Fakta dan Mitos Kontrasepsi Hormonal
Selasa, 24 Mei 2016 | 16:13 WIB
Jakarta - Kontrasepsi hormonal menjadi salah satu pilihan dalam merencanakan kehamilan. Namun, banyaknya mitos yang berkembang di masyarakat, membuat sebagian besar perempuan enggan menggunakannya.
Saat ini, 9 dari 10 perempuan di dunia menggunakan kontrasepsi modern. Metode kontrasepsi modern termasuk sterilisasi, alat kontrasepsi dalam rahim (AKDR), kondom dan kontrasepsi hormonal lainnya. Pil menempati urutan ke tiga sebagai metode kontrasepsi paling umum di dunia saat ini dimana memiliki distribusi geografis terluas dibanding kontrasepsi lainnya.
Khusus untuk kawasan Asia sendiri, sebanyak 6,4 persen perempuan menggunakan pil kontrasepsi dan di Indonesia sebesar 13,6 persen. Sementara, penggunaan pil tertinggi untuk wilayah Asia Tenggara ditempati oleh Thailand dengan angka sebesar 35 persen.
Dokter spesialis kandungan dan kebidanan RS Mitra Keluarga Kelapa Gading, dr Boy Abidin SpOG, mengatakan, faktor utama penyebab masih rendahnya penggunaan pil hormonal sebagai kontrasepsi adalah
masih adanya mitos yang ada terkait kontra hormonal.
"Hal itu dikarenakan, banyak perempuan takut menggunakan pil kontrasepsi hormonal karena takut sulit hamil, gemuk, dan kanker. Padahal hal tersebut tidak benar," ungkap dia di Jakarta, Selasa (24/5).
Menurut penelitian yang telah dilakukan, kata dr Boy, penggunaan pil kontrasepsi hormonal tidak menyebabkan efek negatif pada tingkat kesuburan.
"Juga tidaklah benar bila semua pil kontrasepsi menyebabkan penambahan berat badan. Penelitian ilmiah menunjukkan bahwa penambahan berat badan bukan disebabkan oleh pemakaian pil kontrasepsi, namun karena faktor usia dan pola diet serta aktifitas fisik," tambahnya.
Penggunaan pil kontrasepsi, kata dr Boy, dapat menurunkan risiko kanker ovarium dan endometrial. Data menunjukkan, risiko kanker menurun pada perempuan yang menggunakan pil kontrasepsi untuk jangka waktu panjang. Penelitian juga menunjukkan bahwa adanya penurunan risiko kanker endometrial sebesar 50 persen pada perempuan yang menggunakan pil kontrasepsi.
"Efek non kontrasepsi lainnya termasuk pengobatan gejala emosional dan fisik premenstrual dysphoric disorder (PMDD), bentuk yang paling parah dari sindrom pramenstruasi (PMS)," paparnya.
Lebih lanjut dr Boy menjelaskan, pil kontrasepsi kombinasi merupakan metode kontrasepsi yang sangat dapat diandalkan untuk menghindari kehamilan, bila diminum secara konsisten dengan jadwal yang tetap dan benar. Tingkat kegagalannya kurang dari 1 dari 1000. Namun, banyak perempuan berpikir bahwa minum pil kontrasepsi itu repot karena sering lupa.
"Bagaimana kalau lupa? lupa dalam rentang waktu 12 jam, segera setelah ingat, minum pil yang terlupa dan pil yang berikutnya. Artinya minum sekaligus dua pil dalam satu hari," tutup dia.
Simak berita dan artikel lainnya di Google News
Ikuti yang terbaru di WhatsApp Channel Beritasatu
BERITA LAINNYA
Kapolda Metro Jaya Bintang 3 Sesuai Arahan Prabowo
1
2
Kemenkomdigi: Kami Akan Terus Perang Melawan Judi Online!
5
B-FILES
Skuad Timnas AS pada Piala Dunia 2026 Akan Diumumkan 26 Mei




