Penyelidikan Korupsi Berdampak Penangguhan Bantuan ke Suriah
Selasa, 10 Mei 2016 | 23:28 WIB
Washington – Pemerintah Amerika Serikat (AS) telah menangguhkan pendanaan sebesar jutaan dolar kepada beberapa LSM yang menyediakan bantuan kepada Suriah. Hal tersebut dilakukan setelah diketahui bahwa para LSM secara sistematis harus membayar lebih besar ke perusahaan-perusahaan Turki untuk bahan-bahan pokok ditambah dengan tindak kolusi dari beberapa staf LSM.
Auditor pemerintah independen US Agency for International Development's (USAID) mengatakan itulah alasan dasar yang mengakibatkan penangguhan 14 LSM dan perseorangan yang terlibat dengan program bantuan dari Turki.
Kantor Inspektur Jenderal USAID menegaskan 14 LSM dan perseorangan telah ditangguhkan. "Sebagai hasil dari penangguhan maka pihak-pihak itu tidak lagi mendapat penghargaan dari Pemerintah AS," bunyi pernyataan.
Disebutkan dalam pernyataan, Jumat (6/5), di antara yang terungkap adalah jaringan vendor komersial, parastaf LSM, dan lainnya yang telah berkolusi terlibat dalam upaya memanipulasi dan melakukan berbagai skema penyuapan sehubungan dengan kontrak-kontrak pemberian bantuan kemanusiaan di Suriah.
Kendati USAID tidak menyebutkan salah satu badan amal, namun di antara LSM yang terkena dampaknya adalah International Medical Corps (IMC), Irish charity Goal dan International Rescue Committee (IRC), yang dipimpin oleh mantan Menteri Luar Negeri Inggris David Miliband. Demikian menurut sumber di badan kemanusiaan kepada AFP.
Adapun semua tudingan itu berhubungan dengan pembelian barang-barang di Turki, dengan kelebihan pembayaran LSM secara sistematis.
Menurut seorang pejabat senior di USAID, di antara masalah-masalah terbesar adalah substitusi produk – di mana perusahaan-perusahaan swasta Turki menjual barang-barang ke LSM-LSM dengan harga yang lebih tinggi dan kemudian memberikan barang-barang berkualitas lebih murah dan menyembunyikan perbedaan harganya
"Barang-barang tersebut meliputi selimut dan bahan-bahan pokok lainnya ntuk warga Suriah," kata sumber di badan kemanusiaan.
Selain itu, para LSM dituding gagal memantau pengadaan barang-barang mereka. Bahkan beberapa staf LSM dituduh terlibat langsung dalam penetapan harga yang lebih mahal.
IMC menegaskan kepada AFP bahwa mereka telah memecat sejumlah staf setelah tudingan itu muncul.
"Apa yang terlihat jelas dalam proses investigasi ini adalah aksi itu merupakan bentuk operasi yang cukup canggih," ujar pejabat USAID.
Menurut lembaga Financial Tracking Service, yang ada di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), pada 2015, Amerika Serikat memberikan donasi sebesar US$ 397 juta kepada kelompok-kelompok bantuan yang bekerja di Suriah.
Namun USAID mengatakan tidak mengetahui berapa banyak bantuan yang ditangguhkan. Akan tetapi, menurut sumber dalam salah satu LSM, nilainya mencapai angka puluhan juta dolar.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Seusai Divonis 18 Tahun, Nadiem Makarim Didukung Artis-Influencer




