Rudi Tavinos
Bermanfaat buat Orang Lain
Selasa, 29 Maret 2016 | 09:29 WIB
Malang melintang di dunia minyak dan gas (migas) mulai dari hulu hingga hilir, di perusahaan lokal hingga asing, menangani hal teknis hingga manajemen, membuat Rudi Tavinos paham benar seluk-beluk bisnis ini. Suatu saat, ego dan nuraninya sebagai anak bangsa terusik ketika banyak pihak menyatakan Indonesia tidak mampu membangun kilang bahan bakar minyak (BBM). Bermodalkan tekad dan semangat meski harus jatuh bangun, bahkan hingga kini, pria kelahiran Banjarmasin, 30 September 1964, itu pun berhasil membangun kilang mini BBM pertama dan satu-satunya di Indonesia.
Bisnis yang digeluti Rudi Tavinos memang tak sepenuhnya mulus. Banyak aral, onak, dan duri, yang mengadang langkahnya. Tetapi Rudi tak pernah patah arang. Apalagi sejak awal ia maklum bahwa bisnis mengolah BBM bukan bisnis yang serbajelas.
"Semua kan diatur pemerintah. Kami hanya bertugas ‘merebus’, tukang masak," tuturnya.
Kegigihan Rudi Tavinos menekuni bisnis pengolahan BBM banyak dilatarbelakangi idealismenya. Ia ingin bisnis tersebut bermanfaat bagi banyak orang dan turut membantu pemerintah dalam membangun ketahanan energi nasional. Itu sebabnya, Rudi tak akan menyerah.
"Ini menyangkut idealisme juga," tegasnya.
Bagaimana sepak terjang Rudi Tavinos dalam bisnis migas? Apa yang membuatnya mampu bertahan? Bagaimana sesungguhnya prospek bisnis pengolahan BBM ke depan? Strategi apa yang ia terapkan? Berikut penuturan lengkap chief executive officer (CEO), pemilik, dan pendiri PT Tri Wahana Universal (TWU) di kantornya, belum lama ini.
Bagaimana perjalanan karier Anda hingga akhirnya terjun ke bisnis pengolahan BBM?
Perjalanan karier saya dimulai dari PT Arun NGL pada 1989 hingga 1996. Selepas kuliah di ITB (Institut Teknologi Bandung), saya coas engineer di sana. Lalu satu tahun di PT Badak NGO, kemudian ke Medco Energy selama tiga tahun. Sewaktu di Medco, usia saya 32 tahun saat dipercaya sebagai senior business development manager.
Menurut saya, ini rezeki. Saya kemudian mendapat kesempatan bekerja di perusahaan Arab Saudi sebagai managing director untuk kawasan Asia Pasifik. Kemudian saya diminta pemerintah untuk membantu PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk (PGN) sebagai komisaris independen selama tiga tahun.
Apa saja pelajaran dan pengalaman yang Anda peroleh dari perusahaan-perusahaan tersebut?
Setiap berkarier di satu tempat, prinsip saya harus mendapat tiga hal, yakni money, knowledge, network. Minimal harus dapat dua hal dari tiga hal itu. Kalau hanya dapat satu, saya pilih keluar dan mencari kesempatan lain. Mungkin ini juga kelemahan saya, karena akhirnya saya kerap pindah kerja.
Di tempat itu banyak sekali pengalaman dan ilmu yang berbeda-beda. Di Arun, saya belajar ilmu migas ala Amerika Serikat (AS). Di Badak NGL, saya menimba ilmu ala Eropa. Di Medco, saya belajar ilmu ala Indonesia. Dari perusahaan Arab Saudi, saya belajar cara berdagang.
Dari sini, saya jadi mengetahui seluk-beluk bisnis trading minyak internasional. Di PGN, saya mendapat tantangan dari pemerintah waktu itu untuk membuat perusahaan yang saat itu masih kecil, menjadi perusahaan go public. Saya kerja dari pagi sampai malam. Seru!
Dari sini, saya belajar bagaimana birokrasi. Alhamdulillah, saya selesaikan semua tugas dengan baik. Bahkan, ketika merasa sudah tidak ada tantangan lagi, saya memutuskan berhenti. Seperti di PGN, walaupun jatah saya lima tahun, pada tahun ketiga saya memutuskan berhenti karena tugas saya sudah selesai.
Semua pekerjaan ini saya jalani dan pelajari secara otodidak. Hingga akhirnya saya memutuskan untuk berbisnis kilang dan mendirikan PT Tri Wahana Universal (TWU). Tetapi di TWU saya tidak akan keluar karena saya pemilik perusahaan ini. Dan, ini menyangkut idealisme juga.
Apa yang membuat Anda tertarik membangun kilang BBM, bukankah ini high risk dan tidak menguntungkan?
Pada dasarnya saya sejak dulu senang berbuat sesuatu yang orang lain belum buat. Saya tidak mau jadi follower. Ini kadang kala yang menjadi kelemahan saya, karena sering berbenturan dengan orang lain yang menganggap ide saya sebagai sesuatu hal yang mustahil.
Bisnis ini ada cerita tersendiri. Pada Mei 2007, negara kita sedang ribut soal kilang BBM. Indonesia disebut-sebut tidak bisa membangun kilang BBM. Bisnis ini juga disebut tidak menguntungkan, sehingga tidak ada yang mau berinvestasi.
