dapat ditaklukan. Namun rivalnya sesama Republik, Senator Texas Ted Cruz, Senator Florida Marco Rubio dan Gubernur Ohio John Kasich merasa lebih yakin dari sebelumnya kalau mereka dapat menghalangi jalannya.

Trump sendiri melakukan kunjungan ke negara-negara bagian delegasi yang makmur, dalam beberapa hari terakhir. Dia juga dihadapkan pada kritikan sehubungan dengan bentrokan yang terjadi pada saat kampanyenya, Jumat (11/3) di Chicago. Banyak yang beranggapan bentrokan itu sebagai konsekuensi alami akibat retorika kampanyenya yang terkenal keras dan kontroversial.

Bahkan tak jarang, Trump melontarkan hinaan yang diarahkan kepada kaum imigran, umat Muslim, warga keturunan Hispanik, dan minoritas lain, kalangan wartawan serta kelompok difabel – yang kerap menimbulkan persetujan riuh dari ribuan partisan.

Namun demikian, seiring dengan kontroversi yang mengitarinya, Trump tampaknya tak terganggu oleh hiruk pikuk kampanye itu, karena hasil jajak pendapat masih menunjukkan bahwa dia dapat terus meluncur menuju nominasi partainya ke babak pemungutan suara terbaru, pada Selasa.

Di sisi lain, pria berusia 69 tahun ini juga menolak pendapat dari siapapun yang menilai retorikanya yang berlebihan telah menciptakan iklim kekerasan. Dia bahkan berbalik menuding kalau para pendukung Bernie Sanders – kandidat dari Demokrat – yang menimbulkan permasalahanan, dan mengancam menanggapinya dengan mengirim para pendukungnya untuk berjaga-jaga di kampanye kandidat Demokrat.

Senator Vermont berusia 74 tahun itu pun berusaha menahan diri dari serangan pribadi dalam kampanye dan menumpahkan kegusarannya dalam acara CNN Demokrat di balai kota, Minggu (13/3), yang terang-terangan menyebut "Donald Trump adalah pembohong patologis".

"Kami tidak pernah, kampanye kami tidak mempercayai dan tidak akan mendorong siapapun untuk mengganggu segalanya," tambah Sanders.

Kecaman juga disampaikan kandidat dari Demokrat, Hillary Clinton: "Sudah jelas bahwa Donald Trump menjalankan kampanye yang sangat sinis dengan mengadu kelompok-kelompok di Amerika satu sama lain. Dia adalah pelaku perdagangan kebencian dan ketakutan."

Bahkan, para rival Trump dari Republik yang ingin menjatuhkannya juga tampak terguncang oleh kekerasan yang terjadi di Chicago, akhir pekan.

Simak berita dan artikel lainnya di Google News

Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu

Bagikan

BERITA LAINNYA

Loading..
ARTIKEL TERPOPULER





Foto Update Icon