Entah kenapa, saya merasa tertantang dan terhina. Saat itu, saya ingin membuktikan anggapan itu semua tidak benar. Saya ingin membangun kilang BBM. Saya merasa mampu. Saya pikir, apa susahnya membuat kilang, dan pasti tidak mahal kalau kita yang desain sendiri.
Saya memang kelewat PD (percaya diri), padahal dulu belum ada pendanaan, belum ada mitra, belum ada perusahaan. Ketika ingin membuat PT (perseroan terbatas), saya bertemu teman saya, Pak Tri. Dia menawari saya menggunakan PT-nya untuk menghemat biaya. Mulailah saya membuat konsep kilang.
Dari mana Anda dapat ide membangun kilang mini BBM?
Sebenarnya saya asal sebut saja dan menamai ini kilang mini, karena memang tidak ada dasarnya kenapa mini. Yang terlintas di kepala saya, karena skalanya lebih kecil, jadi mini. Saya bersyukur pernah bekerja di perusahaan yang berbeda-beda, sehingga saya jadi banyak tahu.
Saya mendesain sendiri, saya juga tahu di mana membeli dengan harga bagus. Bahkan, saat saya mencari lahan untuk kilang, saya turun langsung. Jadi, mengenai kilang ini, saya tahu mulai dari sekrup terkecil.
Dalam perjalanannya, ketika perusahaan ini kesulitan modal, saya bersyukur mendapat mitra yang satu visi, yakni Edwin Soeryadjaya dan Sandiaga Uno. Mereka memahami mimpi saya dan punya cita-cita serta idealis yang sama, yakni membangun kilang mini untuk Indonesia.
Syaratnya, saya harus berkomitmen. Mereka tetap dukung walaupun mereka paham bahwa bisnis ini tidak jelas. Saya katakan bahwa di bisnis ini semua ketetapan berasal dari langit, dalam arti semua diatur pemerintah. Kami hanya bertugas "merebus", tukang masak. Prinsip kami, bisnis ini harus bermanfaat nyata bagi orang banyak. Saya kagum juga masih ada pengusaha seperti ini.
Konsep kepemimpinan yang Anda terapkan di perusahaan?
Menurut saya, kebanyakan pemimpin hanya jago di teori, sedangkan teknis di lapangan tidak menguasai. Itu, menurut saya, salah. Pemimpin yang baik harus tahu konsep plus aplikasi. Saya memperlakukan karyawan seperti murid, teman saya sendiri. Apalagi karyawan di sini rata-rata anak-anak muda yang kritis, rata-rata berusia di bawah 40 tahun. Manajer keuangan di sini usianya 28 tahun.
Berbeda dengan zaman saya yang umumnya patuh menerima perintah, anak-anak muda sekarang berbeda. Apa yang saya jelaskan tidak langsung diterima. Mereka mengecek dulu kebenarannya, tidak ditelan mentah-mentah. Mereka senang berdiskusi dan mencari tahu apa alasan logis di balik setiap tugas. Karena itu, saya sebagai pemimpin juga harus menguasai semua hal.
Memimpin anak muda tentunya harus dengan gaya anak muda. Mereka bebas memanggil saya dengan sebutan apa saja, misalnya Mas, Pak, apa saja. Saya tidak suka dijilat.
Anda optimistis dengan masa depan bisnis ini?
Bisnis ini memang tidak mudah, tapi juga bukan berarti tidak menguntungkan. Bisnis ini bankable. Memang, saat ini perusahaan saya berhenti berproduksi karena menunggu keputusan pemerintah mengenai harga dan alokasi crude (minyak mentah). Kami tetap percaya pemerintah akan mendukung bisnis ini. Buktinya, pemerintah punya program nasional yang akan membangun delapan kilang mini BBM. Itu kan bagus. Artinya, pemerintah memahami pentingnya keberadaan kilang mini bagi ketahanan energi nasional. Jadi, kita tunggu saja.
Anda cukup puas dengan semua pencapaian ini?
Sejujurnya saya tidak pernah puas. Saya selalu mencari sesuatu yang baru dan menantang. Selain sibuk di TWU, saya mengajar di ITB. Dasarnya saya suka mengajar, dan itu saya lakukan free of charge karena welcome untuk berbagi ilmu. Siapa pun yang meminta saya mengajar, jika waktunya memungkinkan dan saya bisa, pasti saya mau, termasuk berbagi ilmu dengan para wartawan.
Mengajar itu bukan selalu di ruang kelas. Saya juga ajari masyarakat di sekitar kilang Bojonegoro ini untuk bisa berbisnis. Memberi mereka motivasi untuk sukses. Bagi saya, mengobrol berbagi ilmu dengan masyarakat sampai jam 12 malam, itu sudah biasa.
Apa lagi yang ingin Anda capai?
Usia saya sudah 55 tahun. Cita-cita saya bukan ingin menjadi konglomerat, saya juga tidak suka politik, sehingga saya tidak mungkin menjadi politikus. Cita-cita saya adalah ingin memberikan banyak manfaat kepada masyarakat luas.
Dukungan keluarga terhadap karier Anda selama ini?
Dukungan keluarga, terutama istri, luar biasa. Istri saya sebagai ibu rumah tangga menerima kesibukan saya yang jarang berada di rumah. Untuk anak-anak, saya percayakan sepenuhnya kepada istri karena saya tidak bisa setiap saat menemani. Namun saat ini, dengan adanya teknologi, semua semakin mudah. Saya bisa setiap saat melakukan video call dengan istri dan anak-anak. Menurut saya, pertemuan fisik yang penting adalah kualitas.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




